Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • 3 Penumpang KRL Positif Virus Corona, Ini Aturan Naik Transportasi Umum!

3 Penumpang KRL Positif Virus Corona, Ini Aturan Naik Transportasi Umum!

Bikin khawatir karena ada penumpang KRL yang positif terinfeksi virus corona, lantas, apa yang mesti dilakukan untuk mencegah penularan virus tersebut?

Di masa pandemi virus corona ini, tak semua orang bisa bekerja dari rumah meski sebenarnya itulah yang dianjurkan untuk mencegah penyebaran COVID-19.  Sebagian dari mereka masih harus ke lokasi bekerja, bahkan menggunakan kendaraan umum, salah satunya dengan KRL.

KRL memang masih menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin berangkat bekerja. Sebab, tarif yang ditawarkan murah dan durasi perjalanan relatif lebih cepat ketimbang naik mobil (terjebak macet).

Sayangnya, karena ini kendaraan umum yang mengangkut banyak orang, risiko penularan virus corona pun semakin tinggi.

Sehingga, buat Anda yang terpaksa harus menggunakan moda transportasi satu ini, harus mengetahui betul soal cara naik transportasi umum supaya tak tertular.

Penumpang KRL Commuter Line Bogor-Jakarta Positif Terinfeksi Virus Corona

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengatakan ada 3 orang yang terinfeksi virus corona dari 325 penumpang KRL jurusan Bogor-Jakarta.

Kasus positif ditemukan dari hasil tes swab PCR yang dilakukan kepada para penumpang KRL jurusan tersebut.

"Tiga orang positif COVID-19 dari 325 penumpang KRL Bogor-Jakarta yang kami sampling dengan test swab PCR," kata Ridwan Kamil dalam akun Twitter resminya, @ridwankamil, Minggu (03/05).

Ridwan juga menekankan, KRL menjadi moda transportasi yang rawan di era wabah virus SARS-CoV-2 ini.

Parahnya lagi, orang yang positif itu tidak memiliki gejala atau yang dikenal sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG)! Kalau sudah begini, hasil yang diharapkan dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bisa sia-sia.

Gubernur Jabar itu telah melaporkan kasus KRL ke pihak Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 dan Kementerian Perhubungan. Ia pun berharap, pihak KRL memiliki respons yang terukur dalam menyikapi peristiwa tersebut.

Sebelum hal ini terjadi, sebenarnya para kepala daerah penyangga Jakarta telah mendesak pemerintah pusat untuk menghentikan KRL untuk beroperasi di tengah kebijakan PSBB.

Bupati Bogor, Ade Yasin, juga pernah menyatakan, KRL merupakan media transportasi yang paling rentan dalam penyebaran virus corona di Jabodetabek.

Lima kepala daerah, yaitu dari Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi bahkan sudah sepakat mendorong pemerintah pusat supaya pengoperasian KRL dihentikan sementara waktu.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

1 dari 4 halaman

Penumpang yang Terinfeksi Virus Corona adalah Orang Tanpa Gejala (OTG)

Sementara itu, VP Corporate Communications PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), Anne Purba, membenarkan temuan tiga penumpang KRL yang positif terinfeksi virus corona.

"Indikasinya, ketiga pengguna tersebut merupakan orang tanpa gejala (OTG) yang sebelumnya tidak pernah mengetahui bahwa mereka positif COVID-19," pungkas Anne (04/05)

Dia juga berpesan kepada pengguna KRL untuk bekerja sama dalam menghambat penyebaran virus corona, yaitu dengan menerapkan physical distancing dan memakai masker selama berada di gerbong.

"Selama ini, PT KCI telah melakukan antisipasi untuk memerangi virus tersebut dengan cek suhu tubuh, menyediakan wastafel di stasiun, dan wajib menggunakan masker," jelas Anne.

Pihaknya sudah melengkapi seluruh kereta dengan marka pada setiap tempat duduk untuk mengatur posisi jarak aman pengguna. Berbeda dengan kondisi dulu, kondisi kelebihan penumpang di gerbong kini tak ditemukan lagi untuk mencegah virus corona menyebar.

"Jika masih ada kereta yang melebihi kapasitas, ditandai dengan pengguna duduk maupun berdiri tidak sesuai marka yang ada, maka kereta tidak akan diberangkatkan kembali hingga para pengguna mengikuti aturan kapasitas maksimum sejumlah 60 orang per kereta," tambahnya.

Lalu, bicara soal orang tanpa gejala (OTG), dr. Rio Aditya membenarkan soal fenomena tersebut. OTG membuat infeksi virus corona sulit terdeteksi. Tanpa disadari, orang itu pun bisa menularkan virusnya pada orang lain.

“Tidak semua penderita infeksi virus corona mengalami demam tinggi, sesak napas, flu, dan batuk-batuk. Hal ini terjadi karena virus corona membutuhkan waktu inkubasi sekitar 3 sampai 7 hari,” tutur dr. Rio.

Inkubasi adalah proses virus menginfeksi tubuh sampai akhirnya menimbulkan gejala pada orang yang terkena.

“Pada masa inkubasi inilah orang yang terinfeksi tidak menunjukan gejala dan diam-diam dapat menularkan virus ke orang sehat lainnya,” dr. Rio melengkapi.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

2 dari 4 halaman

Kementerian Perhubungan Diminta Kaji Ulang Peraturan Penggunaan KRL

Seperti yang sudah disinggung di atas, para kepala daerah penyangga Jakarta sudah mengusulkan pemerintah pusat untuk menghentikan operasional KRL di tengah kebijakan PSBB.

Kendati demikian, Menteri Perhubungan Ad Interim Luhut Binsar Pandjaitan tidak menyetujuinya. Alasannya, masih banyak masyarakat yang memerlukan KRL untuk berangkat bekerja.

Dikutip dari Liputan6.com, menurut Bupati Bogor Ade Yasin, rata-rata pasien positif terinfeksi Covid-19 asal Kabupaten Bogor tertular di KRL.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Bogor, wilayah dengan jumlah paling banyak terinfeksi, yaitu di Kecamatan Cibinong dan Bojong Gede. Dua wilayah itu terdapat stasiun KRL.

"Dari data yang saya terima, rata-rata (penularan) dari penumpang kereta. Kasus positif pertama yang di Bojonggede itu dari kereta," kata Ade Yasin beberapa waktu lalu.

Atas dasar itulah, Ade menyayangkan langkah pemerintah pusat yang tetap mengoperasionalkan KRL di tengah penerapan PSBB wilayah Jabodebek.

"Pemkab Bogor sudah mempersiapkan risiko dan biaya sebelum memutuskan PSBB. Termasuk di antaranya jaring pengaman sosial untuk warga tidak mampu. Jangan sampai, apa yang kami siapkan ini menjadi sia-sia," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Mesti Naik Kendaraan Umum? Ikuti Aturan Ini!

Ya, terlepas dari apa kebijakan pasti dari pemerintah mengenai kasus penularan di KRL, sebagai masyarakat, kita hanya bisa mencegah penularan virus corona dengan beberapa upaya mudah.

Ada pun cara naik transportasi umum yang dianjurkan di era pandemi seperti ini, yaitu:

  • Selalu gunakan masker! Dokter Alvin Nursalim, Sp.PD mengatakan, memakai masker saat bepergian dengan angkutan umum bisa mencegah virus masuk ke dalam tubuh.

“Pakai masker yang melindungi mulut dan hidung agar tidak terkena paparan debu, asap, dan polusi udara. Meski masker yang dijual di pasaran tak semuanya efektif mencegah paparan polusi, setidaknya benda ini bisa mengurangi zat berbahaya untuk masuk ke kerongkongan dan saluran pernapasan,” ujar dr. Alvin.

  • Menurut pengamat transportasi, Djoko Setijowarno mengungkapkan, jika pengemudi sedang dalam kondisi tidak sehat, sopir jangan mengemudikan kendaraan. Segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Begitu pula dengan penumpang. Jika memang dalam keadaan sakit, jangan memaksakan diri untuk naik kendaraan umum.

  • Hindari menyentuh wajah, terutama hidung, mulut, dan mata ketika Anda habis menyentuh permukaan benda di kendaraan umum. Bawa hand sanitizer untuk memudahkan Anda membersihkan tangan.
  • Tidak memaksakan diri untuk masuk ke gerbong kereta jika sudah ada banyak orang. Ingat, maksimal per gerbong kereta hanya 60 orang!
  • Jika Anda memang memiliki stok masker lebih dan Anda melihat ada orang yang tidak memakai masker. Tawarkan masker Anda kepada orang tersebut agar semuanya aman terkendali.
  • Saat sampai di lokasi (tempat kerja, misalnya), segera cuci tangan. Akan lebih baik bila saat naik kendaraan, Anda pakai “baju biasa” dulu, lalu ganti dengan pakaian kerja saat sudah sampai.

Baju yang tadi dipakai untuk naik kendaraan umum, Anda masukkan ke dalam kantung tertutup.

Itu dia penjelasan tentang penumpang KRL yang terinfeksi COVID-19. Sambil menunggu kebijakan dan untuk mencegah virus corona menjangkiti Anda, lakukanlah cara pencegahan yang telah direkomendasikan di atas.

Sebagai informasi tambahan, KlikDokter bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan BNPB dalam merilis layanan cek risiko virus corona online dan rapid test gratis di beberapa rumah sakit terpilih!

Konsultasikan juga seputar virus corona atau penyakit lainnya pada dokter via Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar