Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • ABG Bunuh Anak 6 Tahun, Ini Alasan Film Horor Tak Baik untuk Remaja!

ABG Bunuh Anak 6 Tahun, Ini Alasan Film Horor Tak Baik untuk Remaja!

Heboh berita remaja bunuh anak usia 6 tahun akibat terpengaruh film horor favoritnya, ternyata ini kata psikolog soal dampak film horor buat anak.

Masyarakat dihebohkan oleh berita remaja 15 tahun asal Sawah Besar, Jakarta Pusat, yang tega membunuh anak usia 6 tahun dengan menenggelamkannya di bak mandi. Kabarnya, dia melakukannya karena terpengaruh film horor yang ditonton.

Ngerinya, tak ada penyesalan sedikit pun dari remaja tersebut. Bahkan, ia mengaku puas sudah menjalankan tindakannya. Gadis ini pun disebut-sebut memiliki gangguan kejiwaan.

Namun, apakah benar dampak film horor bisa membuat nekat membunuh orang. Coba cek beberapa informasi berikut ini.

Terinspirasi dari Film Slender Man dan Chucky

Setelah polisi mendalami kasus tersebut, ternyata pelakunya sangat menggemari dan terinspirasi melakukan pembunuhan dari film Chucky The Killer Doll dan Slender Man.

Sebagian besar orang mungkin sudah tahu soal tokoh boneka Chucky yang sadis, tapi tidak dengan tokoh Slender Man.

Artikel Lainnya: Punya Gangguan Cemas tapi Suka Nonton Film Horor, Bagaimana Risikonya?

Slender Man adalah makhluk gaib tinggi kurus dan tidak berwajah. Bukan memakai jubah atau kain putih panjang, tokoh film horor ini mengenakan setelan jas dan kemeja alias “berdandan formal”.

Slender Man merupakan tokoh karangan Eric Kudsen yang dibuat tahun 2009. Hal yang dilakukan oleh tokoh tak berwajah tersebut adalah menebar teror, menculik anak-anak, menghabisi nyawa orang, dan memengaruhi orang lain untuk berbuat kejahatan.

Dilansir dari Liputan6.com, meski sangat terkenal di internet,  kemunculannya di Hollywood kurang bergaung.

Tak cuma memengaruhi ABG asal Jakarta, tahun 2014, film Slender Man juga berhasil “menginspirasi” anak asal Amerika Serikat untuk menikam temannya sebanyak 19 kali. Beruntung, korban berhasil diselamatkan.

Bagi yang cuek dengan permasalahan ini, mungkin Anda berpikir, kok bisa, sih, film horror segitu memengaruhi? Bukankah banyak juga yang menonton film sadis atau menyeramkan tetapi tidak melakukan apa-apa setelahnya?

Artikel Lainnya: Ini Dampak Menonton Film Horor Bagi Kesehatan Anda

1 dari 4 halaman

Pentingnya Kategori Usia pada Film

Menanggapi pertanyaan tersebut, begini jawaban dari Zarra Dwi Monica, M.Psi., Psikolog dari KlikDokter.

Menurutnya, memang kurang adil bila sepenuhnya menyalahkan film horror. Sebab, bagi sebagian orang yang menyukainya, kegiatan menonton film mengerikan tersebut merupakan sarana refreshing.

Jika yang menonton film adalah anak-anak, maka kita sebagai orang dewasa mesti menelaah lagi. Apakah film yang ditonton anak itu sudah sesuai umurnya atau belum.

“Karena setiap film ada rekomendasi usianya. Apakah itu untuk anak, remaja, dewasa, atau perlu bimbingan orang tua. Kalau dia nonton nggak sesuai umur, ya akan jadi masalah,” kata Zarra.

“Karena pada dasarnya, anak itu suka mencontoh. Ada penelitian ‘Bobo Doll’ di mana anak yang dikasih tontonan agresif akan mencontoh perilaku agresif itu. Jadi, ini “PR” untuk orang tua dan dewasa di sekitar anak. Jangan sampai mereka menonton yang tidak sesuai usianya,” Zarra melengkapi.

Sangat penting memerhatikan kategori usia pada film. Sebab, anak bisa mencontoh segala perbuatan jahat yang diperlihatkan.

Anak-anak dan remaja belum punya pemikiran yang kompleks. Inilah yang membuat mereka belum bisa mencerna mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang tidak.

Penting diingat, film rated dewasa cenderung akan menampilkan banyak adegan kekerasan bahkan sadis. Untuk itu, sebaiknya tidak ditonton untuk anak yang belum cukup usia.

Artikel Lainnya: Sering Nonton Film Horor Bisa Picu Depresi?

2 dari 4 halaman

Dampak Film Horor Ketika Ditonton Remaja dan Anak-Anak

Sebenarnya, dampak film horror terhadap remaja tak jauh berbeda dengan anak-anak. Ini karena mereka cenderung akan mencontoh adegan yang ditampilkan dalam film tersebut.

Selain itu, Zarra mengatakan, usia remaja merupakan masa-masa pencarian jati diri. Alhasil, jika dia terlalu addict dengan tokoh di film horror ataupun film kekerasan, dia akan mengembangkan konsep diri sesuai dengan karakter si tokoh film.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengontrol tontonan maupun tokoh-tokoh yang anak kagumi. Itu karena, karakter dari si tokoh akan sangat memengaruhi perkembangan mereka yang masih berubah-ubah.

Selain hal di atas, dampak lain bila menyaksikan film bernuansa negatif terlalu sering, yaitu remaja akan melakukan beberapa hal ini.

  • Sering Melanggar Peraturan

Biasanya, tokoh antagonis di film horor suka melanggar aturan. Kebiasaan itulah kemudian membuat remaja terinspirasi untuk melanggar norma yang sudah ada. Baik di sekolah, rumah, maupun di lingkungan sekitarnya.

  • Malas Sekolah

Umumnya, remaja yang suka menonton film horor akan mengalami kesulitan tidur ketika malam hari. Hal ini membuatnya jadi sulit bangun pagi dan malas pergi ke sekolah.

Beberapa remaja yang terlalu addict terhadap genre tontonan tersebut juga merasa lingkungan sekolah tidak mengerti dan mau menerimanya.

  • Sering Kabur dari Masalah

Umumnya, film horor juga membuat remaja menjadi tidak mau menghadapi masalahnya. Bila sudah terlalu addict, remaja penyuka horror bahkan bisa berpikir kekelaman karakter dalam genre tersebut dialaminya.

Hasilnya, tak jarang mereka kabur dari masalah. Misalnya, jika ada masalah di keluarga, dia bisa kabur dari rumah.

Artikel Lainnya: Cara agar Anak Tidak Tiru Adegan Kekerasan dari Kartun

  • Tak Takut Mengambil Barang Orang Lain

Terlalu larut dalam film horor juga dapat membuat remaja kehilangan empati dan juga simpati terhadap orang lain. Hal yang dipikirkannya hanyalah kepuasan serta kesenangannya semata.

Tak heran dia merasa senang ketika dapat mengambil barang bukan miliknya. Bahkan, parahnya tidak merasa bersalah melukai atau pun membuat orang lain kehilangan nyawa.

  • Suka Merusak Barang

Sama halnya dengan mengambil barang, merusak sesuatu juga mendatangkan kepuasan pribadi bagi remaja yang kecanduan film horror. Ini karena dia mencontoh dari karakter antagonis yang terlihat bahagia ketika merusak sesuatu.

  • Punya Pembawaan Menyerang dan Membantah (Bersifat Rebel)

Pecandu film horor juga jadi lebih sering marah-marah dan merasa tak nyaman. Bahkan, beberapa remaja jadi agresif seperti karakter film horor. Misalnya, membantah secara keras atau menyerang orang tua yang tengah memberikan nasihat.

Artikel Lainnya: Mengapa Orang Senang Nonton Film Horor?

3 dari 4 halaman

Bagaimana bila Anak dan Remaja Terlanjur Gemar Nonton Film Horror?

Sebagian orang tua memang ada yang cenderung “bergerak” setelah anaknya terlanjur menggandrungi sesuatu, dalam hal ini film horor.

Agar dampak film horror tak sampai berujung ke tindakan-tindakan yang mengerikan, ada pun beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua, yakni sebagai berikut ini.

  • Coba temani dia. Bila dia bersedia ditemani atau bahkan senang, biasanya film tersebut belum memberikan efek apapun pada dirinya.
  • Saat mendampingi, jelaskan bahwa tindakan dalam film tersebut sangat berbahaya dan tidak boleh ditiru karena membahayakan orang lain.
  • Batasi frekuensinya dalam menonton film.
  • Film hanya boleh diakses di ruang televisi supaya bisa ditonton bersama. Televisi, komputer, atau laptop digunakan di ruang tengah. Simpan modem di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh anak.
  • Kalau bisa, atur channel televisi ke mode kids-friendly.
  • Perbanyak perbendaharaan film komedi atau drama. Genre ini umumnya bisa diterima oleh semua kalangan.
  • Sementara, tambah aktivitas anak agar lupa dengan film-film horornya.
  • Bekerjasama dengan guru, teman-teman terdekat, dan orang dewasa yang berada di sekitarnya untuk memantau. Jika dia sudah bergelagat aneh, maka minta mereka untuk melaporkannya pada Anda.

Sebenarnya, ada satu lagi tanda yang bisa mengindikasikan bahwa seseorang memiliki kecenderungan untuk jadi psikopat anak, yaitu sejak kecil dia suka menyiksa binatang. Kalau sudah begini, sebaiknya segera bahwa ke psikolog untuk menghentikan perkembangan buruk tersebut.

Semoga saja kasus remaja bunuh balita ini tidak terjadi lagi. Orang tua kini perlu memberikan perhatian ekstra supaya dampak film horror tak sampai merugikan semua pihak. Bila masih punya pertanyaan seputar pola asuh dan perkembangan anak, konsultasikan hal tersebut kepada dokter dan psikolog kami melalui fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar