Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Virus Corona Sudah Menyebar, Menurut Pakar Ini yang Harus Anda Lakukan

Virus Corona Sudah Menyebar, Menurut Pakar Ini yang Harus Anda Lakukan

Pandemi virus corona COVID-19 tak boleh diremehkan. Dengan angka penularan yang terus naik, lakukan hal-hal ini untuk lindungi diri Anda dan keluarga.

Meski beberapa negara angka penyebaran sudah turun, tapi di beberapa negara lain, seperti Indonesia, angkanya masih terus naik. Per Rabu (29/4), total infeksi di dunia sudah lebih dari 3,1 juta, 217 ribu meninggal dunia, dan 928 ribu berhasil pulih.

Di Indonesia sendiri, per Rabu (28/4) tercatat sebanyak lebih dari 9.500 kasus positif virus corona. Tentunya, angka ini tidak sedikit.

Fakta yang bikin semua orang khawatir adalah, dari sejak pertama kali kemunculan pada akhir tahun 2019 lalu hingga detik ini, belum ada obat dan vaksin untuk mengatasinya. Inilah salah satu hal yang menyulitkan penanganan pasien.

Seorang pakar, Profesor Hasbullah Thabrany, MPH, Dr. PH, seorang guru besar dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa penyakit COVID-19 akibat virus corona strain SARS-CoV-2 mesti dikalahkan secara bersama-sama.

Beliau berkata, sulit untuk membayangkan kalau sampai semakin banyak yang terkena COVID-19. Karena, ini akan merugikan negara secara keseluruhan dan tenaga medis yang merawat pasien.

Di Indonesia, Dokter Paru Cuma Ada 1.200-an

Prof. Thabrany—begitu biasanya ia disapa—menjelaskan bahwa virus corona menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan kematian. Ia mencoba menganalisis jumlah dokter dan pasien.

"Kita harus sadari, virus corona ini doyannya hidup di paru-paru. Kalau kena di paru-paru, bisa menyebabkan meninggal dunia, apalagi mereka yang perokok, punya asma, punya alergi, diabetes, dan sebagainya," kata Prof. Thabrany.

Ia mengatakan, kalau pasien membludak, itu akan menyulitkan perawatan. Pria kelahiran 21 Mei 1954 ini menjelaskan bahwa dokter spesialis paru-paru di Indonesia saat ini hanya berjumlah 1.200-an.

Dengan angka pasien yang terus bertambah, apalagi secara signifikan, lama-lama rasio dokter spesialis paru dan pasien tidak akan seimbang. Oleh karena itu, Prof. Thabrany menegaskan bahwa virus corona harus diatasi dengan kerja sama antar masyarakat.

"Kalau sudah masuk rumah sakit, harus dipantau oleh ahli paru. Nah, ahli paru di Indonesia hanya sekitar 1.200-an saja di seluruh Indonesia. Coba bandingkan dengan rakyat Indonesia yang sebanyak 270 juta. Jadi, kalau banyak yang sakit, kita tidak punya spesialis paru yang cukup," ungkap Prof. Thabrany.

"Jadi, kalau kita bareng-bareng (mengatasi virus ini), itu sama saja mengurangi beban para ahli itu. Mereka tidak bisa bekerja 24 jam setiap hari, paling idealnya 8 jam sehari, dibagi 4 shift, paling 300 yang aktif pada satu waktu tertentu," katanya.

"Kita selamatkan mereka jangan sampai overload. Dengan apa? Jangan sampai kita terkena sakit yang berat," tegasnya.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

1 dari 5 halaman

Perokok Salah Satu Kelompok Rentan Virus Corona

Sudah menjadi rahasia umum kalau perokok sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk virus corona. Prof. Thabrany pun tidak bosan mengingatkan perokok untuk hati-hati.

Kebiasaan merokok memang menjadi salah satu kebiasaan buruk yang sulit dihentikan di Indonesia. Ia bilang, jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta orang.

Sambil berkelakar, Prof. Thabrany mengatakan bahwa kalau urusan merokok, Indonesia menjadi “juara dunia”. Namun, sosok yang mendapatkan gelar doktor di Universitas California, Amerika Serikat, ini menekankan, perokok masuk ke dalam kategori kelompok rentan.

"Perokok adalah salah satu yang rentan terkena. Di Indonesia ada 70 juta orang perokok aktif. Coba bayangkan dari 70 juta, bisa membuat berapa banyak perokok pasif," tuturnya dalam program Podcast Konsul Santai KlikDokter.

"Bisa dibilang, kita akan menjadi juara dunia kalau soal merokok. Merokok itu soalnya menyebabkan sel-sel mukosa di mulut dan hidung jadi rentan masuk virus," katanya sambil bercanda.

2 dari 5 halaman

Virus Corona, “Teroris” yang Susah Dilacak

Bicara soal virus corona, Prof. Thabrany mengibaratkannya seperti teroris. Ia menyebut bahwa COVID-19 sulit dilacak "pelakunya", tapi mudah melacak pasiennya. Inilah yang membuat penangananya sulit.

"Jelas kita berhadapan dengan teroris yang susah dilacak. Pelaku terorisnya itu virus corona. Kita hanya bisa melacak korbannya, kalau teroris yang selama ini kita tahu, bisa dilacak ke mana perginya. Kalau ini tidak bisa dilacak, ini yang membuat sangat berat," ungkap Prof. Thabrany.

Oleh karena itu, pria yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan masyarakat ini mengatakan bahwa kita perlu mengenal dengan jelas perilaku "teroris" ini.

Cirinya jelas bahwa "teroris" ini bisa mengenai korbannya dalam jarak satu meter. Maka dari itu, imbauan jaga jarak (physical distancing) perlu dilakukan. "Itu efektif sekali mencegah," katanya.

"Cuma, bangsa kita kurang disiplin. Saya berharap semua bisa menyadari bahwa penyakit ini bisa dicegah dengan mudah, yaitu jaga jarak. Tapi, jangan panik juga. Dengan begitu, kita akan terhindar," ungkapnya.

Pasalnya, kalau sudah sakit, efeknya sangat luar biasa. Prof. Thabrany mengungkapkan bahwa virus corona bisa menyebabkan kehilangan pemasukan dan kebahagiaan. Tapi, terlalu takut juga tidak bagus. Waspada, jangan lengah, kenali penyakitnya.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

3 dari 5 halaman

Namun, Virus Corona Bisa Dianggap "Blessing In Disguise"

Dari setiap kejadian, ada hikmah yang bisa diambil. Seperti pandemi COVID-19 yang sedang terjadi sekarang ini, menurut Prof. Thabrany, tidak melulu hal negatif. Ia menyebutnya sebagai blessing in disguise.

Ia membeberkan bahwa akibat COVID-19, pemerintah sangat peduli dengan bidang kesehatan, khususnya tenaga kesehatan dan sarana pelengkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa sektor kesehatan perlu mendapat perhatian karena ternyata bisa menggoyang sektor lainnya, seperti ekonomi.

"Bayangkan, sektor kesehatan hanya dapat 1,7 persen dari total APBN. Sekarang baru sadar, gara-gara ini penyakit, ekonomi ambruk, IHSG drop. Ini gara-gara kesehatan. Jangan anggap enteng, berikanlah investasi pada sektor kesehatan," tegasnya.

Ya, akibat virus corona, ekonomi di Indonesia dan dunia secara keseluruhan memang goyah. Banyak orang yang di-PHK atau kehilangan pekerjaan gara-gara virus ini.

Namun, di sisi lain, virus corona ini ternyata menyadarkan masyarakat juga untuk tetap hidup sehat. 

"Setidaknya virus corona ini bisa jadi blessing in disguise atau bisa kita ambil hikmahnya, semua jadi sadar akan kesehatan. Bahkan, pemerintah yang selama ini pelit untuk sektor kesehatan jadi lebih perhatian," katanya.

"Masyarakat harus diedukasi bagaimana caranya hidup sehat. Sekarang timing-nya bagus dan media menjelaskan cara hidup sehat. Cuci tangan, jaga jarak, dan makan yang sehat dan bergizi," lanjutnya.

Memang, menurut Prof. Thabrany, masih ada kelompok orang yang tidak peduli, sok pemberani, dan nekat ketika berbicara soal virus ini.

Ia hanya menyampaikan bahwa kita jangan ekstrem dalam berperilaku. Harus disadari bahwa ada penyakit yang bisa menginfeksi kita.

4 dari 5 halaman

Ini yang Perlu Diperbaiki untuk Mencegah Virus Corona

Untuk mencegah virus corona, Prof. Thabrany mencontohkan Vietnam yang sangat disiplin dalam menerapkan physical distancing.

"Kita tiru Vietnam saja. Jangan berebutan kalau di tempat umum, seperti naik MRT, LRT, atau KRL. Memang semua orang punya kepentingan untuk sampai cepat di kantor atau tempat tujuan lainnya. Tapi antre saja, tidak usah panik. Sekarang kita semua tahu, tidak mungkin berkumpul di satu tempat dalam keadaan yang ramai," tuturnya.

Namun, ia menyebut masyarakat Indonesia belum terbiasa jaga jarak. Ia berharap, di halte bus, stasiun, atau tempat transportasi umum lainnya, masyarakat bisa antre, jangan terlalu dekat dengan orang lain. Pastikan juga para pengelola untuk mengatur jarak.

"Ini juga termasuk di rumah sakit atau klinik. Kalau tidak dibuat, orang tidak sadar," pungkasnya.

Virus corona memang membuat semuanya serba sulit. Benar kata Prof. Thabrany, COVID-19 seperti teroris yang tidak terlacak. Diam-diam tapi mematikan. Sudah seharusnyalah kita menyadari banyak hal, termasuk pencegahan demi mengatasi virus corona ini bersama-sama.

Pandemi global COVID-19 ini adalah masa-masa yang berat dan semua orang terkena dampaknya. Namun, bila mematuhi imbauan pemerintah dan otoritas kesehatan serta warganya tertib, angka penularan bisa diminimalkan hingga perlahan sirna.

Bila khawatir terjangkit COVID-19, Anda bisa cek risiko online yang bisa diakses di sini, hasil kerja sama antara KlikDokter, Kemenkes RI, dan BNPB. Bila ingin tanya-tanya atau konsultasi, Anda bisa mengandalkan fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter. Tetap di rumah, ya!

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar