Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Tak Kebal Virus Corona, Remaja 13 Tahun Meninggal di Inggris

Tak Kebal Virus Corona, Remaja 13 Tahun Meninggal di Inggris

Sering ditekankan bahwa yang berisiko tinggi meninggal dunia adalah lansia. Ternyata di Inggris, ada juga pasien remaja yang meninggal akibat COVID-19!

Lansia dan orang-orang usia produktif berpenyakit kronis disebut-sebut menjadi “sasaran empuk” bagi virus corona. Nyatanya, ada juga bayi, anak, hingga remaja yang terinfeksi, bahkan memiliki gejala berat hingga berujung pada kematian.

Cerita Remaja yang Positif Virus Corona

Ismail Mohamed Abdulwahab, seorang remaja lelaki berusia 13 tahun di Inggris, meninggal dunia beberapa hari setelah dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Dilansir dari AFP, Rabu (01/04), keluarganya mengatakan, pasien meninggal akibat corona tersebut terlihat sangat sakit dan sesak napas sebelumnya.

Ismail meninggal dunia pada Senin lalu (30/03) di RS King's College, London. Selama koma dan mendapatkan perawatan, ia dipasangi ventilator. Tidak diketahui apakah sebelumnya ia punya penyakit penyerta atau tidak.

Meski tingkat kematian pada anak-anak rendah, tapi menurut seorang tenaga pengajar di King's College, Nathalie McDermott, kasus yang menimpa Ismail ini mengingatkan kita semua bahwa ancaman virus corona memang tak main-main.

Sementara itu, seorang anak perempuan 12 tahun di Belgia juga dilaporkan meninggal pasca terinfeksi virus corona. Ia menjadi korban termuda di Eropa.

Di Indonesia sendiri, ada remaja 12 tahun dan 16 tahun yang menjadi pasien dalam pengawasan (PDP). PDP yang berusia 12 tahun telah meninggal dunia, sementara yang remaja yang berusia 16 tahun sudah positif terinfeksi.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

1 dari 3 halaman

Mengapa Remaja Bisa Kritis saat Infeksi Corona?

Seperti yang sempat disinggung di atas, tidak diketahui apakah Ismail dan seorang anak perempuan di Belgia itu punya penyakit penyerta atau tidak.

Jika mereka terbukti memiliki penyakit penyerta, maka risiko mereka untuk mengalami perburukan kondisi memang lebih besar.

Menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD, walaupun COVID-19 memiliki risiko yang lebih tinggi pada usia tua dan pasien dengan penyakit kronis, tetapi tidak berarti usia muda dapat terhindar dan tak bisa mengalami penyakit COVID-19 yang berat.

“Memang sudah ada beberapa laporan pasien usia muda yang mengalami perburukan dan meninggal, walaupun persentasenya lebih sedikit dibandingkan usia tua.

Untuk kasus pada usia muda, perlu dilihat apakah benar nggak ada sakit penyerta, misalnya asma, sakit jantung atau paru? Kita tidak tahu secara detail untuk kasus ini,” jelas dr. Alvin.

“Intinya, usia muda tetap bisa menderita COVID-19 yang berat. Jadi, perlu diwaspadai juga,” ia melengkapi.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

Benarkah Biasanya Remaja Hanya Jadi Carrier?

Remaja memang memiliki sistem imunitas tubuh yang lebih kuat dibanding lansia. Oleh karena itu, umumnya, mereka yang terpapar virus corona hanya menjadi carrier, bukan penderita gejala. Namun, ini masih kecenderungan, bukan suatu hal yang pasti.

Sekali lagi, remaja tetap bisa mengalami gejala yang parah dari COVID-19, apalagi bila sejak kecil mereka sudah menderita penyakit, seperti asma atau gangguan kesehatan yang cukup berat lainnya.

Terpapar terus-menerus tanpa perlindungan apa pun plus tingkat stres yang tinggi juga bisa memperparah gejala virus corona, lho.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

2 dari 3 halaman

Bagaimana agar Remaja Peduli terhadap COVID-19

Tak bisa dimungkiri bahwa sebagian besar remaja merasa lebih kebal terhadap infeksi virus berbahaya ini. Kabar baiknya, tak sedikit juga yang sudah peduli dan benar-benar menerapkan physical distancing dan justru membuat konten bagus terkait virus corona.

Konten-konten kesehatan yang menarik sebenarnya bisa meningkatkan kepekaan remaja terhadap pandemi ini. Kalau diperhatikan, sangat banyak, kok, info-info digital yang informatif tapi tetap mudah dimengerti dan tidak menakuti terkait COVID-19!

Bahkan, di TikTok, para remaja juga bisa mendapatkan konten mulai dari bagaimana cara mencuci tangan yang benar, mencegah penyebaran virus, hingga referensi kegiatan apa yang bisa dilakukan selama karantina.

Selain itu, ada baiknya perasaan ego juga diredam. Hal ini masih berhubungan dengan larangan mudik ke kampung halaman.

Remaja berpotensi menjadi carrier virus corona. Jika kaum muda kembali ke kampung halaman dan bertemu orang tuanya, maka bisa saja terjadi penularan kepada orang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Akibatnya tentu bisa fatal!

Semoga kasus meninggalnya remaja yang menjadi pasien virus corona bisa menyadarkan kita semua bahwa tak ada lagi alasan untuk tak melakukan pencegahan penyebaran COVID-19, berapa pun umurnya.

KlikDokter telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menekan angka persebaran virus corona. Virus corona bisa kita tangani bersama!

Gunakan fitur Live Chat 24 jam untuk konsultasi dengan dokter, dan coba Cek Corona Online bila cemas terinfeksi. Jangan lupa selalu update berita terbaru seputar virus corona dan tips kesehatan di KlikDokter, ya!

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar