Sukses

Virus Corona Tak Tahan Suhu Hangat, Indonesia Amankah?

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa virus corona tak tahan suhu hangat seperti di Indonesia. Tapi, apakah sudah berarti negara ini aman dari COVID-19?

Pernyataan bahwa di Indonesia aman virus corona karena memiliki suhu udara hangat terus menjadi perbincangan. Untuk Anda yang percaya dengan hal ini, patut bersyukur karena penelitian terbaru sedang mengarah ke sana. Akan tetapi, benarkah berarti Indonesia aman dari wabah COVID-19?

Sekilas Update Tentang Virus Corona di Indonesia

Sampai saat ini, Indonesia masih terus siaga terhadap virus corona. Update terbarunya, pasien COVID-19 atau coronavirus sudah mencapai 19 orang. Seluruhnya tengah ditangani di rumah sakit rujukan pemerintah.

Angka ini cukup cepat meningkat, mengingat minggu lalu masih baru 2 orang yang dikonfirmasi terdeteksi virus corona. Pemerintah terus berkoordinasi dan mencari tahu apakah ada pasien lain yang terkena masalah akibat virus mematikan ini.

Untuk seluruh dunia sendiri (10/3), kasus virus corona sudah mencapai 114.457 kasus. Dengan 4.026 orang sudah meninggal dunia. Sementara ada 64.018 orang yang berhasil sembuh.

Namun, beberapa orang meyakini, kasus corona di Indonesia tak akan sampai ribuan orang. Hal ini karena negara ini punya iklim atau suhu yang panas. Kondisi ini membuat virus tidak dapat bertahan hidup lama. Bahkan, anggapan itu bahkan masih dipegang sampai saat ini.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

1 dari 4 halaman

Benarkah Virus Corona Tidak Tahan Suhu Hangat Indonesia?

Buat orang yang percaya dengan anggapan bahwa virus corona tidak tahan cuaca hangat, Anda boleh berbahagia sedikit. Pasalnya, penelitian baru menemukan bahwa COVID-19 ini tidak tahan suhu tinggi.

Studi yang dilakukan oleh tim dari Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, Tiongkok, berusaha menentukan bagaimana penyebaran coronavirus mungkin dipengaruhi oleh perubahan musim dan suhu.

Penelitian yang diterbitkan bulan lalu ini juga menjelaskan suhu panas memiliki peran yang signifikan dalam penyebaran COVID-19.

"Ada kondisi suhu yang secara signifikan dapat mengubah transmisi virus corona menjadi lambat. Namun, ada juga suhu-suhu yang dapat dengan mudah membantu virus tersebut menyebar cepat. Coronavirus mematikan ini sangat sensitif (lemah) terhadap suhu tinggi (cuaca panas)," ujar para peneliti.

Studi dari Guangzhou ini melakukan penelitian berdasarkan kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di seluruh dunia antara tanggal 20 Januari hingga 4 Februari 2020 lalu. Penelitian dilakukan termasuk di lebih dari 400 kota dan wilayah Tiongkok.

Kemudian, mereka menganalisis data meteorologi resmi pada bulan Januari yang diambil dari seluruh wilayah Tiongkok dan ibu kota masing-masing negara yang terkena dampak.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

Pantauan analisis menunjukkan, jumlah kasus virus corona bertambah sejalan dengan cuaca yang dingin rata-rata hingga mencapai puncak 8,72 derajat Celcius. Setelah suhu menjadi lebih hangat, kasus virus corona pun juga ikut menurun.

"Suhu memiliki dampak pada lingkungan serta dapat memainkan peran penting dalam kesehatan masyarakat, salah satunya dalam  hal pengembangan dan pengendalian epidemi (wabah)," kata penelitian itu.

Dikatakan juga, iklim mungkin berperan dalam mengapa virus itu menyebar di Wuhan, kota pertama kali virus corona terdeteksi.

Para peneliti tersebut akhirnya menyimpulkan coronavirus lebih sulit berkembang di negara dengan suhu lebih hangat. Sementara negara dengan suhu dingin, akan lebih mudah menyebarkan virus corona.

Peneliti juga menyarankan, negara dan wilayah dengan suhu yang lebih rendah untuk melakukan langkah-langkah mencegah virus corona yang paling ketat.

Salah satunya mungkin seperti yang dilakukan Pemerintah Italia dengan cara melakukan lock down. Ini demi mencegah penyebaran meluas, beberapa sekolah dan museum Italia tutup, bahkan pernikahan dan pemakanan disarankan untuk ditunda dulu sementara wabah meningkat.

Jika mengacu pada penelitian tentang suhu dan penularan corona di atas, negara-negara Eropa memang harus waspada lebih tinggi.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

2 dari 4 halaman

Indonesia Tidak Boleh Bersantai, Musim Panas Bukan Jaminan Coronavirus Lenyap

Apakah dari penelitian tersebut Indonesia dinyatakan aman dari virus corona, mengingat 2 sampai 3 bulan lagi akan memasuki musim panas?

Soal ini, Mike Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO (World Health Organization) angkat bicara. Ryan mendesak orang-orang untuk tidak menganggap bahwa wabah corona ini akan mereda otomatis saat musim panas.

"Kami harus mengasumsikan bahwa virus akan terus memiliki kemampuan untuk menyebar," katanya.

"Sebetulnya ini harapan palsu untuk mengatakan bahwa COVID-19 bakal hilang macam penyakit flu yang muncul saat musim panas. Jadi, kita tidak bisa membuat asumsi sendiri tanpa bukti,” tegas Ryan.

Intinya, Ryan tidak menyarankan masyarakat di berbagai belahan dunia manapun untuk meyakini kalau suhu atau musim panas dapat menangkal virus corona.

Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dan lebih kompleks untuk memastikan negara tropis, seperti di Indonesia, bisa terhindar dari virus corona.

Pencegahan dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri merupakan kunci penting untuk mempersempit penyebarluasan wabah.

Artikel Lainnya: Antisipasi Penyebaran Virus Corona, Ini Gantinya Berjabat Tangan

3 dari 4 halaman

Indonesia Tetap Berhati-Hati dengan Virus Corona

Daripada berharap pada hal yang tidak pasti, lebih baik terus lakukan pencegahan bagi Anda yang masih sehat. Pasalnya, virus ini tetap berbahaya dalam kondisi apapun. Oleh karena itu, sangat penting untuk lakukan pencegahan, yakni sebagai berikut.

  • Konsumsi makanan bergizi, beraktivitas fisik minimal setengah jam setiap hari, cukup istirahat, dan segera berobat kalau sakit. Hal ini terutama kalau sakitnya mirip gejala flu, radang tenggorokan, atau pneumonia.
  • Hindari pergi ke lokasi yang terjangkit. Hindari juga kontak langsung dengan penderita. Jangan memasuki wilayah isolasi tanpa peralatan pengamanan dan perlindungan petugas medis.
  • Bila dalam perjalanan merasa berinteraksi dengan orang yang demam, batuk, dan susah bernapas, segera periksa ke dokter di rumah sakit terdekat.
  • Jika ketika sudah kembali ke Indonesia menunjukkan gejala demam, batuk, dan sesak napas, maka jangan tunda untuk berobat ke rumah sakit.
  • Minum suplemen untuk menguatkan daya tahan tubuh. Konsumsilah suplemen yang mengandung vitamin C dan D, serta zinc untuk menjaga imunitas tubuh.
  • Gunakan masker saat bepergian atau berada di kerumunan. Masker dapat membantu Anda terlindungi dari udara yang bervirus, khususnya bila sedang sakit.
  • Jangan lupa cermati gejalanya. Gejala yang timbul yaitu demam, batuk, dan sesak napas (mirip flu berat dan pneumonia). Kalau sudah muncul tanda tersebut, segeralah berobat ke rumah sakit.
  • Untuk mengurangi gejala, dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter menyarankan untuk beristirahat, jangan beraktivitas berat, minum air putih yang banyak, dan minum obat penurun demam seperti parasetamol.

Penelitian soal virus corona bisa mati di udara hangat cukup menyejukkan. Tapi, seperti dikatakan oleh petinggi WHO bahwa jangan langsung percaya. Sebaiknya tetap lakukan pencegahan. Untuk tahu lebih lanjut tentang informasi virus corona di Indonesia, jangan ragu tanyakan pada dokter lewat fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar