Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Angka Pasien Coronavirus AS Lampaui Tiongkok, Ini Fakta-faktanya

Angka Pasien Coronavirus AS Lampaui Tiongkok, Ini Fakta-faktanya

Kabar mengejutkan datang dari negara, Amerika Serikat. Di mana jumlah kasus virus corona-nya (27/03) tersebut melebihi Tiongkok! Berikut info selengkapnya.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat menyebut virus corona sebagai “virus China”. Akan tetapi kini, jumlah kasus positif virus SARS-CoV-2 di negara kekuasaannya sudah melampaui angka di Tiongkok, yakni lebih dari 85 ribu kasus!

Jumlah kasus yang dikonfirmasi itu naik 17 ribuan dari hari sebelumnya. Pasien meninggal di negeri adidaya itu dilaporkan sudah lebih dari 1.000 orang.

Dengan demikian, ada tiga negara yang memiliki kasus COVID-19 lebih dari 80 ribu, yakni AS, Tiongkok, dan Italia. Sisanya, disusul negara-negara asal Eropa, seperti Spanyol, Jerman, dan Prancis.

Kota yang Jadi ‘Epicenter’ Virus Corona

Dari sekian banyak negara bagian di Amerika Serikat, wilayah yang paling banyak memiliki kasus positif virus corona adalah New York. Daerah maju dan dianggap “tak pernah tidur” itu, setidaknya memiliki angka lebih dari 37.000 kasus.

Dikutip dari VNBC, Gubernur New York, Andrew Cuomo mengatakan, adanya kasus baru di kota “Big Apple” ini menyumbang hampir setengah dari keseluruhan kasus coronavirus di AS.

Peningkatan kasus yang naik drastis tersebut disebabkan oleh infeksi yang “bersembunyi” sebelum dilakukan pengujian.

Ada pun negara bagian AS lainnya yang juga memiliki angka ribuan untuk jumlah pasien virus corona, antara lain New Jersey, California, Washington, Colorado, Connecticut, Florida, Georgia, Illinois, Louisiana, Massachusetts, Michigan, Pennsylvania, dan Texas.

Kendati demikian, kasus angka kematian tertinggi masih dipegang oleh kota New York, yakni di atas 300 orang.

Sebagai informasi tambahan, kasus virus corona pertama di AS dilaporkan pada 21 Januari lalu. Dia adalah seorang pria asal Washington yang baru kembali dari Tiongkok. Tak menyangka bisa meluas seperti sekarang, rumah sakit di AS mulai kelimpungan.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

1 dari 3 halaman

Rumah Sakit di Amerika Kekurangan Perlengkapan dan Tenaga Medis

Adanya lonjakan kasus membuat rumah sakit di seluruh negara bagian Amerika Serikat menjadi was-was. Mereka menyatakan bahwa kekurangan ruangan dan juga tak punya tenaga medis yang cukup untuk merawat seluruh pasien corona.

Para tenaga medis di New York juga mengaku sangat kelelahan. Dilansir dari CNN, mereka menangis di kamar mandi saat istirahat dan ketika melepas APD.

Mereka sangat khawatir dan tak menyangka harus menginkubasi 5 pasien hanya dalam waktu 10 menit.

Bahkan, sebagian dari mereka ada yang mengaku putus asa. New York Bellevue Hospital Center sampai menciptakan kamar mayat darurat menggunakan tenda dan truk berpendingin.

Sementara di Elmhurst Hospital Center, Queens, setidaknya sudah ada belasan pasien yang meninggal karena coronavirus dalam waktu 24 jam.

Hampir sama dengan negara-negara lain, pasien yang mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit sebagian besar adalah lansia.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

Wabah COVID-19 di AS Diprediksi Bertahan Selama 18 Bulan

Selain itu, banyak penelitian yang “meramalkan” kalau AS akan mengalami kemungkinan terburuk.  Salah satu prediksi dilaporkan oleh University of Massachusetts Amherst, mereka mengatakan wabah virus corona di AS ini dapat berkembang lebih parah dalam beberapa bulan mendatang.

Dikutip dari CNN, dr. Ashish Jha, direktur Harvard Global Health Institute juga berpendapat, kalau wabah COVID-19 di AS bisa bertahan sampai 18 bulan ke depan.

Opini ini diberikan, mengingat dokter dan ahli kesehatan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk membuat vaksin antivirus corona.

"Begitu kita memiliki vaksin yang efektif dan dapat digunakan secara luas, kita dapat mengakhiri pandemi ini. Jika belum ada vaksinnya, kita akan terus harus berhadapan dan berurusan dengan virus corona," jelas dr. Ashish Jha.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

2 dari 3 halaman

Kasus Virus Corona di AS Bisa Jadi Pelajaran bagi Indonesia

Semua orang di dunia ini tahu, Amerika Serikat adalah negara maju yang punya produk-produk serta fasilitas canggih, tak terkecuali fasilitas kesehatan yang dimiliki mereka.

Namun, perlu diingat lagi, jumlah pasien corona di sana hampir mendekati angka 100 ribu! Secanggih apapun fasilitas yang dimiliki, tenaga medis AS juga akan kewalahan menghadapi pasien-pasien dengan virus berbahaya tersebut.

Bayangkan jika itu terjadi di Indonesia. Ibaratnya, “Mereka yang punya fasilitas kesehatan baik baik saja kewalahan, apa lagi kita?”.

Oleh sebab itu, supaya angka pasien positif COVID-19 di Indonesia tidak melonjak tiap harinya, terapkanlah physical dan social distancing.

Sebab, menurut dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, social distancing sangat penting dalam menekan penyebaran virus corona, terutama dari orang muda ke lansia. Supaya, tak semua daerah di Indonesia terkena imbasnya.

Tahan dulu niatan untuk kembali daerah asal, terutama jika Anda tinggal di pusat outbreak, seperti Jakarta.

Memang, ketika rapid test sudah dilakukan di banyak daerah Indonesia, diramalkan ada kenaikan yang signifikan. Tapi sebagai masyarakat, setidaknya kita bisa memutus tali penularan itu dengan stay di rumah dulu untuk sementara waktu.

Lalu, bagaimana cara kita menahan bertambahnya kasus dan menurunkan jumlah pasien COVID-19 di Indonesia? Menurut dr. Alvin, perlu kerjasama lintas sektor seperti pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat seperti berikut ini:

  • Pemerintah harus mengoptimalkan dan menyediakan alur diagnosis serta pengobatan yang jelas. Misal, jika ada gejala, masyarakat dijelaskan harus berobat kemana, lalu fasilitasnya kesehatan dipastikan cukup.
  • Pemerintah juga harus meningkatkan lagi sumber daya dan fasilitas bagi tenaga kesehatan.
  • Sekali lagi diingatkan, masyarakat harus berperan aktif dengan mematuhi anjuran pemerintah dengan cara social atau physical distancing.

Semoga saja kasus lonjakan virus corona di Amerika Serikat dapat membuka mata kita semua, bahwa COVID-19 bukan wabah main-main.

Ya, negara mana pun sekarang dapat bernasib sama bahkan lebih parah jika masyarakat dan pemerintahnya tak sungguh-sungguh dalam memerangi pandemi ini.

KlikDokter telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona.

Kalau mau tahu lebih lanjut seputar COVID-19 gunakan fitur LiveChat untuk konsultasi langsung dengan dokter. Dan untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini. Semoga sehat selalu, semuanya!

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar