Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Kasus Positif Virus Corona di Indonesia Diprediksi Capai 106.000 Pasien!

Kasus Positif Virus Corona di Indonesia Diprediksi Capai 106.000 Pasien!

Terus meningkat, diramalkan kasus virus corona di Indonesia bisa tembus lebih dari seratus ribu! Kenapa bisa begitu dan apa yang mesti kita lakukan?

Sudah lebih dari satu bulan, Indonesia bertarung dengan kasus positif virus corona. Berawal hanya dua kasus, kini ada lebih dari 5.500 kasus dengan total kematian mencapai hampir 500.

Terus bertambahnya pasien positif COVID-19 tentu membuat masyarakat bertanya-tanya, kapan puncak wabah ini terjadi? Karena begitu sampai di puncak wabah, umumnya kurva kasus mulai melandai.

Badan Intelijen Negara (BIN) telah membuat prediksi angka kasus virus corona di Indonesia. Diperkirakan, ketika memasuki akhir Juli nanti, kasus tersebut akan meningkat menjadi 106.000 kasus.

 

1 dari 4 halaman

Kasus Positif akan Capai 106.000 pada Juli Mendatang

Puncak wabah diramalkan akan terjadi di bulan Mei. Tetapi, bukan berarti setelah memasuki puncak wabah, kasus akan langsung menurun di bulan-bulan berikutnya.

Diungkapkan oleh Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, selama Juni-Juli, kasus konfirmasi positif menurut prediksi akan mencapai 106.000 kasus.

Meski belum pasti, tetapi angka ini bisa jadi pegangan untuk berjaga-jaga dan menentukan langkah selanjutnya. Dengan mengetahui dari sekarang, pemerintah bisa berupaya memastikan agar kondisi di lapangan nantinya tak separah yang sudah diprediksi para ahli.

Kabar baiknya, sekarang jumlah pasien sembuh di Indonesia lebih banyak dibanding jumlah korban meninggal.

Semoga saja jarak antara pasien sembuh dan meninggal semakin besar. Sehingga, timbul rasa optimisme di masyarakat untuk sama-sama berjuang mencegah angka ratusan ribu tersebut.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 4 halaman

Tingkat Kematian Berkurang, Bukan Berarti Melonggar

Kemarin (16/04), untuk pertama kalinya Indonesia mencatatkan jumlah pasien yang sembuh dari COVID-19 lebih besar dari jumlah kasus meninggal. Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto.

Tercatat 548 pasien sembuh dan 496 pasien meninggal. “Meninggal hari ini (kemarin) bertambah 27 orang, sehingga total meninggal menjadi 496 orang,” katanya.

Pasien yang dinyatakan sembuh adalah mereka yang sudah dua kali dilakukan pemeriksaan dan hasilnya negatif.

Antusias dengan kabar tersebut memang boleh. Tapi, bukan berarti karena fenomena sehari seperti itu, masyarakat jadi langsung melonggarkan physical distancing dan anjuran lainnya.

Pasalnya, menurut dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, sekarang kita belum masuk ke periode puncak kasus. Sehingga, angkanya masih bisa naik-turun, bahkan cenderung meningkat.

Tak ada yang bisa kita lakukan lagi selain melakukan pencegahan, dan berharap bahwa perbedaan angka tersebut semakin jauh (jumlah pasien sembuhnya yang lebih banyak).

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

3 dari 4 halaman

Prediksi Bisa Terjadi bila PSBB Tidak Dijalankan dengan Baik

Dalam rapat terbatas melalui video conference, Kamis (16/4). Presiden Joko Widodo meyakini pandemi virus corona akan berakhir pada  akhir tahun 2020.

“Saya meyakini, saya meyakini, semua ini akan hanya sampai akhir tahun,”ungkap Presiden Jokowi.

Tentunya, kita semua berharap hal yang dikatakan Jokowi tersebut dapat terwujud. Supaya masyarakat bisa beraktivitas normal kembali. Namun, ini juga tergantung dari kesiapan dan kesadaran masyarakat melakukan kebijakan pemerintah terkait pandemi COVID-19.

Profesor Amin Soebandrio (Peneliti dan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman) mengatakan apabila Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) tidak dilakukan dengan baik dan masyarakat terus-menerus abai, prediksi ratusan ribu itu bisa jadi benar.

“Ledakan kasus bisa terjadi kalau PSBB tidak dipatuhi dengan baik. Tidak cuma PSBB saja, tapi PSBB dan kawan-kawannya. Artinya, peran masyarakat, partisipasi masyarakat kurang besar,” jelasnya.

“Saya lihat banyak orang masih berkeliaran, berkerumun, tanpa masker, dan sebagainya. Pemerintah sudah berupaya kuat, tapi masyarakat tidak mematuhi dan berpartisipasi. Maka peningkatan akan cukup tajam,” tambah Prof. Amin kepada awak media.

Sebagai informasi, sudah ada beberapa kota yang melakukan PSBB, yaitu:

  • DKI Jakarta
  • Kota Bogor
  • Kabupaten Bogor
  • Kota Depok
  • Kota Bekasi
  • Kabupaten Bekasi
  • Kota Tangerang
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang Selatan
  • Kota Pekanbaru

Umumnya, semua kota di atas melakukan PSBB selama 14 hari. Namun, sangat mungkin untuk diperpanjang oleh kepala daerah masing-masing sesuai dengan kondisi yang ada.

Jika kasus virus corona masih tinggi, maka perpanjangan bisa dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Konsekuensi atas perilaku tersebut adalah jumlah kasus yang tinggi. Dengan adanya kasus yang tinggi, pasien yang membutuhkan perawatan akan melonjak dalam waktu singkat. Inilah yang dikhawatirkan bakal jadi beban bagi layanan kesehatan di Indonesia.

Jika masyarakat bisa lebih aware, maka angka kasus pun jadi rendah dan membuat puncak kasus menjadi agak mundur.

Menurut Prof. Amin, angka kasus yang tidak terlalu tinggi tidak menimbulkan adanya beban perawatan dan mudah untuk dikendalikan, meski butuh waktu perawatan yang lebih panjang.

Tidak ada yang dapat mengetahui secara pasti bagaimana kondisi ke depannya. Prediksi yang ada tetap didasari dengan berbagai data pendukung, agar semua pihak dapat lebih paham dan waspada.

Sebagai masyarakat, yang bisa kita lakukan adalah tidak berada di kerumunan, terus menerapkan pola hidup sehat, memakai masker, dan tidak melupakan physical distancing.

Tanggap terhadap situasi, KlikDokter bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan BNPB meluncurkan fasilitas cek risiko virus corona online yang bisa diakses secara mudah dan gratis.

Bila ingin tahu lebih lanjut seputar COVID-19 dan masalah kesehatan lainnya, gunakan fitur Live Chat 24 jam untuk konsultasi dengan dokter. Terus baca info penting dan terpercaya di KlikDokter, ya!

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar