Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Korea Selatan Bagi Pengalaman Penanganan Virus Corona lewat Webinar

Korea Selatan Bagi Pengalaman Penanganan Virus Corona lewat Webinar

Jadi salah satu negara yang berhasil atas wabah virus corona. Korsel membagi pengalamannya lewat Korea-ASEAN Web Seminar on COVID-19, (22/4).

Kalau Eropa punya Jerman sebagai negara yang dianggap mampu atasi wabah virus corona, di Asia, kita punya Tiongkok dan Korea Selatan. Tiongkok mesti melakukan lockdown untuk menghambat penyebaran virus berbahaya itu. Sementara, Korea Selatan tidak pakai lockdown

Negeri Ginseng tersebut bukannya sama sekali tak pernah mengalami outbreak besar-besaran. Malahan, negara yang dipimpin oleh Moon Jae-in itu sempat menjadi negara dengan kasus tertinggi di luar Tiongkok! Wilayah di sana yang jadi pusat penyebaran adalah Daegu.

Karena tak mau kecolongan seperti negara-negara lain, pemerintah, ahli medis, serta masyarakat pun melakukan kerja sama yang baik. Hasilnya, angka kasus positif bisa ditekan dan persentase kematian akibat virus corona pun terbilang kecil. 

Berangkat dari situ, Seoul National University Hospital (SNUH) yang disponsori oleh Ministry of Foreign Affairs, Ministry of Health and Welfare, dan Korea International Medical Association menyelenggarakan Korea-ASEAN Web Seminar on COVID-19, Rabu (22/4), pada pukul 19.00-21.00 KST (pukul 17.00-19.00 WIB).

Tujuan dari webinar COVID-19 itu adalah untuk berbagi pengalaman mereka dalam merawat pasien virus corona. Pihak Korsel bukannya ingin menggurui karena mereka juga tidak memakai formula khusus. Mereka masih belajar, sama seperti negara-negara lainnya. 

Webinar COVID-19 itu memiliki empat sesi dan diisi oleh narasumber berbeda-beda. Adapun topik yang dibagikan, antara lain manajemen dan strategi SNUH, pengalaman laboratorium mereka, serta pengalaman merawat pasien anak dan dewasa yang terinfeksi virus corona. 

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

Bagaimana Manajamen dan Strategi SNUH?

Pihak SNUH sangat memegang pedoman screening before hospitalization. Ini untuk mencegah penyebaran virus corona yang tidak terkontrol. Sangat bahaya membiarkan orang-orang berkeliaran tanpa tahu dirinya ternyata pembawa virus. 

Supaya cepat, ringkas, tapi efektif, screening atau tes dilakukan dengan sistem walk-thru. Ya, konsepnya mirip kita mau pesan makanan drive-thru di restoran cepat saji.

Selain itu, demi meminimalkan kontak fisik secara dekat dengan petugas medis, untuk kondisi-kondisi tertentu, mereka memanfaatkan teleconsultation yang siaga 24 jam. Resep pun bisa diurus melalui mobile.

Menariknya lagi, supaya kualitas udara di rumah sakit tetap terjaga, mereka menyediakan cleaning air robot. Virus yang bersifat airborne pun punya kesempatan yang lebih kecil untuk menjangkiti orang-orang yang ada di rumah sakit.

SNUH kini tengah uji coba pengobatan dengan remdesivir. Untuk hasilnya, masih belum diketahui secara pasti. Tapi yang jelas, mereka mengatakan, aggressive screening harus dilakukan kepada masyarakat. 

Lalu, alur untuk mendapatkan perawatan dari rumah sakit juga tidak boleh rumit. Ini yang terkadang bikin pengecekan dan perawatan terhambat. Sebisa mungkin pihak rumah sakit memanfaatkan teknologi supaya langkah yang dilakukan cepat dan risiko penularannya kecil.

Artikel Lainnya: Daftar Rumah Sakit Rujukan Pasien COVID-19 di Seluruh Indonesia

1 dari 4 halaman

Bagaimana Pengalaman di Laboratorium SNUH?

Sementara itu, hingga 20 April 2020, setidaknya sudah ada 563.297 orang yang dites. Mereka berhasil menyediakan semua sistem yang tersedia di laboratorium setelah belajar dari pengalaman menghadapi wabah MERS 5 tahun silam.

Seperti yang sempat disinggung di atas, mereka mengambil spesimen dengan sistem walk-thru. Petugas memakai alat pelindung diri (APD) yang lengkap (masker N95, pelindung wajah, sarung tangan, dan baju pelindung khusus), meski interaksi hanya dilakukan via jendela.

Spesimen ditaruh di dalam zipper bag lalu diletakkan lagi di dalam kontainer plastik supaya aman. Untuk mendapatkan hasilnya, pihak laboratorium SNUH membutuhkan waktu 6 jam. 

Dua jam untuk mempersiapkan sampel, dua jam untuk mengekstraksi RNA dan mengatur PCR, lalu dua jam lagi untuk memantau hasil PCR dan membuat laporannya. 

Bagaimana jika hasil tes ternyata negatif palsu? Pihak laboratorium mengatakan, ada beberapa faktor penyebabnya, yaitu:

  • Spesimen yang kurang memadai
  • Spesimen diambil terlalu dini atau bahkan terlambat 
  • Spesimen dibawa ke laboratorium dengan cara yang salah
  • Terjadinya mutasi genetik virus
  • Ada PCR inhibitors
  • Berkontak dengan antivirus sebelum dilakukan pengujian
2 dari 4 halaman

Bagaimana Pengalaman Merawat Pasien Anak di SNUH?

Perlu diketahui, kasus virus corona yang menyerang anak di Korea Selatan terbilang rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. 

“Itu karena, mereka paling sering di rumah dan tidak sering terekspos dunia luar. Untuk usia 0-9 tahun, persentasenya hanya 1%. Sementara untuk anak usia 10-19 tahun atau remaja, berkisar 5,2%. Kejadian paling banyak terjadi di usia 10-19 tahun,” kata Choi Eun Hwa, MD, PhD.

Kasus virus corona anak pertama di Korea Selatan terjadi tanggal 1 Februari lampau akibat tertular dari pamannya. Mereka merupakan satu keluarga besar yang tinggal dalam satu rumah. Interaksi paling sering terjadi di meja makan. Pamannya sempat bepergian ke Wuhan.

Selama ini, gejala COVID-19 yang timbul dari anak-anak bersifat ringan. Malahan, banyak juga yang tanpa gejala. Pemerintah dan ahli medis sepertinya akan memberikan perhatian penuh pada remaja. Pasalnya, satu remaja setidaknya dapat menularkan ke 3-5 orang di sekitarnya.

3 dari 4 halaman

Bagaimana Pengalaman Merawat Pasien Dewasa di SNUH?

Choe Pyoeng Gyun, MD, PhD, MPH menjelaskan, 81% pasien yang dirawat di rumah sakit memiliki gejala ringan (mild symptoms). 

Adapun, persentase kematian paling banyak terjadi lansia, yaitu 8% di usia 70-79 tahun dan 14% di usia lebih dari 80 tahun. Belum ada obat-obatan spesifik yang dianggap pihak rumah sakit sebagai penyembuh. Remdesivir sedang diuji obat. 

Untuk para pasien yang punya gejala ringan, perawatan yang diberikan berupa oxygen therapy dan orang yang berada di posisi kritis harus segera masuk ke ruang ICU. Intinya, semakin tinggi supportive care-nya, makin tinggi pula kesempatan sembuh.

Dokter Choe menekankan, perawatan yang telah dilakukan ini sudah pernah dilakukan saat MERS. Bahkan, memberikan hasil yang lebih baik saat ini (masa virus corona). 

Secara keseluruhan, apa yang sudah dilakukan oleh Korea Selatan untuk memerangi wabah COVID-19, kira-kira seperti ini:

  • Masyarakat Korea sangat korporatif (tidak berjalan sendiri-sendiri)
  • Tidak lockdown, tapi masyarakatnya melakukan social serta physical distancing yang “agresif”.
  • Semua orang memakai masker dan sangat menjaga kebersihannya.
  • Pemerintah secara cepat dan transparan merilis data pasien yang habis dites.
  • Tes dilakukan secara masif, tetapi ringkas (walk-thru).
  • Menyediakan kapasitas laboratorium yang besar.
  • Serta menyediakan living center untuk orang-orang harus isolasi. 

Sesi sharing yang dilakukan SNUH melalui Webinar COVID-19 ini diharapkan dapat membantu negara-negara lain dalam menghadapi wabah virus corona. Mereka pun sangat terbuka dengan segala masukan karena semua negara di dunia sedang mempelajari pola virus baru ini.

Dalam menghadapi wabah virus corona di Indonesia, KlikDokter bekerja sama dengan Kemenkes RI dan BNPB merilis cek virus corona online agar Anda dapat periksa mandiri lebih mudah, serta menghadirkan rapid test COVID-19 gratis.

Tak perlu repot keluar rumah untuk konsultasi dengan dokter, ada fitur Live Chat 24 jam dari KlikDokter! Jangan lupa selalu update info terkini virus corona di sini, ya.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar