Sukses

Ketahui Kebutuhan Vitamin D Berdasarkan Usia Anda

Setiap orang membutuhkan vitamin D dengan kadar yang berbeda-beda. Berikut kebutuhan vitamin D berdasarkan usia.

Salah satu vitamin yang diperlukan bagi tubuh manusia adalah vitamin D. Vitamin ini memiliki beragam peran penting, mulai dari untuk membentuk struktur tulang hingga menurunkan risiko infeksi. Kebutuhan vitamin D pada setiap orang berbeda-beda tergantung pada usia. Mari simak selengkapnya pada artikel berikut.

Seputar vitamin D dan manfaatnya

Vitamin D adalah sebuah vitamin larut lemak yang berperan dalam penyerapan kalsium dan fosfat dalam tubuh. Vitamin ini diproduksi di kulit Anda ketika terpapar sinar matahari.

Anda tentu sudah tahu bahwa vitamin D baik untuk pembentukan dan proses regenerasi tulang. Bahkan terapi vitamin D diberikan kepada mereka yang mengalami gangguan pada tulang, seperti rakitis dan osteomalacia.

Selain itu, tahukah Anda bahwa manfaat vitamin D juga dapat menurunkan risiko seseorang terinfeksi dari virus?

Ya, berbagai penelitian terbaru menemukan bahwa vitamin D dapat melindungi tubuh dari infeksi mikroba dengan tiga mekanisme: menguatkan ikatan antar sel, meningkatkan imunitas seluler, dan memperkuat imunitas adaptif.

Tak hanya itu, vitamin D juga dapat meningkatkan produsksi antioksidan yang dapat mendukung peran vitamin C sebagai antimikroba. Karenanya, di tengah pandemi COVID-19 saat ini, tercukupinya asupan vitamin D sangat penting untuk dilakukan – baik melalui paparan sinar matahari maupun suplemen.

1 dari 4 halaman

Kebutuhan vitamin D berdasarkan usia

Seperti yang telah dijelaskan, kebutuhan vitamin D setiap orang tidaklah sama. Hal ini dipengaruhi oleh faktor usia. Berikut penjelasannya:

  • Kebutuhan vitamin D untuk bayi

Kebutuhan vitamin D untuk bayi adalah sekitar 400 IU (international unit), atau sekitar 10 mikrogram.

ASI sendiri hanya mengandung 25 IU vitamin D per liter. Tentu ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D bayi. Jadi, penting bagi orang tua untuk memastikan bayi mereka terpapar sinar matahari secara cukup.

Jika bayi telah berusia lebih dari enam bulan, orang tua bisa memberikan MPASI yang mengandung banyak vitamin D, seperti kuning telur.

  • Kebutuhan vitamin D untuk anak-anak dan dewasa

Bagi anak-anak berusia di atas satu tahun, direkomendasikan untuk mendapatkan lebih dari 600 IU vitamin D per hari.

Jumlah tersebut sebenarnya dapat terpenuhi oleh paparan sinar matahari ketika anak-anak melakukan berbagai aktivitas di luar rumah. Namun pada beberapa kondisi, misalnya penggunaan sunscreen, dapat menghambat paparan sinar matahari sehingga menurunkan produksi vitamin D.

Oleh karena itu, ajaklah anak untuk mengonsumsi berbagai makanan seperti hati sapi, jamur, ikan tuna, dan susu agar kebutuhan vitamin D harian mereka terpenuhi.

Sementara kebutuhan harian vitamin D bagi orang dewasa -- baik wanita ataupun pria -- adalah sama, yaitu 600 IU. Begitu juga untuk ibu hamil maupun ibu menyusui.  

  • Kebutuhan vitamin D untuk orang usia lanjut

Dalam sehari, mereka yang telah berusia di atas 70 tahun membutuhkan 800 IU vitamin D. Peningkatan tersebut disebabkan oleh perubahan fisik dan perilaku yang biasa terjadi seiring dengan pertambahan usia.

Selain itu, konsumsi makanan yang mengandung vitamin D juga harus lebih banyak bagi mereka. Hal ini karena pada umumnya, lansia jarang menghabiskan waktu di luar ruangan sehingga mereka kurang terpapar sinar matahari.

Kemampuan lansia dalam memproduksi vitamin D3 dari radiasi matahari juga telah menurun. Mereka hanya mampu memproduksi sekitar 75 persen vitamin D dibandingkan dengan mereka yang lebih muda.

Oleh karena itu, mengonsumsi berbagai makanan yang mengandung vitamin D semakin direkomendasikan bagi mereka yang berusia lanjut. Telur, keju, beragam jenis ikan, dan minyak ikan bisa menjadi pilihan menu bagi mereka.

Pemberian suplemen vitamin D juga dapat dipertimbangkan sebagai antisipasi menurunnya nafsu makan atau sulitnya memperoleh jenis makanan yang mengandung vitamin D.

2 dari 4 halaman

Siapa saja yang berisiko mengalami defisiensi vitamin D?

Terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko seseorang mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin D, seperti:

  • Bayi yang memperoleh ASI eksklusif, namun jarang mendapatkan paparan sinar matahari.
  • Orang-orang lanjut usia (berusia lebih dari 70 tahun), karena kemampuan tubuh mereka dalam memproduksi vitamin D telah menurun.
  • Orang-orang yang berkulit hitam, karena mereka memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam membuat vitamin D dibandingkan kelompok populasi lain.
  • Orang-orang dengan obesitas, karena lemak tubuh akan mengikat vitamin D dan mencegah vitamin in masuk ke peredaran darah.
  • Orang-orang yang memiliki gangguan ginjal dan hati.
  • Orang-orang yang mengonsumsi obat yang dapat mengganggu metabolisme vitamin D, seperti obat antikejang, antijamur, glukokortikoid, dan lainnya.
3 dari 4 halaman

Apa dampaknya jika seseorang mengalami defisiensi vitamin D?

Sesuai fungsi utamanya, kekurangan vitamin D dapat melemahkan tulang dan menyebabkan osteoporosis, bahkan patah tulang. Kekurangan vitamin D yang berat juga dapat memicu timbulnya berbagai penyakit.

Pada anak-anak, mereka berisiko mengalami rakitis, sebuah penyakit langka yang menyebabkan tulang menjadi lemah dan membengkok.

Sedangkan pada orang dewasa, akibat kekurangan vitamin D dapat menyebabkan timbulnya osteomalacia. Penyakit ini membuat tulang menjadi lunak dan rapuh sehingga rentan patah.

Para peneliti juga menemukan kemungkinan hubungan antara kekurangan vitamin D dengan berbagai kondisi seperti diabetes, hipertensi, kanker, dan penyakit autoimun seperti multiple sclerosis. Walau demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk dapat menjelaskan kaitan tersebut.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut seputar kebutuhan vitamin D, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan dokter kami melalui fitur Live Chat yang tersedia di aplikasi KlikDokter.

[RS]

0 Komentar

Belum ada komentar