Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Ternyata, Virus Corona Sudah Menyebar dari Bulan Januari di Indonesia

Ternyata, Virus Corona Sudah Menyebar dari Bulan Januari di Indonesia

Kasus positif pertama virus corona diumumkan pada Maret. Akan tetapi, peneliti meyakini sebenarnya sudah terjadi sejak Januari 2020.

Kasus pertama virus corona di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Maret. Akan tetapi, para peneliti tidak sepakat. Menurut mereka, kasus COVID-19 di Indonesia sudah ada sejak Januari.

Indonesia termasuk dalam deretan negara yang mengumumkan kejadian virus corona belakangan. Apa yang terjadi di Indonesia ternyata menurut peneliti sudah terjadi lebih dahulu.

Apalagi negara tetangga sudah mengumumkan kasus COVID-19 sejak Januari dan Februari. Hal inilah yang membuat peneliti dan ilmuwan mempercayai bahwa Indonesia sudah ada kasus COVID-19 sejak awal tahun.

 

1 dari 5 halaman

Virus Corona di Indonesia Sudah Muncul Sejak Januari 2020

Hal ini diungkapkan Ahli Epidemiologi dan Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono.

Pandu mengatakan virus corona sudah masuk sejak Januari. Ia mengungkapkan sewaktu Presiden Jokowi mengumumkan pada Maret, sebenarnya sudah ada penularan lokal.

"Kapan virus ini masuk? Bukan bulan Maret dan bukan ketika Presiden umumkan sudah ada kasus. Ternyata sebenarnya penularan lokal itu sudah terjadi," ujar Pandu dalam diskusi, Minggu (19/4), seperti dikutip dari Liputan6.

Bukan tanpa alasan Pandu mengatakan hal itu. Ia merujuk pada data Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Sejak Januari 2020, sudah ada laporan orang dengan gejala virus corona dan orang dalam pemantauan (ODP).

"Kami berpikir virus sudah beredar di Indonesia sejak minggu ketiga Januari. Sejak awal sudah terjadi penularan lokal, jadi jangan anggap kasus impor. Semua penularan dari kita di masyarakat," ungkap Pandu.

Selain itu, Pandu mengatakan bahwa ke depannya provinsi di Indonesia pasti terkena dampak COVID-19. Mengingat Indonesia merupakan negara luas dan pergerakan masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lain pun dinilai tinggi dan susah dilacak.

"Kita dan teman-teman ramalkan tidak ada provinsi yang tidak terdampak. Karena penduduknya luas, sebagian tinggal di wilayah urban, ada selat dan faktor lain yang membuat kepadatan penduduk," tutur Pandu.

"Warga juga aktif bepergian, mereka yang bepergian tidak tahu caranya membersihkan tangan dengan benar. Ini karena promosi dan edukasi ke masyarakat masih belum meluas dan tidak ada kebutuhan terkait itu," jelasnya.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 5 halaman

Bila Pemerintah Tak Serius, Kasus Virus Corona Berisiko Tembus 2 Jutaan Pasien

Selain menyoroti awal masuk kasus virus corona, Pandu juga memperingatkan pemerintah. Kalau tidak serius menangani pandemi ini, kasus bisa tembus 2 juta. Ia mengungkapkan kemungkinan terburuk.

"Kita mengestimasi kalau kita tidak melakukan apa-apa atau hanya sekadar mengimbau terserah orang mau apa, mungkin bisa terjadi sampai 2,4 juta," ujar Pandu.

Namun, Pandu mengatakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah cara yang baik untuk mengintervensi kasus virus corona. Akan tetapi, kalau masih terlalu santai, jangan harap kasus ini selesai dalam waktu cepat.

Pendapat itu juga dibenarkan oleh dr. Devia Irine Putri. Yang paling bisa terkena dampak adalah tenaga medis yang bisa ikut sakit karena kelelahan menangani COVID-19.

"Makin lama pandeminya, maka ekonomi akan lumpuh lebih lama, jumlah orang yang positif semakin banyak, jumlah rumah sakit dan tenaga medis tidak memadai. Tenaga medis ini bisa ikut sakit karena kelelahan menangani COVID-19," ungkap dr. Devia Irine.

3 dari 5 halaman

Peneliti Sarankan Pemerintah Punya Target

Supaya penanganan virus corona berhasil, pemerintah disarankan punya target. Pasalnya, kalau tidak punya target, ditakutkan akan semakin banyak kasus yang terjadi di Indonesia.

Pandu Riono menyebutkan, Indonesia harus menyelesaikan ini pada Juni 2020.

"Kita harus serius bulan Juni punya target selesai, jangan menunda. Kita jadikan negara ini bisa selesaikan COVID-19 di bulan Juni," tuturnya dalam web diskusi bersama Perludem dan KPU pada Minggu (19/4).

Pandu kemudian menyayangkan pemerintah yang seperti let it flow saja tanpa target. Padahal, menurutnya target ini berguna untuk mencegah agar pemerintah tidak berlama-lama dalam bertindak.

"Tapi hingga kini kita nggak punya target, ini yang membuat saya sedih sekali. Jadi harus dorong ke pemerintah, diingatkan lagi bahwa kita punya target besar. Saya nggak tahu bulan itu selesai atau tidak, karena kuncinya di pemerintah," ujarnya.

Hal serupa diungkapkan oleh dr. Devia. Menurutnya, kalau tidak punya target, pandemi  akan terus coronavirus terjadi.

"Harus punya target, kalau tidak punya target, kita tidak selesai-selesai pandeminya. Lalu, belum lagi banyak usaha yang tutup, jadi ekonominya melemah," tegasnya.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

4 dari 5 halaman

Pemerintah Percepat Tes PCR

Demi menekan angka penyebaran COVID-19, pemerintah kemudian akan melakukan percepatan tes PCR. Pemerintah juga siap menutup kantor pemerintahan yang tak terkait dalam protokol penanganan corona.

"Mempercepat tes PCR, khususnya di daerah kuning dan merah, agar dapat dilakukan mitigasi dan fase delay terhadap outbreak," kata Tenaga Ahli Utama Kepresidenan KSP, Dany Amrul Ichdan saat dikonfirmasi, Minggu (19/4).

"Menutup perkantoran pemerintah dan swasta, termasuk pabrik dan sektor jasa yang tidak ada kaitannya dalam protokol kesehatan yang dibolehkan dalam PSBB untuk dibuka," sebut Dany.

Bantu pemerintah menangani coronavirus di tanah air, KlikDokter bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan BNPB merilis fitur cek risiko virus corona online yang bisa Anda manfaatkan untuk periksa mandiri.

Konsultasi seputar COVID-19 dan penyakit lainnya lewat Live Chat 24 jam dengan dokter, dan ketahui tips hidup sehat yang menarik dan lengkap dari KlikDokter. Yuk sama-sama kita lawan virus corona!

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar