Sukses

Ternyata, Represi Seksual Bisa Ganggu Psikologis, Lho!

Bukannya menciptakan rasa happy, orang dengan represi seksual justru sangat malu dan tak nyaman jika bicara atau memikirkan soal seks! Apa alasannya, ya?

Buat sebagian orang, membicarakan atau bahkan sekadar memikirkan seks, sudah bisa memberi sensasi menyenangkan meski hanya sementara. Sayangnya, bagi orang yang mengalami represi seksual, yang dirasakan malah sebaliknya. Seks justru membuat mereka tidak antusias.

Istilah represi seksual mungkin masih asing di telinga Anda. Tapi pada kenyataannya, kondisi seperti ini dialami oleh banyak orang, terutama wanita. Apabila ekspresi kondisi tertekan ini ditunjukkan secara berlebihan, itu bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.

Apa, Sih, Represi Seksual Itu dan Apa Penyebabnya?

Sejak kecil, kita sering diajarkan bahwa seks adalah hal berdosa dan tidak menyenangkan. Hal ini umumnya berkaitan dengan budaya Timur. Alhasil, tak jarang pengekangan seperti itu bisa menghancurkan hasrat seksual Anda di kemudian hari. 

Misalnya saja ketika Anda masih lajang dan melakukan masturbasi. Karena ajaran Timur yang tertanam bertahun-tahun lamanya, Anda akan merasa buruk dan bersalah setelah melakukan tindakan tersebut, meski sebenarnya amat wajar. 

Orang yang mengalami pengekangan seksual mungkin sebenarnya ingin belajar mengekspresikan seksualitasnya. Namun, mereka belum menemukan titik di mana mereka nyaman melakukannya. Terkadang, malah timbul rasa frustasi!

Selain ajaran dari keluarga atau budaya, menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, represi seksual dapat disebabkan oleh pengalaman buruk di masa lampau. Misalnya pada mereka yang pernah mengalami pelecehan dan pemerkosaan, sehingga timbul trauma.

“Dua hal tersebut menyebabkan rasa sakit emosional yang lama. Sehingga, korbannya akan sulit menikmati dan mengekspresikan seks,” kata Ikhsan.  Kurangnya informasi yang tepat juga bisa membuat seseorang merasa seks adalah hal yang aneh dan menjijikkan. 

Artikel Lainnya: Hubungan antara Masturbasi dan Depresi

Jika sejak awal orang tersebut mendapatkan edukasi seks yang baik, pasti dia akan memahami bahwa pada dasarnya seks itu menyehatkan dan menyenangkan jika dilakukan dengan benar. 

Bahkan, peran gender turut memengaruhi. Sebagai contoh, wanita yang mengekspresikan aktivitas seksnya dengan perasaan senang, akan dianggap sebagai pelacur.

Di sisi lain, pria sah-sah saja untuk mengekspresikan rasa senangnya terhadap seks tanpa harus dianggap sebagai gigolo atau pria tak benar. Itulah mengapa, pengekangan seksual sering terjadi pada kaum hawa. 

1 dari 3 halaman

Bagaimana Dampaknya bagi Kesehatan Mental?

Sigmund Freud adalah orang pertama yang mengeksplorasi dan menulis tentang ide represi seksual. Ia juga memperingatkan bahwa menekan dorongan seksual dapat berdampak buruk untuk kesehatan mental, bahkan kesehatan fisik. Misalnya saja:

  • Tubuh sering tegang 
  • Sulit tidur
  • Kesulitan orgasme 
  • Ejakulasi dini
  • Rasa sakit saat berhubungan seks
  • Selalu merasa cemas
  • Sering merasa bersalah 
  • Dan tidak bisa berekspresi secara alami

Selain itu, orang yang tidak nyaman dalam mengekspresikan hasrat seksualnya biasanya memiliki pandangan negatif terhadap orang lain. Terutama, sinis terhadap mereka yang dengan mudahnya mengekspresikan seksualitas mereka. 

Hubungan yang dibangun pun biasanya membosankan. Kalau sudah begini, tak cuma kesehatan mental Anda yang terganggu, tetapi pasangan Anda turut kena imbasnya. 

Artikel Lainnya: Kenapa Ada Orang yang Memiliki Fantasi Seks Ekstrem?

2 dari 3 halaman

Adakah Cara untuk Mengatasi Represi Seksual?

Dalam kondisi ini, Ikhsan mengatakan, alam bawah sadar mereka mesti ‘disentuh’. Caranya, dengan menggunakan terapi psikoanalisa. 

“Terapinya apa saja? Bisa pakai hipnoterapi, bisa pakai art therapy, pokoknya terapi-terapi yang menggali ke alam bawah sadar,” jelas Ikhsan. Di luar terapi, ada juga beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi tekanan seksual dan menghancurkan lingkaran setannya, yaitu:

  • Berlatih untuk menerima pikiran seksual dengan sadar dan tanpa menghakimi. Jika pikiran seksual muncul, ingatkan ke diri sendiri bahwa itu normal. Ini harus dilakukan demi menjaga kesehatan mental diri. 
  • Perkaya diri dengan ilmu pengetahuan mengenai manfaat positif dari seks lewat bacaan-bacaan atau video pengalaman beberapa tokoh.
  • Cintailah tubuh Anda dan hargai apa yang telah diberikan Tuhan kepada Anda. Untuk meningkatkan kenyamanan Anda dengan tubuh sendiri, Anda dapat mencoba melihat diri telanjang di cermin atau tidur telanjang. 
  • Bicarakan baik-baik dengan pasangan Anda supaya mereka memahami dan membantu memulihkan kondisi Anda. Atur bersama-sama aktivitas seks yang hendak dilakukan supaya memberikan rasa nyaman untuk kedua belah pihak. 
  • Ingat, orang yang mengalami kondisi ini tidak hanya Anda. Supaya tidak semakin banyak generasi yang ‘tersesat’ akibat mendapat edukasi seks yang salah, cobalah adakan sesi diskusi atau sharing tentang hal tersebut. Psikolog dan dokter juga bisa mengisi sesi tersebut. 

Represi seksual tidak akan menjadi penyebab gangguan mental bila orang yang mengalaminya mendapat terapi yang tepat serta melakukan beberapa cara di atas. 

Masih memiliki pertanyaan seputar kesehatan mental, gangguan mental, ataupun kondisi medis dan psikis lainnya? Konsultasikanlah hal tersebut pada dokter atau psikolog kami lewat fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter.

(OVI/ RH) 

0 Komentar

Belum ada komentar