Sukses

Waspada Gejala Psikosomatis di Tengah Pandemi COVID-19!

Membaca berbagai berita mengenai virus corona menyebabkan gejala psikosomatis. Berikut penjelasannya!

Semakin bertambahnya jumlah penderita infeksi COVID-19 membuat hampir seluruh orang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, merasa cemas dengan pandemi yang tengah terjadi ini. Kecemasan publik menyebar sama cepatnya dengan penyebaran virus ini terutama melalui kanal sosial media dan televisi.

Pernahkah Anda mengalami kecemasan ataupun tiba-tiba merasa tenggorokan kita agak gatal, nyeri, dan merasa suhu tubuh sedikit meriang padahal setelah diukur suhu tubuh Anda normal, atau bahkan merasakan gejala-gejala yang mirip dengan infeksi virus corona saat membaca berita mengenai virus COVID-19? Tenang, hal itu adalah wajar. Reaksi tubuh yang Anda rasakan merupakan gejala psikosomatis. Anda tidak perlu terburu-buru menyimpulkan bahwa Anda terkena virus corona. Simak penjelasannya yuk!

Apa Itu Gejala Psikosomatis?

Menurut dr. Rio Aditya, gejala psikosomatis adalah gejala yang secara fisik muncul tanpa adanya gangguan yang sebenarnya. Hal ini seringkali dipicu oleh adanya faktor psikologis. Istilah gangguan psikosomatis biasanya digunakan untuk menyatakan seseorang merasakan sugesti atau keluhan fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis atau mental, seperti rasa cemas, stres, dan depresi.

Salah satu reaksi tubuh yang muncul ditengah pandemi yang melanda global ini dipicu oleh berita-berita yang terus menerus terkait COVID-19 ini. Rasa cemas dan was-was berlebihan ini akan menyebabkan tubuh Anda bereaksi berlebihan saat kita merespon berita atau kabar yang kita baca.

1 dari 3 halaman

Bagaimana Orang Bisa Mengalami Gejala Psikosomatis

Informasi yang masuk ke dalam alam bawah sadar kita dapat melalui beberapa jalur yaitu:

  • Otoritas. Dalam hal ini segala informasi yang diberikan oleh pihak yang memiliki wewenang akan mudah diterima oleh alam bawah sadar Anda sebagai sebuah informasi yang dianggap benar.
  • Emosi. Bila Anda menerima sebuah informasi dan disertai dengan perasaan atau emosi yang intens, baik secara positif atau negatif, secara tidak sadar akan diingat oleh otak sebagai sesuatu yang penting.
  • Repetisi. Bila Anda melihat, mengulang, membaca, membicarakan, mengingat, membayangkan, mendengarkan, atau bahkan mencari sebuah informasi yang terus menerus secara otomatis akan menjadi memori yang masuk ke otak sebagai informasi yang penting.
  • Identifikasi kelompok. Hal ini terjadi saat informasi ini Anda menerima atau membenarkan hal yang telah dinilai benar oleh sekelompok orang di dalamnya. Misalnya Anda menerima informasi dari sebuah grup whatsapp yang menyatakan bahwa virus COVID-19 menyebar melalui cairan yang terkena oleh kulit kita. Hal ini akan diingat pula oleh otak sebagai informasi yang penting.
  • Relaksasi pikiran. Hal ini terjadi saat pikiran rileks, sore atau malam hari saat mau tidur, atau pagi hari saat baru bangun tidur, saat kita membaca, mendengar, menonton tayangan atau informasi tertentu, Anda langsung menerima informasi ini sebagai informasi yang penting tanpa disaring oleh faktor kritis pikiran sadar.

Berita mengenai COVID-19 yang terus menerus kita baca diproses oleh tubuh. Bagian tubuh kita yang bernama Amygdala akan memproses informasi tersebut. Amygdala adalah pusat rasa cemas dalam tubuh, sehingga ketika menerima informasi yang berlebihan membuat Amygdala ini terlalu aktif bekerja dan mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan.

Hal ini menyebabkan tubuh dan keadaan mental selalu dalam keadaan ‘siaga’. Ketidakseimbangan inilah yang memunculkan gejala psikosomatis muncul sebagai reaksi untuk siap siaga dalam menghadapi ancaman terhadap tubuh. Bila keadaan ini dibiarkan terus menerus, Anda akan mengalami gejala kecemasan berlebihan bahkan dapat mengarah pada kepada stres dan depresi.

Semakin Anda cemas atau takut, semakin stres Anda, semakin banyak hormon stres diproduksi oleh tubuh, dan semakin tertekan kerja sistem imun, dan semakin besar kemungkinan Anda jatuh sakit, semakin besar risikonya bila Anda benar-benar terpapar virus corona.

2 dari 3 halaman

Bagaimana Cara Mengatasi Gejala Psikosomatis

Salah satu cara untuk mengurangi gejala psikosomatis akibat Amygdala yang terlalu aktif memproses informasi yang terus menerus kita baca adalah dengan mengurangi dan membatasi informasi yang terkait dengan COVID-19. Lakukan hal lain selain mencari informasi tentang hal ini, missal dengan mengerjakan hobi atau melakukan hal yang menyenangkan.

Selain itu, menjaga kesehatan fisik agar sistem imun tetap terjaga juga tetap perlu dilakukan.  Kesehatan mental pun juga perlu ditingkatkan dengan mulai menanamkan pikiran-pikiran yang positif. Istirahat sejenak dari mencari-cari berita atau informasi tentang COVID-19 juga dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Gejala psikosomatis dapat dibedakan dengan gejala sesungguhnya dengan melakukan pemeriksaan objektif seperti bila Anda mulai merasa demam, Anda dapat mengukur suhu tubuh Anda terlebih dahulu. Namun, bila Anda benar-benar merasa daya tahan tubuh Anda menurun dan menunjukkan gejala-gejala infeksi COVID-19 segeralah ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan pengecekan secara mendalam.

Pastikan tubuh kamu tetap bugar secara fisik dan mental agar benar-benar terhindar dari virus corona. Selain itu, cuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang lain juga perlu dilakukan. Biasakan untuk melakukan relaksasi tubuh Anda selama 10-20 menit per hari untuk mengelola pikiran dan perasaan kita.

Bagi Anda yang punya pertanyaan seputar cek virus corona atau penyakit lainnya? Yuk, tanya langsung di fitur LiveChat. Di aplikasi KlikDokter, Anda juga bisa cek mandiri risiko virus corona online. Buruan, klik di sini.

0 Komentar

Belum ada komentar