Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • WHO: Akhir Pandemi Virus Corona Masih Jauh, Perhatikan Kesehatan Anak!

WHO: Akhir Pandemi Virus Corona Masih Jauh, Perhatikan Kesehatan Anak!

Pandemi virus corona diperkirakan masih berlangsung lama. Pastikan kesehatan anak dengan tetap mendapatkan imunisasi wajib sesuai jadwal.

Meski di beberapa negara penyebaran virus corona sudah mulai menurun, tapi bukan berarti pandemi COVID-19 akan segera berakhir. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, akhir pandemi masih jauh. Isolasi mandiri dan physical distancing masih tetap harus dilakukan.

Dikutip dari beberapa media, Belgia sudah berencana untuk melonggarkan lockdown secara bertahap.

Begitu juga dengan Belanda yang akan kembali aktivitas belajar di sekolah dasar pada 11 Mei mendatang. Selain itu, Jerman akan kembali membuka toko-toko kecil dan sekolah 4 Mei nanti.

Di Israel, lockdown sejak 19 April lalu akan secara bertahap dilonggarkan. Beberapa sektor bisnis dan pembatasan aktivitas warga juga akan dikendurkan. Sementara itu di Austria, dikabarkan ribuan toko sudah kembali beroperasi sejak 17 April lalu, sedangkan Denmark telah membuka sejumlah fasilitas publik sejak 15 April.

Sepintas memang terdengar seperti kabar baik. Namun, WHO mengatakan, virus corona akan tetap menghantui populasi dunia dalam jangka waktu yang cukup lama. Karena, beberapa negara baru saja mencapai fase awal penyebaran penyakit.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebetulnya ingin melihat pelonggaran lockdown di beberapa negara.

Namun dikhawatirkan, ini justru bisa menyebabkan kenaikan penyebaran virus dan kematian secara signifikan.

Tedros, dalam konferensi pers mengatakan, bahwa beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin baru saja menunjukkan tahap awal penyebaran virus. Sementara itu, di beberapa negara Eropa penurunan kasus memang sudah tampak.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

1 dari 3 halaman

Pasien Virus Corona yang Sembuh Tidak Kebal

Berdasarkan WHO, sampai saat ini belum ada bukti bahwa pasien COVID-19 yang sudah sembuh bisa kebal alias tak bisa tertular lagi. Peringatan ini ditujukan untuk negara-negara yang mulai melonggarkan sistem lockdown dan membolehkan aktivitas normal.

Dikutip dari CNN, Maria Van Kerkhove dari WHO sebelumnya mengatakan bahwa belum bisa dipastikan apakah pasien yang telah terinfeksi virus corona bisa benar-benar kebal.

Selain itu, Mary Hayden, juru bicara Infectious Diseases Society of America (IDSA) sekaligus Kepala Divisi Penyakit Menular di Rush University Medical Center, Amerika Serikat, mengatakan bahwa pihaknya tidak tahu apakah pasien yang memiliki antibodi masih berisiko terinfeksi ulang COVID-19.

Namun, ia berasumsi bahwa pasien yang sembuh bisa saja terinfeksi lagi. Kepada KlikDokter, dr. Arina Heidyana juga mengatakan hal yang serupa.

“Pasien yang dinyatakan sembuh dari virus corona masih bisa tertular lagi. Karenanya, pasien yang sembuh harus melakukan hal-hal yang sudah ditetapkan sebagai prosedur medis di Indonesia, seperti melakukan isolasi diri dan tidak boleh merokok,” dr. Arina menjelaskan.

Isolasi diri yang dimaksud adalah, pasien diminta untuk tetap berada di rumah selama 14 hari. Selama waktu tersebut, pasien diminta untuk tetap menggunakan masker dan mengurangi kontak fisik dengan keluarga, kerabat, atau orang lain di rumah.

Selama periode itu pula, pihak dari dinas kesehatan setempat akan ikut memantau kondisi kesehatan pasien.

“Apabila setelah masa isolasi diri pasien tak lagi menunjukkan gejala, maka ia bisa bersosialisasi seperti biasa dan diharapkan mampu menerapkan pola hidup sehat setiap hari. Ini karena, pasien coronavirus yang dinyatakan sembuh masih bisa tertular virus tersebut dari orang lain,” kata dr. Arina lagi.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

2 dari 3 halaman

Waspada Gelombang Kedua Virus Corona yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Anak

COVID-19 akibat virus corona strain baru, SARS-CoV-2, yang muncul akhir tahun lalu di Wuhan, Tiongkok, telah menginfeksi lebih 3 juta orang di dunia.

Lebih dari 211 ribu orang meninggal dunia, sedangkan 894 ribu berhasil pulih (data dari Johns Hopkins per Selasa, 28/4).

Dikutip dari Channel News Asia, Tedros menyampaikan keprihatinannya tentang kesehatan anak terkait jadwal vaksin, yang turut terdampak akibat kebijakan selama pandemi.

"Anak-anak mungkin berisiko relatif rendah dari penyakit parah dan kematian akibat COVID-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh novel coronavirus. Tapi mereka dapat berisiko tinggi terjangkit penyakit lain yang bisa dicegah dengan vaksin,” kata Tedros.

Sekitar 13 juta orang di seluruh dunia terkena dampak akibat keterlambatan imunisasi rutin, seperti imunisasi polio, campak, kolera, demam kuning, dan meningitis.

Kekurangan vaksin terhadap beberapa penyakit di 21 negara sebagai akibat dari pembatasan atau gangguan perjalanan akibat pandemi, kata Tedros.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Tedros, dr. Arina Heidyana pun mengatakan bahwa tak cuma virus corona saja yang mengancam kesehatan anak, tapi juga penyakit lainnya.

“Karena itu, di masa pandemi ini, anak tetap harus mengikuti jadwal vaksin yang sudah ditetapkan. Apalagi jika anak masih bayi dan harus vaksin wajib. Selain itu, Anda juga bisa mengajari anak akan pentingnya menjaga kebersihan, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta langkah-langkahnya yang benar,” dr. Arina menjelaskan.

Lalu, biasakan anak untuk bersin atau batuk dengan etika yang benar agar tidak terjadi penularan virus ke anggota keluarga lainnya.

“Beri pengertian juga kalau jangan dulu terlalu dekat dengan orang-orang di luar rumah. Karena, penyebaran paling banyak terjadi ketika sedang berada di luar rumah, ” tambah dr. Arina.

Tak lupa, selalu jaga kebersihan lingkungan rumah dan tetap di rumah kecuali bila ada urusan mendesak.

Dan yang terpenting, pastikan juga anak mendapatkan asupan gizi yang seimbang agar sistem imunitas dalam tubuhnya tetap terpelihara, sehingga kuman penyakit tak mudah menyerang si Kecil.

Entah kapan pandemi COVID-19 ini berakhir. Bila khawatir terjangkit, Anda bisa cek risiko secara online di tautan ini, hasil kerja sama antara KlikDokter, Kementerian Kesehatan RI, dan BNPB. Bila ingin konsultasi tentang virus corona, penyakit lainnya, atau jadwal vaksin anak, manfaatkan fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar