Sukses

Pukul Ibu Kandung, Peserta The Voice Diamankan Polisi

Seorang jebolan ajang pencarian bakat The Voice Indonesia menjadi pembicaraan banyak orang. Dalam video yang viral, ia memukuli ibu kandungnya.

Belum lama ini perlakuan kurang ajar anak terhadap orang tua kembali terjadi. Seorang remaja wanita berusia 17 tahun asal Kupang, yang diketahui jebolan The Voice Indonesia, terdapat sedang memukuli ibunya dalam sebuah rekaman video. Apakah itu berarti sang anak punya masalah mental?

Video Peserta The Voice Indonesia Pukul Ibu Kandung

Melansir dari Suara.com, Kepolisian Resor Kupang menangkap TH (17), remaja yang memukuli ibunya. Ia ditangkap setelah video dirinya sedang memukul dan bahkan menendangi ibunya viral di media sosial.

Kasus ini berawal ketika pelaku yang mau pergi ke Kupang. Ia meminta tolong kepada ibunya untuk mempersiapkan bajunya yang hendak ia pakai.

Namun, sang ibu meminta anaknya untuk bersabar karena dirinya sedang memasak. Hanya saja, TH tidak sabar dan terjadilah pertengkaran di antara keduanya.

Artikel Lainnya: Bagaimana Cara Menolong Teman yang Jadi Korban KDRT?

Kemudian pelaku melakukan penganiayaan terhadap ibunya. Dalam video tersebut, TH terlihat memukul sang ibu dan bahkan menginjaknya. Sementara, ibunya hanya bisa menangis.

Menurut info yang beredar, penganiayaan ini sering dilakukan oleh TH. Adik pelaku yang melihat ibunya dipukuli kemudian segera memanggil tetangga untuk membantu menghentikan aksi kakaknya tersebut.

Salah satu saksi yang merekam kejadian itu kemudian meng-upload ke Facebook, dan postingannya ramai diperbincangkan.

Selain karena aksinya kurang terpuji, masyarakat menjadi lebih geram karena ternyata pelaku merupakan seorang kontestan jebolan pencarian bakat The Voice Indonesia.

Artikel Lainnya: 8 Tanda Anda Mengalami KDRT

1 dari 2 halaman

Bagaimana Cara Menolong Teman yang Jadi Korban KDRT?

Setelah vira, kemudian banyak orang bertanya-tanya, mengapa si pelaku sampai tega melakukan hal itu. Karena kalau lihat videonya, TH melakukannya dengan sangat tega.

Kemudian, pertanyaan lainnya muncul, apakah ia mengalami masalah kejiwaan atau mental? Menurut Zarra Dwi Monica, M.Psi, seorang psikolog dari KlikDokter, tingkat emosi dan sampai menganiaya tergantung banyak faktor.

Ini juga berhubungan dengan agresivitas orang tersebut. Kalau bisa terjadi berkali-kali, itu tandanya agresivitas orang tersebut sangat tinggi.

"Satu hal yang perlu digaris bawahi kita tidak bisa mendiagnosis orang atau menilai orang kalau tidak melakukan pemeriksaan langsung. Tapi kalau misalnya kondisinya itu hanya terjadi sekali, bisa jadi itu karena emosi saja. Walaupun itu tidak bisa dibenarkan juga," ujar Zarra.

"Namun, kalau kejadian ini sampai berkali-kali, agresivitas orang itu berarti tinggi. Nah, agresivitas yang tinggi ini banyak faktornya," sambung Zarra.

Menurutnya, kejadian ini sampai terjadi bisa jadi karena gangguan kepribadian tertentu. Di sisi lain, terpapar aksi kekerasan sejak kecil juga bisa membuat orang melakukan hal itu.

"Bisa jadi karena ada gangguan kepribadian tertentu, misalnya antisocial personality disorder. Lalu, bisa juga karena sejak kecil dia banyak melihat perilaku agresif orang di sekitarnya. Jadi, dia modelling atau mencontoh," ungkap Zarra.

Namun, satu hal menarik diungkap Zarra adalah bahwa kekerasan terjadi karena ada power gap. Anehnya, TH yang notabene adalah seorang anak justru punya kekuatan untuk melakukan kekerasan.

Umumnya, power yang dimiliki oleh orang tua lebih tinggi dibanding anak. Namun, dalam kasus ini, kejadian justru terbalik.

"Bisa jadi juga karena mungkin ada kondisi lain yang tidak kita tahu. Tapi sebenarnya kekerasan ini terjadi karena adanya power gap antara pelaku sama korban," tutur Zarra.

"Mungkin si pelaku ini terbiasa memiliki power yang lebih di rumahnya dan itu akhirnya yang buat dia berani melakukan kekerasan yang lebih lemah, dalam konteks ini ibunya. Nah, kenapa dia bisa punya power lebih tinggi, itu jadi pertanyaan. Pada umumnya, anak itu power-nya di bawah orang tua," tegas Zarra.

Terkait kasus ini, TH sempat ditangkap pihak kepolisian. Jebolan The Voice Indonesia itu belakangan dikembalikan ke pihak keluarga setelah menulis perjanjian tidak akan melakukan hal itu lagi. Untuk tahu lebih lanjut tentang masalah kepribadian lainnya, jangan ragu konsultasi pada psikolog lewat fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar