Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Tak Usah Sampai Berantem, Ini Cara Menghadapi Teman Egois

Tak Usah Sampai Berantem, Ini Cara Menghadapi Teman Egois

Punya teman yang mau menang sendiri memang bikin “gemas”. Agar tali persahabatan tak sampai putus, yuk ikuti cara menghadapi teman yang egois berikut ini.

Tidak bisa dimungkiri, dalam satu perkumpulan alias geng, pasti ada salah satu yang egois. Ya, entah apa yang bikin dia seperti itu, tapi kondisi tersebut bisa merusak persahabatan. Apalagi jika Anda tidak mengetahui trik khusus atau cara menghadapi teman yang egois.

Bagaimana Cara Menghadapi Teman yang Egois

Rasa ego sebenarnya ada di dalam tiap diri manusia. Hanya saja, kadarnya yang berbeda-beda. Perbedaan kadar dapat dipengaruhi kondisi keluarga hingga pengalaman hidup. Misalnya, dulu selalu dianggap sebelah mata dan ditindas, sekarang, dia tak mau lagi seperti itu hingga dia lupa bahwa tindakannya sudah kelewat batas.

Sebagai sahabat, seharusnya semua bisa memahami karakter masing-masing tanpa harus bermusuhan. Supaya Anda tak kadung benci dengan sahabat sendiri (meski dia egois), berikut adalah cara menghadapi orang egois dari Zarra Dwi Monica, M.Psi, Psikolog.

  1. Sampaikan Keluh Kesah Baik-baik

Pasti tak enak, kan, terus memendam rasa kesal karena perilakunya yang egois? Kalau begitu, coba saja sampaikan perasaan Anda yang sebenarnya. Katakan kalau Anda sebenarnya tidak enak hati diperlakukan seperti itu.

Tapi ingat, katakan secara langsung, tidak usah pakai sindir-menyindir dulu. Jangan pula dengan nada tinggi. Ajak saja ngobrol biasa, tapi isi obrolannya, ya, keluh kesah Anda. Ini bisa juga menjadi bahan refleksi dia untuk bersikap lebih baik.

Artikel lainnya: Tetap Asyik di Lingkungan Kerja yang Toxic

  1. Pahami dari Mana Dia Berasal

Ini bukan maksud untuk mengembangkan stereotip bahwa anak orang kaya atau anak bontot pasti manja dan egois, ya. Meski tidak semuanya begitu, tetapi terkadang, apa yang terjadi di keluarga memang memengaruhi cara dia bergaul.

Selain itu, pahami juga apa dan bagaimana masa lalunya. Seperti yang sempat dikatakan di atas, mungkin ada pengalaman hidup yang membuatnya seperti itu. Misalnya saja, selalu kehilangan sesuatu (haknya diambil orang lain) dan jarang dibantu.

Karena tak mau lagi terus-menerus merasakan hal yang sama, kini dia selalu membeli, menyimpan, atau menyelamatkan dirinya sendiri dulu ketimbang membantu orang lain. Alhasil, sikapnya pun dipandang egois.

Artikel lainnya: Tak Mau Jadi Toxic People? Ini Cara Mendeteksinya

  1. Terima Apa Adanya

Hayo, katanya sahabat? Kalau mengaku sahabat, berarti seharusnya Anda bisa menerima karakter dia apa adanya, dong? Selain mengingat hal buruk, cobalah untuk ingat juga yang baik-baik tentangnya. Ingat bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangan.

“Menerima apa adanya penting untuk dilakukan agar saat kita lagi emosi, kita tidak saling menyalahkan. Kita tidak nyalahin diri sendiri ataupun nyalahin dia. Selama itu tidak terlalu merugikan dan daripada stres sendirian, ya dipahami saja,” kata Zarra.

  1. Mengubahnya Bukan Tanggung Jawabmu

“Jangan memaksakan diri bahwa kamu ‘harus’ mengubah dirinya atau membuat dia sadar. Tak perlu sampai begitu,” pesan Zarra. Menurutnya, memang tak semua hal mesti jadi tanggung jawab Anda.

Mungkin saja sebenarnya Anda punya sesuatu kekurangan yang sama menjengkelkannya, dan dia tidak berusaha mengubah hal tersebut. Jika Anda terus memaksakan diri supaya dia berubah, bisa jadi Anda juga yang egois!

Artikel lainnya: Tips Mengatasi Rekan Kerja yang Menyebalkan di Kantor

  1. Jangan Mudah Tersinggung

Ini sepertinya penting bila ingin interaksi Anda langgeng dengan orang lain. Mudah tersinggung hanya akan membuat interaksi tidak berjalan mulus (serba salah), sekalipun teman Anda bukan orang yang egois.

  1. Coba Tukar Posisi

Ini bukan “balas dendam” yang bersifat jahat, ya. Kadang, kalau sudah kebangetan, ada baiknya Anda memberikan sudut pandang lain kepada teman Anda agar dia belajar memahami situasi orang lain.

Misalnya, selama ini dia adalah orang yang selalu datang telat dan maunya ditunggu terus. Sesekali, cobalah gantian Anda yang datang terlambat dan biarkan dia yang menunggu. Saat dia protes, tak usah bicara “nggak enak kan digituin?” supaya tidak terjadi pertikaian.

Bertingkahlah secara normal, anggap tidak apa-apa dan jelaskan mengapa Anda terlambat. Ada kata maaf juga lebih baik. Jika dia benar-benar peduli, tanpa Anda sindir, dia pasti memahami bahwa perilakunya selama ini ternyata bikin tak nyaman orang lain.

Intinya, jangan biarkan hal apapun merusak ikatan persahabatan Anda, termasuk sifat egois. Apabila masih punya pertanyaan soal bagaimana cara menjaga atau memelihara hubungan dengan orang lain, silakan konsultasikan hal tersebut melalui fitur Live Chat yang tersedia di aplikasi KlikDokter.

(OVI/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar