Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Jadi Silent Disease, Ini yang Perlu Kamu Tahu soal Sifilis!

Jadi Silent Disease, Ini yang Perlu Kamu Tahu soal Sifilis!

Masih jadi topik yang dipandang sebelah mata nyatanya sifilis mampu merusak banyak organ krusial lain di luar organ genital. Simak hasil liputannya berikut ini.

Tak bisa dimungkiri, media kini sedang berfokus pada wabah virus corona atau COVID-19. Namun ternyata, selain virus tersebut, masih ada lagi penyakit yang angka penyebarannya tinggi, tetapi tak cukup diangkat ke publik, yaitu sifilis.

Infeksi menular seksual yang kadang disebut juga sebagai penyakit raja singa itu memiliki persentase yang sangat jomplang antara pasien positif sifilis yang tetap check up dibanding dengan orang yang positif terpapar namun tak kembali melakukan pengobatan rutin.

Itu berarti, hingga detik ini, penyebaran sifilis masih terus berlangsung. Kondisi penyebaran yang tinggi, tetapi bersifat underground. 

Mengetahui pengetahuan masyarakat yang minim terhadap penyakit sifilis, menggerakkan Klinik Pramudia, menyelenggarakan acara bertajuk “Sifilis, Silent Disease, Si Perusak Organ” itu diadakan di Aroma Sedap Resto, Menteng, Jakarta Pusat (12/02/2020).

Artikel Lainnya: Benarkah Kasus Sifilis dan Gonore Meningkat?

Acara yang diinisiasi Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin yang telah berdiri sejak tahun 2015 ini dihadiri dua narasumber tepercaya, yakni Dr. dr. Wresti Indriatmi, SpKK(K), M.Epid selaku Spesialis Kulit dan Kelamin RSCM serta dr. Anthony Handoko, SpKK selaku CEO Klinik Pramudia.  

1 dari 3 halaman

Gejala Sifilis dan Stadiumnya

Pada kesempatan yang diberikan, dr. Wresti mengatakan kebanyakan orang yang berobat kepada dokter sudah telanjur memiliki sifilis stadium lanjut. Ini tak hanya menyerang organ genital, infeksinya sudah menyebar ke bagian tangan, kepala, mata, dan lain-lain. 

Itu karena, gejala sifilis di tahap awal sulit sekali untuk dirasakan, sehingga penderitanya tidak sadar bahwa dia telah terinfeksi sejak beberapa bulan yang lalu.

”Ini yang penting diingat oleh masyarakat, gejala sifilis di tahap awal (sifilis primer) adalah ada luka 1-2 cm di alat kelamin, tapi tidak terasa nyeri maupun gatal,” tutur dr. Wresti. 

“Selain di alat kelamin, muncul juga ruam-ruam di area tubuh lainnya. Dan sama saja, tidak terasa gatal, perih, atau nyeri. Kalau sudah begitu, penderitanya harus segera memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin sebelum semakin menyebar dan menyerang organ-organ dalam penting, seperti otak, saraf, dan jantung,” dr. Wresti menegaskan.

Dalam sifilis, terdapat empat tahapan stadium. Pada sifilis primer, gejalanya seperti yang sudah dikatakan di atas. 

Sedangkan pada stadium dua atau sifilis sekunder, penyebaran sudah sampai ke berbagai kelenjar getah bening, lalu ke pembuluh darah. Lalu, bagaimana dengan stadium selanjutnya?

“Stadium tiga adalah sifilis laten. Sifilis tersebut sudah mulai menyerang banyak organ tubuh. Dan terakhir, sifilis tersier, yaitu terjadi peradangan di susunan saraf pusat dan sistem kardiovaskular atau membentuk tumor lunak atau gumma,” pungkas dr. Wresti.

Siapa Saja Orang-orang yang Berisiko Kena Sifilis?

Penting untuk diingat juga bahwa orang dengan HIV lebih rentan terhadap penularan sifilis. Tapi, mereka pula yang biasanya menjadi penyebar penyakit tersebut. 

Di luar penderita HIV, masih ada lagi sekumpulan orang yang berisiko tinggi terkena sifilis. Misalnya, orang yang sering gonta-ganti pasangan seks, hubungan seks sesama jenis, orang yang berkontak langsung dengan penderita sifilis, dan orang yang menggunakan barang berisiko dari si penderita. 

Korbannya semua termasuk wanita pekerja seks, pria pekerja seks, lelaki seks dengan lelaki, wanita seks dengan wanita, pengguna narkoba suntik, dan lainnya. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkan oleh ibu penderita sifilis. 

Mungkin Anda mempertanyakan, mengapa bersalaman juga berpotensi membuat Anda sebagai penderita sifilis? Ternyata, menurut dr. Wresti, ketika itu sudah menyebar ke tangan, sifilis bisa sangat menular! Jadi, berhati-hatilah untuk berkontak langsung dengan penderitanya. 

Artikel Lainnya: Hal yang Dilakukan Jika Terkena Sifilis

Sifilis kerap dianggap sebagai The Great Imitator. Sebab, kemunculannya bisa menyerupai penyakit kulit lain. Misalnya, psoriasis, kutil, alopecia areata (kebotakan), eksim, dan lain sebagainya. 

Untuk itulah, diperlukan tes darah dan pengecekan detail lainnya untuk mendiagnosis dan memberi pengobatan yang tepat supaya bisa sembuh. 

2 dari 3 halaman

Tes Sifilis dan Cara Mengobatinya 

Sementara itu, dr. Anthony mengatakan diperlukan tes darah untuk mengetahui apakah seseorang benar terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum itu atau tidak. 

Adapun dua jenis tes darah yang mesti dilakukan nontreponemal test (screening awal) dan treponemal test (mendeteksi antibodi yang spesifik pada sifilis).

Ketika diagnosis sudah dilakukan, langkah selanjutnya adalah mengobati. Cara mengobati sifilis adalah dengan pemberian antibiotik penisilin. 

“Penisilin spesifik dan terefektif yang dipakai untuk mengobati, yakni Benzathine Penisilin G. Dan yang kedua, Prokain Penisilin. Orang yang alergi dengan jenis antibiotik ini akan diberikan obat lain, meski efektivitasnya tak sekuat penisilin,” kata dr. Anthony. 

Pada penderita primer dan sekunder itu, penisilin dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara disuntik selama 14 hari berturut-turut. Selama masa pengobatan, penderita dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seks sampai dokter memastikan infeksi sudah sembuh. 

Sedangkan, untuk stadium yang sudah parah (tersier), waktu pengobatan akan memakan waktu lebih lama dan diberikan melalui infus. 

Meski penderita sifilis bisa sembuh total dari penyakitnya, namun pengobatan yang sudah dijalani tidak memberi kekebalan. Berhati-hatilah terhadap infeksi berulang. Apalagi jika Anda mengulangi hubungan seksual berisiko. 

Bila Anda masih memiliki pertanyaan seputar sifilis atau penyakit menular seksual lainnya, silakan berkonsultasi dengan dokter kami di sini. 

(AYU/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar