Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Takut Salah Sangka, Hindari Bandingkan Kasus Coronavirus di Negara Lain

Takut Salah Sangka, Hindari Bandingkan Kasus Coronavirus di Negara Lain

Sebaiknya hindari membandingkan kasus virus corona di satu negara dengan lainnya. Karena itu ,dapat menyesatkan dan malah bisa berbahaya.

Beda negara, beda pula kasus virus corona strain baru SARS-CoV-2 yang mesti dihadapi. Dari mulai angka penularan, korban jiwa, kepulihan, lockdown, hingga bagaimana pontang-pantingnya sistem kesehatan.

Anda termasuk orang yang tiap hari update perkembangan wabah penyakit COVID-19 yang berstatus pandemi global? Anda tak sendirian.

“Kenapa pemerintah tak becus?!”

“Kenapa negara tetangga angka penularannya sudah turun drastis?!”

“Kenapa di negara itu angka kematiannya sangat rendah?!”

Mungkin itu adalah beberapa pertanyaan yang setiap hari ingin Anda cari jawabannya. Namun, mulai sekarang sebaiknya jangan membanding-bandingkan kasus di negara satu dengan negara lainnya. Pasalnya, itu bisa menyesatkan, bahkan bisa berbahaya.

1 dari 3 halaman

Ingat, Kondisi Data Pemerintah Tiap Negara Berbeda

Salah satu cara untuk update perkembangan COVID-19 adalah dengan mengakses situs web peta persebaran.

Salah satu yang paling banyak diakses adalah peta persebaran yang disusun oleh Universitas Johns Hopkins, bahkan dikunjungi oleh lebih dari 1 miliar orang tiap harinya.

Untuk orang-orang yang rajin membandingkan data dan mencoba untuk memahami bagaimana epidemi di tiap-tiap negara berbeda-beda.

Para ahli memperingatkan tiap negara punya standar yang berbeda dalam melaporkan kasus, pendekatan yang berbeda pada pemeriksaan, serta pendekatan yang tak sama pula dalam melacak kasus.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

Nah, itu semua bila dibandingkan bisa berpotensi menyesatkan.

Sheila Bird, ahli biostatistik sekaligus profesor di Universitas Cambridge, Inggris, mengatakan bahwa pengujian dan pelaporan di setiap negara belum tentu konsisten dengan data yang ada.

Sebagai gambaran, ia mencontohkan kasus di beberapa negara. Pemerintah Inggris mengatakan bahwa sistem kesehatan di sana tak mampu untuk melakukan tes untuk semua orang yang punya gejala COVID-19.

Hanya pasien yang sudah dalam kondisi sakit yang memerlukan perawatan di rumah sakit dan menjalani tes virus corona.

Berdasarkan data per 27 Maret, kasus di Inggris mencapai 11.813, dengan 580 tingkat kematian dan 150 berhasil pulih.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

Sementara itu, di Jerman, setiap orang yang punya gejala mirip flu dan berkontak dengan seseorang yang positif terinfeksi dalam rentang waktu 14 hari, atau punya riwayat perjalanan ke negara dengan angka kasus tinggi, akan dites.

Data kasus di Jerman per 27 Maret adalah 42.278 kasus terkonfirmasi, 281 meninggal dunia, dan 5.673 berhasil pulih.

Beda lagi di Korea Selatan. Di negara tersebut ada akses gratis dan mudah pengujian untuk siapa pun yang dianggap perlu oleh dokter. Tak hanya itu, pihak berwenang pun telah melacak kontak pasien yang terinfeksi.

Per 27 Maret, di Korea Selatan ada 9.332 kasus infeksi positif, 139 kematian, dan 4.528 sembuh.

Berdasarkan data tersebut, Inggris tampak seperti punya tingkat kematian yang relatif tinggi. Namun, faktanya belum tentu seperti itu. Karena di sana, hanya yang benar-benar sakit lah yang dites COVID-19.

Orang-orang dengan gejala yang ringan, yang cenderung lebih mungkin untuk sembuh, diperintahkan untuk mengisolasi diri di rumah tanpa dites. Artinya, orang-orang ini tidak masuk dalam data.

Dari situ, angka tak selalu bisa menjadi patokan untuk seseorang mengambil kesimpulan.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

2 dari 3 halaman

Mengapa Sebaiknya Jangan Membanding-bandingkan?

Kepada KlikDokter, dr. Sepriani Timurtini Limbong mengatakan, kecenderungan membanding-bandingkan proses penanganan kasus virus corona di Indonesia dengan negara lain masih menjadi tabiat buruk yang dilakukan oleh banyak masyarakat.

Bahkan, tak sedikit masyarakat yang justru menghujat dan meremehkan kemampuan pemerintah Indonesia dalam menangani kasus novel coronavirus ini.

“Jika selalu punya pikiran untuk membanding-bandingkan kemampuan penanganan atau apa pun yang berhubungan dengan virus corona dengan negara lain, maka masyarakat jadi antipati dengan langkah-langkah yang diambil pemerintah,” jelasnya.

“Karena sering dikritik dan dan dibandingkan, imbasnya nanti masyarakat jadi tidak mengikuti imbauan dan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Hal inilah yang nantinya jadi meningkatkan angka kasus penularan, baik di Indonesia maupun di negara lainnya kalau suka membanding-bandingkan,” ia melanjutkan.

Karenanya, masyarakat harus tahu beberapa alasan mengapa setiap negara tidak boleh membanding-bandingkan kasus virus corona dengan negara lainnya.

  • Kondisi demografis setiap negara berbeda (iklim, jenis penyakit, jumlah penduduk, karakteristik penduduk, dan tingkat pendidikan).
  • Sistem kesehatan masing-masing berbeda (ini alasan mengapa kebijakan di negara lain tidak bisa mentah-mentah diterapkan di Indonesia).

Dokter Sepriani menyarankan, ketimbang membandingkan, alangkah baiknya jika Anda lebih waspada dengan penyebaran virus corona dan melakukan pencegahan yang ditetapkan oleh pemerintah seperti menjaga jarak (physical distancing) dan kerja dari rumah alias work from home.

“Selama Anda patuh dan tidak ‘batu’ jika diberi tahu, ya, persebaran virus corona pasti akan lebih muda ditekan. Bahkan, pandemi global ini bisa lebih cepat berakhir, ” tutupnya.

Jika Anda memiliki gejala seperti demam tinggi, sesak napas, batuk, pilek dan sakit tenggorokan, segera periksakan diri ke rumah sakit terdekat. Makin dini itu dilakukan, maka makin cepat juga penanganan yang didapat.

Sebagai informasi, KlikDokter bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona. Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini atau bertanya kepada tim medis KlikDokter yang kredibel.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar