Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Sering Halu atau Mengarang Cerita, Jangan-Jangan Tanda Sakit Mental!

Sering Halu atau Mengarang Cerita, Jangan-Jangan Tanda Sakit Mental!

Apakah Anda punya rekan yang suka halu atau mengarang cerita? Coba perhatikan baik-baik orang, jangan-jangan orang itu mengalami masalah mental serius

Pernahkan, Anda melihat orang di tempat kerja sering banyak bercerita hal-hal keren? Namun, kenyataannya hal tersebut tidak pernah terjadi. Tentunya, Anda akan menilai mereka itu halu bahkan sakit mental. Benarkah itu tanda-tanda orang halu? Lalu, apa penyebab seseorang berperilaku halu?

Apa itu Halu?

Ya, halu atau nama beken dari halusinasi, kerap dilakukan beberapa orang karena berbagai alasan. Ini bisa karena orang tersebut ingin terlihat keren, bisa juga terlihat untuk dikasihani. Intinya, mengarang cerita yang bukan sebenarnya.

Untuk kasus halu yang melebih-lebihkan, orang tersebut kerap menceritakan pencapaian yang besar, padahal ia tidak pernah mencapai hal tersebut.

Di sisi lain, penyebab halu juga bisa terjadi akibat si pengarang cerita mau dikasihani orang lain. Padahal, penderitaan yang ia ceritakan bisa belum pernah terjadi sebelumnya, ini dilakukan supaya ia mendapat simpati saja.

Selain itu, orang yang halu atau mengarang cerita ternyata banyak juga yang dilakukan demi eksistensi diri mereka, lho!

Artikel Lainnya: Kebiasaan Bohong Gejala Bipolar?

1 dari 3 halaman

Benarkah Halu Tanda Sakit Mental?

Orang halu akhirnya kerap tak mendapatkan respek dari rekan lainnya. Ini karena mereka akhirnya dianggap suka berbohong dan selalu mengarang hal yang bukan sebenarnya.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi, psikolog dari KlikDokter, orang yang halu memang bisa disebut mengalami masalah mental. Ini biasanya sangat berhubungan dengan masalah kepercayaan dirinya.

"Bisa saja memang orang yang suka mengarang cerita mengalami masalah mental. Karena kan orang yang suka mengarang cerita tandanya ada masalah kepercayaan dirinya," ujar Ikhsan.

Seperti diungkap Ikhsan, orang yang halu alias doyan mengarang cerita bisa jadi mengalami gangguan narsistik. Misalnya, orang halu yang suka melebih-lebihkan cerita, punya tujuan agar dianggap hebat oleh orang lain.

"Ia tidak percaya diri dengan kemampuan yang ia miliki saat itu. Akhirnya ia mengarang cerita, melebih-lebihkan. Nah, yang kaya gitu masuk ke narsistik. Karena ia tidak menceritakan sesuai apa yang ia miliki," katanya.

"Halu bisa disebut gangguan mental, apalagi kalau sampai mengganggu orang sekitarnya. Misalnya, suka berbicara 'saya bisa ini atau bisa itu', padahal tidak bisa. Itu akhirnya bisa mengganggu dan melebih-lebihkan," kata Ikhsan.

Di sisi lain, satu hal yang juga perlu diketahui, orang yang suka mengarang cerita untuk dikasihani bisanya mengalami gangguan borderline personality.

Gangguan ini dikatakan sebagai borderline atau ambang, sebab berada di antara dua kondisi gangguan jiwa, yaitu neurosis (depresi serta kecemasan) dan skizofrenia.

Pada gangguan kepribadian ini, biasanya penderitanya mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem. Sikap dan perilakunya kepada orang lain juga dapat berubah, mengikuti suasana hati yang dialaminya.

"Kemudian kalau mengarang ceritanya itu tujuannya untuk dikasihani atau mendapat perhatian, ini bisa menandakan adanya gangguan mental, seperti narsistik atau borderline. Orang borderline itu kan suka melebih-lebihkan cerita biar dapat perhatian," tegas Ikhsan.

Artikel Lainnya: Bohong Demi Prestasi, Gangguan Psikologiskah?

2 dari 3 halaman

Bagaimana Menghadapi Orang Halu?

Menghadapi orang halu atau yang suka mengarang cerita bisa sulit, bisa juga mudah. Pasalnya, kita tidak tahu mereka cerita benar atau mengarang.

Bagi mereka yang sering ngomong halu diakibatkan oleh skizofrenia, Ikhsan menyarankan Anda untuk dengarkan saja.

Sementara, kalau mereka halu tapi tidak mengalami gangguan mental apapun, lebih baik ditanyakan kebenarannya. Ini untuk mencegah ia melakukan kebohongan demi kebohongan lainnya.

"Ketika berhadapan dengan orang halu atau bicara yang tidak sesuai realita, kita pertama cukup dengar saja apa yang disampaikan. Akan tetapi, kalau orang skizofrenia, kita boleh cukup dengarkan saja," ungkap Ikhsan.

"Namun, kalo orang yang normal tapi sering halu omongannya, kita boleh sesekali tanyakan kepada orang tersebut kebenarannya. Ini karena kalau dibiarkan biasanya akan semakin lama semakin sering berbohong," pungkas Ikhsan.

Anda sering bertemu orang halu atau mengarang cerita? Memang orang-orang ini bisa sangat mengganggu Anda. Tapi, kalau Anda tak merasa terganggu, seperti kata Ikhsan, dengarkan saja. Untuk tahu gejala sakit mental lainnya, jangan ragu tanyakan dengan psikolog lewat fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

1 Komentar

  • Hidayatul Amma

    Lalu apa yang terjadi jika si penderita skizofrenia itu tak diketahui orang kalau dia menderita skizofrenia tersebut? otomatis orang yg tidak tau hanya akan menganggap dia berbohong