Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Heboh Dedy Susanto, Ketahui Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Heboh Dedy Susanto, Ketahui Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Agar Anda tidak tertipu lagi dengan yang palsu, mari simak perbedaan psikolog dan psikiater, plus orang dengan gelar doktor psikologi!

Tak bisa dimungkiri, pemahaman masyarakat terkait perbedaan psikolog dan psikiater masih cukup minim. Begitu pula dengan profesi motivator. Ya, ini memang masih berkaitan dengan praktik yang dilakukan seorang motivator bergelar doktor psikologi, Dedy Susanto.

Namanya makin mencuat sejak seorang selebgram, Revina VT, membongkar tindakan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Dedy terhadap beberapa “pasiennya”.

Entah bagaimana kelanjutan masalahnya, yang jelas, masyarakat mesti memahami dulu perbedaan psikolog dan psikiater, serta seorang motivator. Tujuannya, agar tak ada lagi konsultasi atau terapi salah kaprah yang seharusnya tidak dilakukan dan diterima mentah-mentah.

Berkenalan dengan Pendidikan Psikolog

Menurut Zarra Dwi Monica, M.Psi, Psikolog dari KlikDokter, psikolog adalah orang yang telah menempuh pendidikan S1 Psikologi, lalu dilanjutkan lagi dengan kuliah Profesi Psikologi. Sekarang, kuliah tersebut telah digabung dengan Magister (S2).

Kuliah profesi tersebut ditempuh selama 2,5 tahun dan akhirnya mendapatkan dua gelar sekaligus, yakni M.Psi. dan Psikolog.

“Untuk menjadi seorang psikolog, banyak sekali tahapannya. Kita harus ambil setidaknya 10 kasus dari berbagai institusi. Bisa dari puskesmas, rumah sakit, panti werdha, kepolisian, perusahaan, sekolah, dan lain-lain,” kata Zarra.

Sementara itu, orang yang mampu dan berwenang untuk memberikan terapi kepada pasiennya adalah psikolog klinis. Ingat, hanya ia yang boleh memberikan terapi.

“Kalau ada orang yang lulusan psikologi, sekalipun sudah menempuh S3 Psikologi tapi belum ambil profesi psikolog, ia tidak boleh memberikan terapi,” tambahnya.

Artikel lainnya: Tips Memilih Psikolog dan Psikiater yang Tepat

1 dari 4 halaman

Doktor Psikologi Bukan Psikolog, Beda Wewenang

Mereka yang lulusan S3 Psikologi disebut sebagai Ilmuan Psikologi. Mereka memiliki ranah di bidang penelitian, dan biasanya akan berperan pula sebagai dosen. Meski kesannya sudah “tingkat dewa”, seorang lulusan S3 Psikologi tidak boleh membuka praktik konseling.

Di sisi lain, akan berbeda ceritanya bila lulusan doktor Psikologi sudah ambil suatu sertifikasi terapi tertentu, barulah boleh membuka praktik. Yang wajib digarisbawahi di sini, orang yang sudah mengambil sertifikasi terapi hanya boleh bertindak setelah pasien sudah mendapatkan diagnosis dari seorang psikolog dan psikiater.

“Tanpa penyimpulan diagnosis berdasarkan bukti yang ada, terapi tidak boleh dilakukan sama sekali. Diagnosis yang diberikan oleh psikolog atau psikiater sangat penting untuk menentukan terapi apa yang paling sesuai. Kalau sudah, baru terapi boleh dijalankan oleh terapis,” tutur Zarra.

2 dari 4 halaman

Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Meski sama-sama bisa memberikan diagnosis kepada pasiennya, tentu ada perbedaan antara psikolog dan psikiater. Pendidikan yang dijalani psikolog itu linear psikologi (S1 Psikologi lalu lanjut Profesi dan Magister Psikologi).

Lain halnya dengan psikiater, ia adalah dokter yang mengambil spesialis kejiwaan. “Pendekatannya pun beda. Psikolog lebih melihat pola perilaku, akar masalah, dan pemicu dari keluhan. Kalau psikiater, berfokus pada kondisi biologis, misalnya terkait neurotransmitter dari orang yang bersangkutan,” pungkasnya.

Masih dari KlikDokter, Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog menambahkan, psikolog yang sedang menangani pasien dengan gangguan mental tertentu sebenarnya mengetahui obat apa yang tepat untuk diberikan kepada pasiennya.

Tetapi, mereka tidak memiliki wewenang dan pengetahuan yang cukup terkait dosis obat, efek atau interaksi antar obat (bila ada beberapa jenis obat), dan kondisi biologis si pasien. “Itu semua hanya psikiater yang tahu dan berwenang. Psikolog tidak boleh,” kata Ikhsan.

Antara psikolog dan psikiater dapat bekerja sama dengan seorang pasien. Misalnya, ada pasien yang memiliki gangguan bipolar. Untuk setiap sesi keluh kesah (konseling) dan juga terapi kognitif, pasien bipolar akan diambil alih seorang psikolog.

Apabila di kondisi tertentu emosi pasien perlu dikendalikan oleh obat-obatan, maka psikolog akan mengirimkan pasien tersebut kepada seorang psikiater. Adapun selain bipolar, gangguan mental yang perlu penanganan dari psikiater adalah skizofrenia.

Artikel lainnya: Tips Memastikan Psikolog Palsu atau Asli

3 dari 4 halaman

Terapi dan Pengobatan Bukan Wewenang Motivator

Lalu, bagaimana dengan motivator? Motivator tentunya tidak berwenang untuk memberikan sesi konseling, terapi, hingga pengobatan apa pun. Sebab, tidak ada batasan yang jelas dari profesi motivator.

Orang yang tidak memiliki keahlian resmi dan sertifikasi apa pun tapi pandai mengambil sudut pandang positif, dan pintar berbicara (persuasif dan bisa menyemangati), itu bisa pula dikatakan sebagai motivator. Jadi, profesi ini masih subjektif sekali.

Ikhsan mengatakan, bahaya sekali efeknya bila orang yang disebut-sebut sebagai motivator atau terapis gadungan langsung memberikan terapi yang mengubah pikiran dan perilaku, konseling, hingga obat-obatan kimia kepada orang lain (biasanya obat untuk menenangkan).

“Sama saja seperti malpraktik. Kondisi pasien justru bisa bertambah buruk,” tegas Ikhsan. Bahkan terburuknya, bukannya sembuh dari trauma, perasaan trauma yang lainnya akan datang akibat perilaku yang tidak pantas, dalam hal ini pelecehan seksual.

Itu sebabnya, sangat penting untuk mengetahui perbedaan psikolog dan psikiater, serta motivator atau gelar psikologi lainnya di luar gelar profesi psikolog. Bila Anda ingin konsultasi dengan psikolog klinis yang terpercaya, bisa pakai fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter!

(FR/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar