Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Terapi Plasma Konvalesen untuk COVID-19 Masuk Uji Klinis Tahap 2

Terapi Plasma Konvalesen untuk COVID-19 Masuk Uji Klinis Tahap 2

Pemerintah akan menjadikan terapi plasma konvalesen sebagai pengobatan utama pasien COVID-19. Lalu bagaimana efektivitasnya selama ini?

Pemerintah telah menyelesaikan uji klinis tahap 1 terapi plasma konvalesen untuk pasien COVID-19 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Hasilnya, terapi tersebut aman dan tidak memiliki efek samping membahayakan. 

Menristek Bambang Brodjonegoro dalam siaran persnya mengatakan, terapi plasma konvalesen akan diupayakan menjadi pengobatan utama pasien COVID-19.

Saat ini, terapi tersebut juga tengah masuk uji klinis tahap 2, yang dilakukan di 29 rumah sakit. 

1 dari 4 halaman

Apa Itu Terapi Plasma Konvalesen? 

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, metode terapi plasma konvalesen sebenarnya sudah cukup lama digunakan. Termasuk ketika terjadi pandemi flu spanyol pada 1918, serta wabah flu babi, SARS, ebola, dan MERS beberapa tahun lalu.

Lalu, bagaimana terapi plasma konvalesen bekerja?

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, terapi tersebut dilakukan dengan memberi plasma (bagian darah yang mengandung antibodi) survivor COVID-19 kepada pasien lain.

Pendonor dapat memberikan plasma darah setelah memenuhi persyaratan dan melewati beberapa pemeriksaan. 

Menristek Bambang Brodjonegoro menyebut, terapi plasma konvalesen lebih baik diberikan kepada pasien COVID-19 bergejala sedang. Artinya, tidak untuk mereka yang dalam kondisi berat atau parah.

Hal serupa juga dikatakan David H. Muljono, peneliti senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Menurutnya, terapi plasma konvalesen virus corona hanya diberikan kepada pasien derajat sedang yang mengarah kepada pneumonia dan hipoksia. 

Perlu dicatat, terapi plasma konvalesen COVID-19 bukan diberikan sebagai upaya pencegahan, melainkan pengobatan. 

Sebagai produk tambahan dari terapi plasma konvalesen, Lembaga Eijkman tengah  mengembangkan alat ukur kadar antibodi spesifik COVID-19 dalam darah pasien.

“Utamanya untuk mengukur kualitas dari plasma darah yang diberikan oleh donor. Tapi  nantinya juga bisa diberikan setelah vaksinasi untuk mengecek apakah dari vaksin yang diberikan muncul daya tahan tubuh dan berapa lama immunity-nya bisa bertahan,” jelas Bambang, Selasa (20/10).

Perihal efektivitas terapi plasma konvalesen, dr. Astrid menyebut, baru diketahui setelah uji klinis rampung. 

“Menurut Cochrane (organisasi peneliti independen global), belum ada hasil yang meyakinkan karena kurangnya data dan penelitian,” kata dokter Astrid soal terapi plasma konvalesen untuk pasien COVID-19.

Artikel lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 4 halaman

Apa Saja Syarat bagi Pendonor dan Penerima Plasma?

Dokter Astrid mengatakan, secara umum tidak ada panduan yang mutlak terkait pendonor plasma darah. Sebab, semua tergantung pada karakter penyakit dan metode penelitian yang diterapkan. 

“Misalnya, kalau COVID-19 sekitar 14 hari setelah dinyatakan sembuh, sedangkan dulu ebola 28 hari,” sebut dr. Astrid. 

“Yang jelas harus masuk range usia, boleh donor. Kalau berdonor, tidak malah merugikan dirinya. Salah satu, biasanya tidak boleh ada penyakit lain yang sedang diderita,” ujar dia. 

Sementara itu, Kemenkes menyebut pasien COVID-19 bisa mengikuti uji klinis setelah memenuhi beberapa syarat. Di antaranya:

  • Usia minimal 18 tahun.
  • Dalam perawatan dengan gejala sedang yang mengarah ke berat. 
  • Mau dirawat minimal 14 hari.
  • Mengikuti prosedur dan tahap-tahap penelitian.

Pada uji klinis, sejumlah 200 mililiter plasma diberikan dua kali dengan jarak waktu tiga hari.

Artikel Lainnya: Ini Waktu yang Diperlukan Virus Corona untuk Hidup di Benda Mati

3 dari 4 halaman

Adakah Efek Samping dari Terapi ini?

Berdasarkan penjelasan Menristekdikti Bambang Brodjonegoro, tidak ada efek samping yang membahayakan dari uji klinis terapi plasma konvalesen. Oleh karena itu, manfaat terapi plasma konvalesen tersebut aman diberikan.  

Meski demikian, merujuk Pusat Nasional untuk Informasi Bioteknologi Amerika Serikat (NCBI), ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat menerapkan terapi plasma darah.

Utamanya terkait transfusi darah yang biasanya menimbulkan beberapa efek. Antara lain demam, tubuh menggigil, dan reaksi anafilaksis (syok akibat reaksi alergi berat). 

Selain itu, ada juga risiko infeksi yang ditularkan melalui transfusi. Misalnya, virus hepatitis B, hepatitis C, dan sifilis. Oleh sebab itu, praktik terapi plasma konvalesen harus dilakukan dengan benar dan hati-hati.

Perkembangan terapi plasma konvalesen di Indonesia berjalan baik. Semoga pengujian klinis tahap 2 juga membawa hasil positif sehingga membantu pengobatan pasien virus corona.

Jangan kelewatan informasi terbaru seputar virus corona di aplikasi KlikDokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar