Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • 283 Warga DKI Jakarta Dimakamkan Secara Protokol COVID-19, Mengapa?

283 Warga DKI Jakarta Dimakamkan Secara Protokol COVID-19, Mengapa?

Meski belum pasti positif COVID-19, Gubernur DKI Jakarta meminta jenazah dimakamkan dengan menggunakan protokol khusus COVID-19. Berikut selengkapnya.

Tak cuma soal karantina wilayah Jakarta, Gubernur Anies Baswedan juga mengungkapkan soal pemakaman dan pemulasaran ratusan jenazah selama bulan Maret 2020. Setidaknya, sudah ada 283 jenazah di Jakarta yang dimakamkan menggunakan protokol khusus virus corona.

DKI Jakarta memang menjadi pusat outbreak atau episenter dari penyebaran virus corona di Indonesia. Karena itu, dikhawatirkan, jika salah cara dalam menangani jenazah yang berkaitan dengan wabah tersebut, maka akan fatal akibatnya.

Dokter Reza Fahlevi mengatakan jenazah pada dasarnya masih dapat menularkan virus. “Ya, pasien yang baru meninggal memang masih dapat menularkan virus karena cairan di tubuhnya masih bertahan,” kata dr. Reza.

“Karena masih bisa bertahan, maka cairan yang ada dalam tubuh jasad itu masih bisa menginfeksi mereka yang mengurus jenazah. Jadi, perlu ada prosedur khusus untuk menanganinya,” dr. Reza melengkapi.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

1 dari 4 halaman

Tapi, Apakah Ratusan Jenazah Itu Memang Positif COVID-19?

Meski telah dimakamkan dengan protokol COVID-19, Anies juga mengatakan, beberapa jenazah sebenarnya belum sempat di tes atau hasil pemeriksaan laboratorium mereka belum keluar.

Mereka ini adalah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pemantauan (PDP) coronavirus.

Namun, seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, Jakarta merupakan episenter virus berbahaya tersebut. Jadi, akan lebih baik jika sedari awal jenazah dikebumikan dengan protokol virus corona.

Sebagai informasi, prosesi tersebut sudah dilakukan sejak tanggal 6 Maret 2020, dan berikut protokol pemulasaran jenazah COVID-19  yang dimaksud oleh Gubernur Anies:

  • Jenazah harus dimakamkan maksimal empat jam setelah kematian.
  • Lalu, jenazah dibungkus dengan plastik dan dimasukkan ke dalam peti.
  • Peti tersebut tidak boleh dibuka-buka lagi.
  • Orang yang bertugas dalam pemulasaran jenazah juga wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
  • Dan saat pemakaman berlangsung, tidak boleh ada kerumunan.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

2 dari 4 halaman

Pemakaman ODP dan PDP Perlu “Segitunya”?

Senin (30/03), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto menyebutkan, dari 122 pasien meninggal dunia, 74 kasus di antaranya berada di DKI Jakarta.

Hal itu wajar terjadi, karena Jakarta sendiri memang episenter penyebaran virus tersebut, sehingga tingkat kematiannya pasti lebih tinggi.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang meninggal, tetapi statusnya belum positif COVID-19? Apakah memakamkannya dengan protokol corona terbilang berlebihan.

Sepertinya tidak berlebihan, ya. Sebab, mencegah penularan tentu jauh lebih baik daripada pengobatan infeksi.

Apabila jenazah suspect infeksi coronavirus dibiarkan mendapatkan prosesi pemakaman seperti biasa, kemungkinan hal-hal berisiko di bawah ini bisa terjadi:

  • Jenazah tidak cepat dikuburkan.
  • Anggota keluarga dan kerabat lain masih bisa dekat atau menyentuh jenazah .
  • Ada kerumunan saat penguburan.
  • Petugas yang mengubur jenazah tidak memakai alat pelindung diri yang aman.

Jika hal-hal di atas terjadi, maka risiko penularan penyakit akan sangat tinggi! Dalam hal ini, mungkin gubernur tidak mau ambil risiko yang lebih tinggi lagi.

Mereka adalah OPD dan PDP, bukan orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan COVID-19. Jadi, akan lebih baik memang jika dimakamkan mengikuti protokol virus corona.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

3 dari 4 halaman

Mengapa Tingkat Infeksi Virus Corona di Jakarta Tinggi?

Menjadi ibu kota suatu negara, pasti wilayah tersebut memiliki mobilitas yang jauh lebih tinggi daripada kota-kota lainnya. Biasanya, yang hampir bisa menyamai tingkat mobilitas tersebut adalah daerah yang menjadi pusat pariwisata terkenal.

Seperti yang kita ketahui bersama, pada awalnya virus ini berasal dari luar negeri. Orang Indonesia yang pertama kali terinfeksi juga “mendapatkan” virus tersebut karena berinteraksi dengan orang asing di Jakarta.

Dengan demikian, semakin tinggi tingkat mobilitas suatu kota, maka semakin tinggi pula risiko penularannya.

Aktivitas di kota Jakarta juga luar biasa padat, beragam acara “kumpul-kumpul” dari berbagai bidang, mulai dari seni, politik, hingga keagamaan juga terjadi di ibu kota.

“Isi” dari transportasi umum di Jakarta juga luar biasa penuh. Banyak satu gedung besar diisi oleh sekumpulan orang dari berbagai daerah. Maka, jangan heran Jakarta menjadi kota yang paling banyak memiliki pasien COVID-19  di Indonesia.

Dengan demikian, dukung keputusan pemerintah dalam melawan menekan COVID-19. Sebagai platform eHealth tepercaya, KlikDokter juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan BNPB untuk menekan angka persebaran virus corona.

Apabila ingin tahu lebih lanjut seputar coronavirus, gunakan fitur Live Chat untuk konsultasi dengan dokter. Untuk membantu menentukan gejala, coba Cek Corona Online. Tetap semangat dan ikuti terus info terbaru yang akurat dari KlikDokter!

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar