Sukses

Pengangguran Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental?

Sudah berbulan-bulan cari kerja, tetapi belum ada satu pun yang diterima. Selain bikin stres tak punya uang, pengangguran juga berdampak pada kondisi mental.

Pada usia produktif yang seharusnya bekerja atau punya usaha tapi masih menganggur, pasti diselimuti kegalauan? Jadi pengangguran tak hanya berdampak pada finansial saja, tetapi juga memengaruhi kondisi mental seseorang.

Tingkat pengangguran jadi salah satu perhatian terbesar suatu negara, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2019, jumlah pengangguran meningkat sekitar 50 ribu orang, dengan total 7,05 juta orang dibanding tahun sebelumnya sebanyak 7 juta orang.

Sejak 2015, angka pengangguran belum pernah turun di bawah angka 7 juta. Meski jumlah pengangguran naik, BPS mengklaim Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dibanding Agustus 2018, yang mencapai 5,34 persen.

Saat ini, TPT berada di angka 5,28 persen. Ini tak terlepas dari kenaikan jumlah angkatan kerja per Agustus 2019, dari 131,01 juta orang menjadi 133,56 juta orang.

Artikel lainnya: 7 Jenis Terapi yang Penting untuk Kesehatan Mental

1 dari 3 halaman

Benarkah Menganggur Berdampak pada Gangguan Mental?

Dalam urusan mencari kerja, nasib orang bisa berbeda-beda. Ada yang prestasi akademisnya tak seberapa, tapi mudah mendapat pekerjaan. Pun, ada yang prestasinya gemilang tapi sulit cari kerja, ada yang picky, dan sebagainya. Apa pun alasannya, banyak faktor yang memengaruhi.

Menurut tim peneliti dari Universitas Washington and Lee, Amerika Serikat (AS), seseorang yang menganggur selama lebih dari 25 minggu (6 bulan) dalam setahun terakhir berisiko tiga kali lipat mengalami masalah kesehatan mental.

Menganggur dampaknya bisa begitu besar dalam hidup seseorang. Ini dibuktikan lewat studi yang dilakukan oleh Heldrich Center for Workforce Development di Universitas Rutgers, AS.

Dikatakan bahwa mereka yang tak punya pekerjaan merasa malu akan status penganggurannya, sehingga mendorong mereka untuk mengisolasi diri dari teman-teman dan keluarga.

Di antara mereka yang sudah menganggur dalam jangka waktu lama, 31 persen dilaporkan menghabiskan waktu 2 jam atau kurang dengan keluarga atau teman-teman pada hari sebelumnya, dibandingkan dengan 21,5 persen pada mereka yang belum lama menganggur.

Dari KlikDokter, psikolog Ikhsan Bela Persada, M.Psi,. mengatakan, faktor utama penyebab gangguan mental pada pengangguran adalah tingkat kepercayaan diri yang menurun.

"Ya, bisa banget (menganggur) memengaruhi kesehatan mental. Mereka yang menganggur itu biasanya kepercayaan dirinya menjadi turun, karena menganggap di usia yang sudah dewasa, bekerja adalah suatu kewajiban," jelas Ikhsan.

"Ketika tidak bekerja atau menganggur lama dan orang-orang lain di sekitarnya sudah bekerja, itu bisa membuatnya tidak percaya diri. Orang yang menganggur kerap merasa dirinya tak mampu memenuhi tanggung jawab sebagai orang dewasa. Apalagi kalau orang tersebut sudah punya tanggungan,” ia melanjutkan.

Masalah lain yang bisa memicu goncangan pada kesehatan mental juga berkaitan dengan pergaulan serta kondisi finansial yang tidak stabil.

Dilansir dari laman Institute for Work and Health (IWH) Kanada, ada beberapa cara bagaimana pengangguran dapat memicu atau memperburuk kondisi mental seseorang, yakni:

  • Berkurang atau hilangnya pendapatan akibat menganggur bisa menyebabkan menurunnya standar hidup individu atau keluarga. Pada gilirannya, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan, baik fisik maupun mental.
  • Meski menganggur tak serta-merta membuat seseorang langsung jatuh miskin, tetapi kondisi tersebut bisa mengakibatkan kecemasan akan lamanya kondisi tak berpenghasilan dan risiko penurunan standar hidup di masa mendatang.
  • Tak punya pekerjaan dapat mengakibatkan hilangnya “status” diri di hadapan keluarga dan teman, termasuk di masyarakat luas. Ini dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan diri.
  • Tidak bekerja juga bisa menyebabkan hilangnya kontak sosial dan networking, yang mana ini bisa menimbulkan penurunan kesejahteraan pribadi seseorang.

Artikel lainnya: 10 Tanda Anda Mengalami Depresi

2 dari 3 halaman

Dampak Psikologis yang Bisa Dirasakan oleh Pengangguran

Ancaman gangguan kesehatan mental atau kejiwaan bagi mereka yang menganggur antara lain:

  • Depresi

Ikhsan mengatakan, menganggur terlalu lama bisa bikin stres berat, yang bila tidak ditangani bisa “naik kelas” menjadi depresi.

"Ketika rentan stres dan lama tidak bekerja, bisa timbul depresi. Itu terjadi karena mereka dalam kondisi tak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Ikhsan.

Ia melanjutkan, “Intinya, seperti yang sebelumnya disinggung, ketika tidak merasa bahagia, lalu bisa jadi stres, putus asa, tidak percaya diri, mengisolasi diri, bisa menyebabkan depresi. Namun, pengangguran memang sangat rentan mengalami depresi.”

  • Menimbulkan Persepsi Negatif

Sebuah ulasan dalam jurnal “Procedia Engineering” menyebut, menganggur bisa menyebabkan persepsi negatif, yang dapat termanifestasi menjadi kecemasan, depresi, perasaan melankoli, rasa ketergantungan, ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, dan ketidakpuasan diri.

  • Rusaknya Hubungan

Hubungan dengan pasangan, baik pacaran, tunangan, atau sudah menikah, bisa terpengaruh. Umumnya, dampaknya paling dirasakan oleh pasangan menikah karena bisa terjadi perceraian, khususnya bila pria yang terlalu lama menganggur.

Apalagi dalam budaya Timur seperti di Indonesia, pria dibebankan tugas untuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Tak mampu memenuhi kewajiban tersebut tentunya menimbulkan banyak konflik.

Menjadi pengangguran memang bisa menimbulkan lubang besar dalam hidup seseorang. Tak hanya pada kondisi finansial, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental. Bila Anda atau mengenal seseorang yang sampai depresi akibat menganggur, sebaiknya minta bantuan kepada ahli kejiwaan profesional agar bisa diatasi sebelum terlambat.

(RN/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar