Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • WHO: Gejala Virus Corona pada Anak Mirip Sindrom Kawasaki

WHO: Gejala Virus Corona pada Anak Mirip Sindrom Kawasaki

Studi baru dari WHO mengatakan, gejala virus corona pada anak mirip dengan gejala sindrom Kawasaki. Bagaimana cara membedakannya?

Virus corona memang dapat menyerang siapa saja. Anak-anak pun rentan akan wabah yang sudah menginfeksi jutaan manusia di dunia. Bahkan, COVID-19 pada anak justru bisa menunjukkan gejala yang berbeda dari gejala virus corona pada umumnya. 

WHO Temukan Peradangan Langka pada Gejala COVID-19 Anak

Baru-baru ini, WHO menginformasikan bahwa anak-anak yang terjangkit COVID-19 dan memiliki gejala yang ringan memang akan lebih mudah sembuh ketimbang lansia. 

Tapi, gejala yang dialami bisa berbeda-beda, bahkan bisa dibilang tidak biasa, contohnya mirip sindrom Kawasaki

Dilansir dari konferensi press WHO, Ahli epidemiologi WHO, dr. Maria van Kerkhove mengungkapkan bahwa ada beberapa kejadian langka belum lama ini tentang anak-anak di beberapa negara di Eropa yang memiliki sindrom peradangan mirip sindrom Kawasaki ini. Namun, menurutnya masih jarang. 

1 dari 4 halaman

Gejala Peradangan Parah Ditemukan di Inggris dan Italia

Melansir Reuters, Badan Kesehatan Inggris melaporkan ada sekitar 12 anak yang beberapa di antaranya dinyatakan positif virus corona dengan gejala peradangan parah di tubuh. 

Hal itu mendorong National Health Service, Inggris untuk mengeluarkan peringatan waspada bahwa kondisi itu mungkin terkait dengan COVID-19 pada anak-anak.

Profesor Peter Collignon dari Australian National University (dokter penyakit menular dan ahli mikrobiologi) mengatakan para ilmuwan perlu tahu lebih banyak tentang mengapa anak-anak di bawah 15 tahun mendapat misteri kondisi peradangan, dan apakah ada kaitannya dengan COVID-19.

"Kita perlu mempelajari anak-anak ini, karena kita masih tidak mengerti mengapa anak-anak tampaknya mengalami COVID-19 jauh lebih jarang dibanding orang dewasa, tetapi mereka bisa mendapatkan reaksi yang tidak biasa ini," katanya.

Tidak hanya di Inggris, para dokter di Italia juga ikut melaporkan kejadian yang sama. Sebagian besar anak yang berusia di bawah 9 tahun menunjukkan gejala peradangan hebat atau yang biasa disebut penyakit Kawasaki, sebelum dinyatakan positif virus corona. 

“Ini adalah penyakit baru yang kami pikir mungkin disebabkan oleh coronavirus dan virus COVID-19. Kami tidak 100% yakin karena beberapa orang yang mendapatkannya belum dites positif. Jadi, kami melakukan banyak penelitian sekarang, tapi itu adalah sesuatu yang kami khawatirkan,” ujar Matt Hancock selaku Sekretaris Kesehatan.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 4 halaman

Tiga Anak di AS Terinfeksi Virus Corona dan Alami Gejala Kawasaki

Tiga anak di AS yang terinfeksi coronavirus sedang dirawat karena sindrom peradangan langka yang tampaknya mirip dengan kasus di Inggris dan Italia. 

Ketiganya yang berusia mulai dari 6 bulan-8 tahun sedang menjalani perawatan di Pusat Medis Universitas Columbia di New York. Semuanya menderita demam, serta radang jantung dan usus.

Dokter Mark Gorelik (ahli reumatologi dan imunologi anak) dari Columbia mengatakan ia dipanggil untuk keperluan konsultasi pada kasus-kasus tersebut.

Ini untuk mengevaluasi apakah anak-anak memiliki penyakit Kawasaki, suatu penyakit yang diduga terkait dengan infeksi yang dalam kasus-kasus parah menyebabkan peradangan pada arteri jantung.

Ia percaya bahwa kasus-kasus itu kemungkinan bukan penyakit Kawasaki, tetapi proses serupa yang berbagi mekanisme dasar dengan Kawasaki, yang diperkirakan dipicu oleh agen infeksi yang memicu respons kekebalan.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

3 dari 4 halaman

Apa itu Penyakit Kawasaki?

Penyakit Kawasaki adalah gangguan kesehatan yang terjadi karena autoimun. Menurut dr. Arina Heidyana, ini adalah suatu penyakit non-spesifik dan tidak memiliki agen infeksi tertentu. 

Umumnya, sindrom Kawasaki akan menyerang selaput lendir, kelenjar getah bening, jantung, dan lapisan pembuluh darah. 

“Singkatnya, penyakit Kawasaki adalah kondisi yang menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah nadi di seluruh tubuh, termasuk arteri koroner. Penyakit ini meliputi kulit, mulut, dan kelenjar getah bening, sehingga sering disebut sebagai sindrom nodus limfatikus mukokutaneus,” ujar dr. Arina. 

Meski ini adalah penyakit yang sangat langka, tapi penyakit ini lebih banyak ditemui pada anak usia 2-5 tahun. 

“Gejala dari penyakit ini berupa demam tinggi, muncul bintik atau ruam merah pada kulit, adanya pembengkakkan pada kaki dan tangan, mata merah, serta adanya pembesaran kelenjar getah bening,” tambahnya. 

Bagaimana Cara Bedakan Gejala Virus Corona dengan Sindrom Kawasaki?

Menurut dr. Arina, tidak ada hubungan yang signifikan antara penyakit Kawasaki dan virus corona. Hal ini dikarenakan penyakit virus corona merupakan penyakit yang berasal dari virus, sedangkan Kawasaki belum diketahui jelas apa penyebabnya. 

“Kalau Kawasaki biasanya nggak ada batuk pilek seperti corona. Lalu, bisa dibedakan dari pemeriksaan darah juga untuk melihat ada anemia atau tidak, sel darah putih meningkat atau tidak. Cek urine juga perlu untuk melihat ada sel darah putih yang meningkat atau tidak,” jelasnya.

Jika seorang anak terinfeksi virus corona, maka jumlah sel darah putihnya akan menurun. Sedangkan, pada penderita Kawasaki, sel darah putihnya justru akan meningkat drastis. 

Periksa gejala dan kondisi bisa lebih mudah, lho! KlikDokter bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan BNPB merilis layanan cek risiko virus corona online dan rapid test gratis di beberapa rumah sakit terpilih.

Konsultasikan seputar virus corona pada dokter via Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter, lebih praktis!

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar