Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Berat Badan Bayi Susah Naik, Jangan-Jangan karena Anemia?

Berat Badan Bayi Susah Naik, Jangan-Jangan karena Anemia?

Sudah segala cara dilakukan, tetapi berat badan bayi susah naik. Ayah dan Bunda, jangan-jangan si Kecil kena anemia! Ini penjelasan lengkapnya.

Berat badan bayi yang susah naik, sering jadi momok bagi kebanyakan orang tua. Orang tua pun makin cemas kalau bayi sudah makan sesuai porsinya, tapi beratnya tak juga bertambah. Perlukah anemia dicurigai?

Anemia adalah kondisi ketika konsentrasi hemoglobin (Hb) di darah berada di bawah level normal. Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), untuk bayi yang berusia di bawah 1 tahun, nilai Hb yang kurang dari 11 g/dL dikategorikan sebagai anemia.

Waspadai Anemia Defisiensi Zat Besi

Sebagai informasi, jenis anemia yang paling sering terjadi pada anak adalah jenis anemia defisiensi besi.

Zat besi adalah salah satu komponen yang bersumber dari makanan dan perannya besar dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Bila bayi mengalami anemia defisiensi besi, ia akan tampak pucat, cepat lelah, nafsu makan menurun, dan muncul kebiasaan makan-makanan yang aneh (disebut pika, misalnya ingin makan es batu, debu, cat, dan lain-lain).

Lebih dari itu, anemia defisiensi besi punya dampak buruk lainnya yang lebih berat, yaitu gangguan pertumbuhan, yang berdampak pada berat badan dan tinggi badan anak.

Artikel lainnya: Berat Badan Bayi Tidak Normal? Ini Pemeriksaan yang Diperlukan

1 dari 3 halaman

Berat Badan Bayi Tidak Normal? Ini Pemeriksaan yang Diperlukan

Anemia pada bayi bisa membuat berat badannya sulit bertambah. Mekanisme ini diduga berkaitan dengan gangguan produksi hormon pertumbuhan, yang disebut IGF-1 (insulin-like growth factor-1).

Ketika kadar Hb terlalu rendah dan terjadi anemia berat dalam jangka waktu lama (kronis), gangguan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan berat badan bayi yang tak kunjung naik.

Gangguan perkembangan otak dan kognitif juga merupakan risiko dari kadar Hb yang rendah dan anemia berat kronis. Ini berkaitan dengan kondisi kurangnya zat besi, yang kemudian mengubah proses mielinasi saraf, mengubah metabolisme energi pada sel saraf, dan fungsi bagian-bagian otak.

Zat besi adalah mineral yang sangat penting bagi hampir semua sel tubuh. Berbagai proses metabolik seperti transpor oksigen, pembuatan DNA, dan transpor elektron, semuanya bergantung pada zat besi.

Mengingat bayi dalam periode kritis pertumbuhan dan perkembangan otak, kekurangan zat besi bisa berakibat sangat buruk.

Artikel lainnya: Berat Badan Bayi Normal, si Kecil Sudah Pasti Sehat?

Bayi yang Berisiko Tinggi Mengalami Anemia

Setelah tahu komplikasi anemia pada bayi, orang tua wajib tahu kondisi seperti apa yang membuat bayi berisiko mengalami anemia.

  • Kelahiran bayi prematur atau bayi berat lahir rendah.
  • Bayi mengonsumsi susu sapi sebelum usianya 1 tahun.
  • Bayi yang mendapatkan air susu ibu (ASI), tetapi tidak diberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang mengandung zat besi usianya 6 bulan.
  • Bayi yang memiliki infeksi kronis, misalnya tuberkulosis dan cacingan.
  • Bayi yang tidak diberikan makanan yang mengandung zat besi tinggi.
  • Bayi yang kelebihan berat badan atau obesitas.
2 dari 3 halaman

Cara Mencegah Anemia pada Bayi

Apa saja langkah pencegahan yang perlu dilakukan agar si Kecil terhindar dari anemia?

Kuncinya, orang tua mesti mengenali risiko anemia pada bayi. Bila bayi mendapatkan ASI eksklusif, pastikan juga ia diberikan MPASI yang kaya akan zat besi.

Beberapa contoh sumber zat besi yang baik antara lain: bayam, brokoli, kentang, bit, jamur, zaitun, stroberi, delima, semangka, daging sapi giling atau daging merah, dada ayam, hati, telur, kerang, tiram, udang, ikan, dan kurma.

Selain itu, berikan juga makanan lain yang mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi, seperti tomat, pepaya, jambu, jeruk, dan sebagainya.

Bila perlu, konsultasikan pada dokter untuk memperoleh suplementasi zat besi. Pasalnya, kandungan zat besi pada ASI sudah tak lagi mencukupi kebutuhan bayi yang usianya di atas 6 bulan.

American Academy of Pediatrics (AAP) dan WHO merekomendasikan skrining rutin anemia pada usia 12 bulan. Dengan begitu, bila memang bayi mengalami anemia, kondisi tersebut bisa terdeteksi sedini mungkin.

AAP merekomendasikan skrining selektif terhadap bayi-bayi yang berisiko tinggi mengalami anemia. Misalnya pada bayi yang mengalami masalah makan (makan pilih-pilih atau picky eater), berat badan susah naik, pertumbuhan terganggu, dan asupan zat besi makanan yang kurang cukup.

Bayi dengan kondisi-kondisi di atas sebaiknya diperiksa untuk mencari tahu kemungkinan anemia.

Kondisi anemia pada bayi sering terjadi dan ini bukanlah kondisi yang bisa disepelekan. Karenanya, saat bayi berat badannya susah naik, apalagi disertai gejala anemia lainnya yang disebutkan di atas tadi, baiknya segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak.

(RN/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar