Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Dilarang Mudik, Pemda Tegal Lakukan Lockdown untuk Cegah COVID-19

Dilarang Mudik, Pemda Tegal Lakukan Lockdown untuk Cegah COVID-19

Khawatir pasien positif COVID-19 makin banyak, Pemda Tegal rela lockdown kota demi mencegah virus corona makin menyebar. Berikut info selengkapnya.

Sebelum membahas lebih lanjut soal lockdown yang dilakukan kota Tegal, ketahui dulu jumlah kasus virus corona di Indonesia. Kian melonjak, kasus positif COVID-19 di Indonesia kini berjumlah 1.046 (27/03) pukul 15.30 WIB.

Dikatakan Juru Bicara Pemerintah terkait penanganan wabah corona, Achmad Yurianto, penambahan paling banyak berasal dari DKI Jakarta dan Sulawesi Selatan. Jumlah pasien yang sembuh 56 orang, sedangkan pasien meninggal berjumlah lebih banyak, 87 orang.

Mengapa Tegal Lakukan Lockdown Virus Corona?

Karena pertambahan jumlah kasus positif di Tanah Air sulit dibendung, muncul keputusan kontroversial dari salah satu kota di Jawa Tengah. Ya, Tegal “menutup diri” sampai empat bulan ke depan alias 30 Juli 2020!

Sang Walikota, Dedy Yon Supriyono menyebutkan, local lockdown di daerahnya akan ditutup beton guna membatasi akses keluar-masuk warganya. Agar lebih efektif, pemakaian beton di 49 titik pun dilakukan.

Ternyata, dulu local lockdown di sana juga pernah dilakukan dengan water barrier, lho.

Polisi, Dinas Perhubungan (Dishub), dan gugus COVID-19 juga akan membantu mengawasi perbatasan supaya tidak ada masyarakat yang bandel.

Sementara itu, alasan terkuat mengapa walikotanya mengambil langkah lockdown ini adalah status kotanya yang sudah disebut zona merah COVID-19. Status ini dipastikan setelah salah satu warganya di Slerok dinyatakan terinfeksi virus corona.

Warga Tegal itu berusia 34 tahun dan sedang dirawat di RS Kardinah sejak 16 Maret 2020. Pasien baru pulang dari Abu Dhabi.

Bukan membiarkan kota Tegal seperti “kota mati”, walikota hanya membatasi warganya untuk bepergian ke luar zona saja.

Itu semua demi mencegah virus corona semakin tersebar luas di daerahnya. Mendukung keputusan walikota, Wakil Walikota Tegal, Muhammad Jumadi mengatakan, Pemda tidak bermaksud melawan kebijakan pemerintah pusat.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

1 dari 4 halaman

Apakah Sistem Lockdown Ampuh Kurangi Infeksi Virus Corona?

Lockdown adalah sebuah protokol untuk menutup suatu wilayah agar populasi di dalamnya tidak keluar dari wilayah tersebut. Ini bersifat wajib, tetapi sewaktu-waktu protokol lockdown juga bisa dicabut, tergantung pada kondisi yang ada (biasanya saat sudah membaik).

Pada dasarnya, tujuan dari lockdown adalah mencegah penyebaran virus semakin menjadi-jadi. Dalam penerapan yang ketat, masyarakat disuruh pemerintahnya untuk tetap berada di dalam rumah karena tempat kerja dan fasilitas umum ditutup.

Protokol lockdown dianggap efektif untuk mengurangi penyebaran penyakit sejak dulu kala. Di abad 20 (tahun 1918), lockdown juga pernah dilakukan untuk memerangi wabah Flu Spanyol yang mampu menelan korban jutaan jiwa.

Lockdown memang mampu memberikan hasil efektif untuk menekan kurva pasien virus corona, dibanding membiarkan masyarakatnya bepergian tanpa social distancing atau physical distancing.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

2 dari 4 halaman

Mudik Sebaiknya Tidak Dilakukan saat Pandemi Virus Corona

Tak terasa sedikit lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan tersebut sangat identik dengan mudik alias kembali ke daerah asal untuk bertemu dengan keluarga.

Sayangnya, di tengah wabah seperti ini, kebiasaan tersebut tidak dianjurkan. Karena, pulangnya “orang kota” (apalagi dari Jakarta) ke kampung halaman berpotensi membawa virus corona dan menghadirkan masalah baru di daerah pedalaman.

Walaupun mobilitas antardaerah secara umum menurun dan sudah ada “imbauan” tidak mudik, pergerakan warga perantau ke kota asal masih terjadi.

Dilansir dari Kompas, di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, hingga Kamis (26/03), setiap malam terpantau sekitar 20 bus membawa pemudik dari Jakarta dan sekitarnya!

Akhirnya, untuk mencegah penyebaran virus corona, pemerintah Kabupaten Blora rutin memeriksa kondisi kesehatan penumpang bus antarkota antarprovinsi. Bus juga disemprot disinfektan.

Karena belum ada regulasi yang tegas dan jelas perihal mudik di tahun ini, setidaknya Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur sudah melakukan sejumlah pencegahan, yakni dengan:

  • Membatalkan agenda mudik Lebaran gratis 2020 bantuan gubernur dan bupati atau walikota se-Jateng.
  • Meminta para pekerja di luar daerah tak mudik di Lebaran tahun ini.
  • Setiap pendatang dan pemudik yang masuk ke DIY dikategorikan sebagai orang dalam pemantauan (ODP) COVID-19.
  • Diwajibkan para pemudik yang baru datang untuk isolasi diri di rumah selama 14 hari.
  • Pengelola terminal kota diminta tidak melayani arus mudik.
  • Melakukan tracing bagi pekerja yang mudik ke Jatim.
  • Melakukan tes cepat COVID-19 kepada para perantau bila alat masih tersedia.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

3 dari 4 halaman

Apa yang Terjadi Kalau Tetap Mudik saat Wabah COVID-19?

Menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD, anjuran untuk tidak mudik ke kampung halaman sebaiknya ditaati demi mencegah ledakan pasien positif di daerah.

“Iya, lebih baik jangan mudik dulu. Kembali lagi ke prinsip social distancing. Salah satu yang membahayakan dari virus corona ini adalah bahwa kita tidak tahu siapa yang terinfeksi.

Seseorang bisa yakin bahwa dirinya tidak ada gejala batuk, tapi dirinya bisa saja sudah terinfeksi,” kata dr. Alvin.

“Bisa saja ia tidak bergejala karena sistem imunitas tubuhnya baik, usia masih muda, dan tidak ada sakit komorbid (penyakit penyerta). Tapi, dirinya tetap berpotensi menularkan ke keluarga di rumah,” tambahnya.

“Bahayanya, bila ia menularkan ke kakek dan neneknya atau ayah dan ibunya, belum tentu sistem imunitas tubuh mereka sama baiknya dengan kalangan muda.

Terlebih bila keluarganya memiliki komorbid, seperti sakit jantung, diabetes, hipertensi, atau penyakit paru kronis. Bisa jadi mereka tertular kemudian jadi sakit berat,” dr. Alvin melengkapi.

Bayangkan kalau banyak “orang muda” dari pusat outbreak seperti Jakarta dan Jawa Barat yang kembali ke kampung halaman. Pasti risiko membludaknya pasien COVID-19 di daerah akan terjadi. Ironisnya, fasilitas kesehatan di daerah tidak selengkap di kota-kota besar, kan?

Jadi, sangat dipahami mengapa Pemkot Tegal sampai mengambil langkah lockdown di situasi ini. Semoga saja apa yang dikhawatirkan tidak sampai terjadi.

KlikDokter telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menekan angka persebaran virus corona.

Ingin tahu lebih lanjut seputar virus corona, gunakan fitur Live Chat untuk konsultasi dengan dokter. Untuk bantu menentukan gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online ini. Jangan lupa untuk selalu update berita terbaru seputar COVID-19 di KlikDokter!

(FR/AYU)

1 Komentar