Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penggunaan Avigan dan Klorokuin untuk Obati COVID-19, Efektifkah?

Penggunaan Avigan dan Klorokuin untuk Obati COVID-19, Efektifkah?

Pemerintah Indonesia memesan obat Avigan dan Klorokuin sebagai antisipasi pengobatan virus corona, Efektifkah melawan virus corona? Simak penjelasannya!

Sejak mewabah pertama kali di Kota Wuhan, Tiongkok, WHO telah menetapkan Coronavirus atau COVID-19 menjadi suatu pandemi global. Virus corona jenis SARS-Cov-19 ini menimbulkan berbagai kekhawatiran di seluruh penjuru dunia karena sifat penularannya sangat mudah.

Fakta terkini, untuk beberapa kasus, penderita tidak merasa sakit yang begitu parah dan memiliki berbagai gejala yang kerap digambarkan seperti batuk, demam diatas 38 derajat, dan sesak napas.

Sampai saat ini, COVID-19 belum memiliki obat yang bisa digunakan untuk mengobati infeksi virus ini. Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus coronavirus ini, berbagai negara dan institusi berusaha untuk menemukan obat serta vaksin yang ampuh untuk melawan SARS-Cov-19 yang menyebabkan COVID-19.

Pemerintah Indonesia telah mengumumkan sudah memesan obat keluaran Jepang, Avigan, dan Klorokuin yang diyakini mampu mengobati penderita infeksi COVID-19. Pemerintah Indonesia disebut akan mendatangkan sekitar 2 juta butir Avigan dan 3 juta butir Klorokuin. Simak penjelasannya mengenai 2 obat ini!

1 dari 6 halaman

Sekilas Mengenai Avigan

Avigan atau Favipiravir merupakan obat antivirus yang diproduksi di Jepang oleh Fujifilm Toyama Chemical. Obat ini dikembangkan oleh Zheijang Hisun Pharmaceutical untuk mengobati influenza tipe B yang cukup marak di Jepang. Obat ini termasuk golongan obat keras sehingga tidak bisa dibeli sembarangan dan harus direkomendasikan oleh dokter spesialis di Jepang.

Bulan lalu, obat ini dilaporkan efektif untuk menangani infeksi virus COVID-19. Dilansir dari The Guardian, “Obat ini memiliki tingkat keamanan yang terbukti tinggi dan jelas efektif untuk digunakan,” tutur Zhang Xinmin, Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China.

Avigan atau Favipiravir dikembangkan untuk mengobati virus dengan dominasi RNA, hal ini sejalan dengan materi genetik yang terdapat dalam virus COVID-19 adalah RNA. Cara kerja obat ini adalah dengan melumpuhkan enzim RNA-dependent RNA-polimerase (RdRp) sehingga menghentikan replikasi virus tersebut.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

2 dari 6 halaman

Uji Coba Avigan Terhadap Pasien Corona

Uji klinis yang dilakukan terhadap pasien yang terinfeksi virus corona baik di Kota Wuhan dan Kota Shenzhen oleh Otoritas Medis Tiongkok menunjukkan bahwa Avigan atau Favipiravir terbukti efektif untuk mengurangi durasi virus COVID-19 hidup di dalam manusia dan meningkatkan kondisi paru-paru penderita.

Seperti yang diketahui, virus corona ini sangat masif menyerang paru-paru, sehingga dalam pemeriksaan rontgen, akan terlihat tingkat peradangan yang parah dan menimbulkan sindrom gangguan pernapasan akut.

Uji klinis yang melibatkan 340 orang ini menunjukkan respon positif tubuh terhadap obat Avigan. Empat hari setelah diberikan obat ini pun, para pasien penderita COVID-19 dites kembali dan hasilnya mereka dinyatakan negatif.

Hal tersebut juga dibandingkan dengan pasien yang tidak diberikan Avigan. Para peneliti dan ahli melihat bahwa pasien baru dinyatakan negatif setelah 11 hari terindikasi terkena virus corona ini. Pada pasien yang mengonsumsi Avigan juga terlihat peningkatan kualitas paru-paru sebesar 91% dibandingkan pasien yang tidak diberikan obat Favipiravir ini.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

Sementara itu, dalam penelitian yang dilakukan di Kota Wuhan, Tiongkok, pemberian obat Avigan ini dinilai mampu mengurangi durasi demam pasien, sebagai respon tubuh terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh, dari 4,2 hari menjadi 2,5 hari.

Walau berbagai penelitian dengan menggunakan obat Avigan ini telah dinilai sukses ‘menyelamatkan’ penderita virus corona, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan obat ini tidak begitu efektif untuk penderita dengan tingkat keparahan yang  tinggi. Avigan hanya berfungsi dengan baik apabila penderita COVID-19 masih dalam tingkat keparahan ringan sampai sedang.

Usia penderita pun juga berpengaruh terhadap keberhasilan Avigan untuk menjadi obat untuk virus corona. Selain itu, faktor penyakit lain yang diderita pasien seperti diabetes, stroke, juga dapat menjadi faktor yang bisa menentukan keberhasilan obat ini atau tidak.

Dikutip dari surat kabar Mainichi Shimbun, “Obat ini sudah diuji coba kepada 70-80 orang dengan tingkat keparahan tinggi yakni ditandai dengan virus sudah bermultiplikasi dalam tubuh,” ujar narasumber Kementerian Kesehatan Jepang,

Karena termasuk golongan obat keras yang produksi dan pembeliannya dibatasi, obat Avigan ini dilarang digunakan pada ibu hamil karena memiliki dampak negatif yaitu dapat memengaruhi bentuk janin mengalami kelainan.

3 dari 6 halaman

Sekilas Mengenai Klorokuin

Klorokuin atau Klorokuin fosfat (chloroquine phosphate) yang dikenal sebagai obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati malaria, merupakan senyawa sintetis (kimiawi) yang memiliki struktur sama dengan quinine sulfate. Quinine sulfate berasal dari ekstrak kulit batang pohon kina.

Cara kerja Klorokuin adalah menghambat aktivitas heme polimerase dan membentuk FP-klorokuin. Senyawa ini sangat beracun bagi sel dan dapat mengganggu fungsi membran sehingga terjadi lisis dan kematian pada sel parasit.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

 

4 dari 6 halaman

Penelitian Klorokuin

Penelitian yang dilakukan oleh Wuhan Institute of Virology dari Chinese Academy of Sciences, menjadikan Klorokuin sebagai salah satu senyawa yang dianggap mampu untuk melawan virus corona.

Dalam jurnal Nature yang telah dipublikasikan oleh ahli virologi dari Tiongkok, Manli Wang bersama timnya,  klorokuin diuji coba pada kera, hasilnya klorokuin dapat menghambat kemampuan virus baru untuk tumbuh dan menginfeksi dalam tubuh inangnya.

Pakar Farmakologi dan Clinical Research Supporting Unit FKUI, dr. Nafrialdi, menyatakan perlunya uji klinis menyeluruh mengenai klorokuin sebagai antivirus melawan virus corona. Namun beliau menambahkan, bahwa klorokuin tidak lagi digunakan sebagai obat antimalaria dikarenakan munculnya kasus resistensi pada penerita malaria di Papua.

Walaupun demikian, bila memang klorokuin dinilai positif untuk menjadi obat pasien COVID-19, maka ini jadi peluang yang sangat bagus. Dr. Nafrialdi juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu terburu-buru dalam menetapkan klorokuin sebagai obat untuk COVID-19 karena WHO pun belum menyetujui penggunaannya sebagai obat untuk kasus ini.

5 dari 6 halaman

Pendapat Dokter Mengenai Penggunaan Avigan dan Klorokuin

Menurut dr. Alvin dari KlikDokter, perlu dilakukan serangkaian uji klinis yang menyeluruh sebelum diumumkan ke publik. Bahkan tak jarang penelitian ini memakan waktu yang lama, karena penggunaan obat-obat ini hanya berdasarkan pengalaman dari dokter-dokter di negara terdampak sebelum Indonesia.

Obat-obat tersebut belum melalui tahap uji klinis fase 3 atau skala besar, namun disaat outbreak seperti ini, kita tidak bisa menunggu hasil penelitian. Keefektifan kedua obat ini pun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Pengujian obat-obatan ini meliputi keamanan dan kemampuannya untuk memicu respons kekebalan tubuh untuk melawan virus corona.

Penggunaan Avigan dan Klorokuin ini tidak bisa digunakan tanpa indikasi yang jelas dan tanpa resep dokter. Sebab obat-obatan ini merupakan golongan keras yang bisa berdampak buruk pada tubuh bila dikonsumsi tanpa anjuran dan pengawasan dokter.

Contohnya pada Klorokuin, bila dikonsumsi sembarangan dapat mengganggu irama jantung dan kesehatan mata.

Bagi Anda yang punya pertanyaan seputar cek virus corona atau penyakit lainnya? Yuk, tanya langsung di fitur LiveChat. Di aplikasi KlikDokter, Anda juga bisa cek virus corona online. Buruan, klik di sini.

[RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar