Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • #Mugshotchallenge Bisa Ganggu Kesehatan Mental Korban Kekerasan

#Mugshotchallenge Bisa Ganggu Kesehatan Mental Korban Kekerasan

Hashtag #MugshotChallenge semakin terkenal di kalangan media sosial. Apa itu mugshot challenge dan benarkah bisa picu gangguan kesehatan mental korban kekerasan?

Rasanya bosan, ya, harus menghabiskan waktu di rumah berhari-hari karena pandemi virus corona. Mulai dari memasak, streaming film, membuat kopi dalgona, sampai ikut Mugshot Challenge terkini di instagram atau TikTok, mungkin jadi ‘pelarian’ bosan yang banyak orang lakukan.

Akan tetapi, tahukah Anda, salah satu tren hashtag #MugshotChallenge, sedang ramai di media sosial, lho. Selain ramai diikuti, tren ini juga banyak dikecam karena dianggap bisa mengganggu kesehatan mental korban kekerasan. Kok, bisa?

Apa Itu #MugshotChallenge?

Media sosial sempat dibanjiri dengan berbagai macam challenge (tantangan seru-seruan), seperti #FliptheSwitchChallenge atau #SavageChallenge. Kini, ada tantangan yang lagi ‘hits’ di kalangan anak muda, yaitu #Mugshotchallenge.

Mugshot Challenge sendiri adalah tantangan di mana Anda diminta untuk merias wajah seolah-olah penuh luka, lebam, memar, berdarah, dan rambut berantakan seperti habis berkelahi atau mendapatkan pukulan keras.

Setelah berdandan sedemikian rupa, Anda dapat meng-upload dan menyebarkannya ke media sosial.

Saat ini, tagar #Mugshotchallenge sendiri sudah memiliki lebih dari 155 juta video di aplikasi TikTok. Banyak juga orang yang memuja bahkan mengomentari hal positif seperti ‘makeup-nya bagus’ dalam beberapa video tersebut.

Artikel Lainnya: Mitos dan Fakta tentang Kesehatan Mental

Awalnya, #MugshotChallenge dipopulerkan oleh salah satu Beauty Vlogger, James Charles. Vlogger tersebut memperlihatkan riasan wajah seperti muka memar.

Banyak yang memujinya, tapi banyak juga netizen yang justru mengecam habis tantangan tersebut.

Mugshot Challenge dianggap tidak logis karena memperlihatkan riasan dengan luka lebam yang memicu gangguan mental korban kekerasan.

“Aku tidak mengerti mengapa tantangan seperti ini bisa jadi trending? Aku suka James, tapi ini tidak menyenangkan ketika kamu memiliki memar dan kamu tidak menutupinya. Mungkin aku terlalu sensitif, tapi ini membuat aku merasa sangat jijik dan tidak nyaman karena aku tidak bisa melepas memar di wajahku. Ini sangat tidak manusiawi, ” ujar salah satu akun @brananamuffin92.

Tidak hanya itu, banyak akun lainnya juga yang mengecam aksi dari James Charles ini, salah satunya seperti akun @Mouvaille.

“Aku merasa sangat jijik dengan wanita yang melakukan #Mugshotchallenge. Kalian harus tahu pelecehan yang diderita oleh wanita di penjara, terutama wanita berkulit hitam dan cokelat. Ini sangat tidak lucu, ini semua omong kosong!” tulisnya.

Artikel Lainnya: Terapi Online, Metode Penyembuhan Baru untuk Kesehatan Mental

1 dari 4 halaman

Komnas Perempuan Ikut Mengecam Aksi #MugshotChallenge

Dikutip dari Tempo, Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Siti Aminah Tardi,menilai Mugshot Challenge tidak peka pada korban kekerasan.

Menurutnya, tantangan tersebut membuat kekerasan menjadi suatu hal yang dipuja oleh banyak orang.

Siti mengatakan unggahan video maupun foto Mugshot Challenge berisiko menimbulkan rasa tidak peka terhadap kekerasan yang terjadi di dunia nyata.

Siti menyarankan agar masyarakat bisa memilih tantangan yang lebih mempertimbangkan perasaan korban dan keberpihakan untuk menghapus kekerasan.

Artikel Lainnya: 5 Kebiasaan yang Bisa Memicu Gangguan Kesehatan Mental

2 dari 4 halaman

Benarkah #MugshotChallenge Picu Gangguan Mental?

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, tren ini memang bisa memicu gangguan kesehatan mental seseorang yang pernah menjadi korban kekerasan seksual.

“Ketika korban melihat challenge tersebut, bisa saja memori tentang masa kelam dimana ia pernah diperlakukan buruk itu muncul lagi. Hal ini nantinya bisa buat korban jadi merasa cemas, sedih, bahkan depresi, ” ujar Ikhsan.

“Hal-hal ini jugalah yang nantinya bisa menimbulkan rasa takut dan trauma muncul lagi di kehidupan sang korban,” tambahnya

Lalu, menurut Ikhsan, masyarakat juga sebaiknya tidak langsung menyalahkan atau melemparkan judge orang-orang yang melakukan #MugshotChallenge. Sebab, tujuan yang dimaksud tantangan tersebut adalah untuk menunjukan estetika dari kemampuan mereka merias wajah.

Bukan untuk menyinggung atau bahkan ‘memancing’ memori buruk muncul lagi dari para korban kekerasan.

“Jadi jangan langsung di-bully karena melakukan Mugshot Challenge, karena tujuan dari makeup artis atau orang yang melakukan hal itu hanya sebagai seni dari merias wajah. Mereka juga mungkin tidak akan memikirkan bahwa impact-nya akan sebesar ini, di mana orang-orang justru jadi banyak yang mengecam, ” tambah Ikhsan.

Meski begitu, Ikhsan juga mengatakan, ini bisa jadi pelajaran bagi banyak orang untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan bersikap karena Anda tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan seseorang.

Artikel Lainnya: Manfaat Terapi Kesehatan Mental yang Dilakukan secara Berkelompok

3 dari 4 halaman

#MugshotChallenge Dianggap Mengurangi Empati pada Korban Kekerasan

Zarra Dwi Monica, M.Psi, Psikolog menyatakan, tren seru-seruan ini jelas mengurangi empati pada korban kekerasan. Ditambah, tren ini dapat memicu kesalahpahaman bagi masyarakat ke depannya.

“Buat followers atau viewers orang yang ikut challenge-nya, kan, juga bisa jadi bertanya-tanya atau khawatir apakah orang ini benar lagi terluka atau tidak. Terlebih kalau mereka belum tahu adanya mugshot challenge ini,” ungkap Zarra.

“Setelah tau kalau ini challenge ada, nggak menutup kemungkinan di masa mendatang dia melihat ada orang serupa, dipikir itu ya tantangan aja seperti yang sudah-sudah. Padahal itu mungkin benar terjadi, jadi orang bingung kan ini benar atau tidak,” tambah Zarra.

Jadi kesimpulannya, mengikuti challenge untuk seru-seruan boleh saja, terlebih kalau tujuannya untuk membunuh rasa bosan atau meningkatkan kreativitas selama di rumah. Namun, diperhatikan lagi model tantangannya, ya.

Namanya tantangan di media sosial, pasti dilihat dan dinilai oleh banyak orang. Jangan sampai apa yang disebarluaskan oleh diri sendiri merugikan orang lain, seperti #MugshotChallenge dan korban kekerasan betulan. Pastikan bahwa yang kita sebarluaskan di media sosial bermanfaat dan berguna bagi orang lain, bukan malah sebaliknya.

Bagi Anda yang ingin tahu lebih lanjut mengenai kesehatan mental, jangan sungkan untuk langsung bertanya kepada tim dokter melalui Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter. Gratis!

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar