Sukses

Benarkah Konsumsi Obat Diabetes Memicu Sakit Jantung?

Obat diabetes membantu penderita kencing manis untuk menjaga kadar gula darah. Tapi, benarkah obat diabetes tertentu memicu sakit jantung?

Jika sudah terkena diabetes, maka biasanya seseorang harus mengonsumsi obat seumur hidup. Akan tetapi, obat yang seharusnya menolong dari penyakit kencing manis itu justru bisa menyebabkan masalah jantung. Benarkah demikian?

Diabetes memang masih menjadi momok di antara penyakit tidak menular lainnya. Bila mengidap penyakit ini, pasien diharuskan menjaga kadar gula darah. Salah satu caranya adalah dengan minum obat.

Menurut dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter, semua penderita diabetes wajib mengonsumsi obat-obatan secara rutin seumur hidupnya untuk mengontrol kadar gula darah.

"Tujuan dari pemberian obat-obatan pada penderita diabetes bukan bersifat untuk menyembuhkan, tetapi mencegah dan menghambat komplikasi yang akan terjadi di kemudian hari," ujar dr. Devia.

Namun, selain konsumsi obat-obatan, penderita diabetes juga disarankan untuk melakukan pengontrolan berat badan, tekanan darah, dan kadar lemak tubuh. Caranya dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti mengatur pola makan dan olahraga secara rutin.

"Meski kadar gula darah sudah mencapai target, bukan berarti penderita diabetes sembuh dan dapat lepas dari obat-obatan. Ingat, progresivitas dari komplikasi penyakit ini setiap harinya selalu berjalan terus," dr. Devia mengingatkan.

Artikel lainnya: Ini Dia 4 Obat Alternatif Alami untuk Diabetes

1 dari 2 halaman

Benarkah Obat Diabetes Bisa Sebabkan Sakit Jantung?

Namun, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa konsumsi obat diabetes bisa tingkatkan risiko penyakit jantung. Studi ini mencoba melihat bagaimana obat diabetes tipe-2 (rosiglitazone) memengaruhi hal tersebut.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui rosiglitazone sebagai obat diabetes pada 1999 dengan nama Avandia.

Meski begitu, belakangan obat rosiglitazone memang menuai kontroversi akibat implikasinya terhadap jantung. Hal itu sampai membuat banyak negara Eropa memutuskan untuk tidak lagi menyarankan jenis obat itu.

Ini tak terlepas dari studi pada awal 2007, di mana penggunaan obat rosiglitazone mengakibatkan 43% seseorang lebih mungkin mengalami serangan jantung. Akibatnya, pada 2010 obat itu ditarik dari pasar Eropa karena meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Di Amerika Serikat, obat ini masih tersedia tapi ada fitur peringatan pada kemasannya. FDA juga telah membatasi ketersediaannya pada 2010-2011. Masih tersedianya obat tersebut membuat penasaran apakah memang benar menyebabkan sakit jantung atau tidak.

Joshua D. Wallach, seorang asisten profesor di Yale School of Public Health, New Haven, Amerika mencoba membuktikan penelitian yang pernah dilakukan pada 2007. Dalam penelitian ini, mereka memiliki akses untuk melihat individual patient data (IPD) atau data individu pasien.

Artikel lainnya: Haruskah Penderita Diabetes Minum Obat Diabetes Seumur Hidup?

Wallach dan rekannya berupaya menganalisis lebih dari 130 uji klinis; para peneliti memiliki akses ke IPD untuk 33 percobaan ini. Ada total 48.000 data pasien dewasa dan peneliti mencoba melihat uji klinis pada 21.156 orang.

Uji klinis adalah uji coba acak, terkontrol, fase II-IV yang telah mempelajari dan membandingkan efek rosiglitazone dengan kontrol lain selama setidaknya 24 minggu.

“Kelompok kontrol didefinisikan sebagai pasien yang menerima tahapan konsumsi obat apapun selain rosiglitazone, termasuk plasebo,” jelas para peneliti.

Tim memeriksa hasil terkait infark miokard akut, gagal jantung, kematian terkait kardiovaskular, dan kematian terkait non-kardiovaskular dalam analisis uji coba yang memiliki data IPD.

Analisis menunjukkan bahwa ada risiko sekitar 33% seseorang mengalami serangan jantung, gagal jantung, dan kematian karena kardiovaskular bila minum obat rosiglitazone.

"Hasilnya menunjukkan bahwa rosiglitazone dikaitkan dengan peningkatan risiko kardiovaskular, terutama untuk kejadian gagal jantung," kata Wallach.

“Studi kami menunjukkan bahwa ketika mengevaluasi keamanan obat dan melakukan meta-analisis yang berfokus pada keamanan, IPD mungkin diperlukan untuk secara akurat mengklasifikasi semua efek samping,” tegas Wallach.

Penelitian di atas cukup membuktikan bahwa obat diabetes tertentu ternyata berbahaya bagi jantung. Tidak perlu takut akan hal ini, cobalah berkonsultasi dengan dokter terkait obat apa yang Anda minum. Cara mudahnya? Pakai fitur Live Chat dengan dokter di aplikasi KlikDokter

(FR/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar