Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Savior Complex, Kecenderungan untuk Menolong Meski Tidak Dibutuhkan

Savior Complex, Kecenderungan untuk Menolong Meski Tidak Dibutuhkan

Suka menolong memang perbuatan yang baik. Tapi, kalau sudah sampai berlebihan, itu menandakan bahwa Anda mengalami savior complex. Kenali gejalanya!

Semua orang tentu sudah tahu manfaat dari tolong menolong. Sayangnya tindakan positif ini tidak melulu berujung baik jika dilakukan secara berlebihan. Faktanya, tindakan membantu orang secara berlebihan atau tidak pada tempatnya dikategorikan sebagai savior complex.

Mengenal Savior Complex

Selama ini, sosok pahlawan yang menyelamatkan Anda dari situasi sulit sering diibaratkan sebagai ksatria berkuda putih. Oleh karena itu, savior complex juga memiliki sebutan lain, yaitu white knight syndrome.

Savior complex itu sendiri adalah anggapan bahwa tindakan tolong-menolong yang dilakukan secara berlebihan bisa memperbaiki masalah dari orang yang ditolong. Padahal, belum tentu orang yang hendak ditolong benar-benar membutuhkan bantuan atau ingin ditolong.

Tak jarang, mereka yang punya kelainan savior complex cenderung memaksakan kehendak untuk membantu targetnya. Saking berlebihannya, si pelaku savior complex bahkan tidak memiliki cukup energi untuk mengerjakan urusannya sendiri.

Artikel Lainnya: Ini Reaksi Otak Saat Anda Membantu Orang Lain

1 dari 2 halaman

Ciri-ciri Orang dengan Savior Complex

Pada awalnya, tak ada yang terlihat salah dari perilaku berbuat baik secara berlebihan. Namun, lama-kelamaan terlihat perbedaan dari orang yang ingin tulus membantu dengan orang yang ingin menolong tapi untuk menguntungkan dirinya sendiri. 

Seorang psikolog dari Washington DC, Maury Joseph, mengungkapkan bahwa kecenderungan dari orang dengan savior complex adalah mereka melibatkan fantasi “kemahakuasaan”. Atau dengan kata lain, Anda yakin seseorang di luar sana mampu membuat semuanya jadi lebih baik, dan orang itu adalah Anda. 

Tidak hanya itu, beberapa ciri lain yang dapat dikenali dari orang dengan savior complex selain tolong-menolong secara berlebihan meski tanpa diminta adalah:

  • Tertarik dengan Kerentanan Seseorang 

Pelaku savior complex akan mendekati orang yang sedang punya banyak masalah. Itu bisa terjadi karena mereka memiliki empati yang besar atau pernah merasakan masalah yang sama.

Tak mau rasa sakit itu juga menyerang korban, orang dengan savior complex biasanya langsung sergap menolong. 

  • Selalu Ingin Mengubah Seseorang

Joseph berpendapat, pelaku savior complex percaya bahwa mereka punya kekuatan untuk memengaruhi orang lain. Berpikir bahwa mereka selalu tahu yang terbaik untuk orang lain juga bisa menjadi ciri-cirinya. 

Pada dasarnya, setiap orang tidak akan berubah seutuhnya (dari negatif ke positif atau sebaliknya) jika itu bukan atas kemauan sendiri. Tapi, orang dengan savior complex berpikir bahwa mereka benar-benar bisa mengubah orang lain. 

  • Selalu Perlu Menemukan Solusi

Tak semua masalah atau pertanyaan punya jawaban. Kadang, Anda butuh waktu untuk menemukan hal tersebut.

Sama seperti ketika sedang curhat, terkadang Anda hanya ingin didengar tanpa perlu mendapat saran. Apalagi, jika saran yang diberikan terkesan tidak relevan atau sulit diwujudkan (tidak realistis).

Meski tak diminta, orang dengan savior complex biasanya langsung menyuruh lawan bicaranya untuk mengikuti semua solusi yang ia berikan.

Padahal, akan lebih baik jika Anda bertanya terlebih dulu, seperti butuh bantuan atau tidak, sebelum benar-benar memberikan pertolongan terhadap masalah yang dihadapi. 

Artikel Lainnya: Bagaimana Cara Menolong Teman yang Jadi Korban KDRT?

  • Sering Mengorbankan Diri Sendiri

Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog dari KlikDokter mengatakan bahwa pelaku savior complex sampai rela mengorbankan diri sendiri demi menolong orang lain, sekalipun orang yang hendak dibantu tidak benar-benar dekat atau membutuhkan bantuan.

“Contoh, mereka (pelaku savior complex) bisa sampai menjual barang-barangnya demi memberikan uang buat orang yang ingin ditolong,” kata Ikhsan.

“Mereka bahkan rela sakit hanya demi membantu orang yang sebenarnya, mungkin, tak perlu dibantu. Mereka berpikir hanya dirinyalah yang bisa membantu, makanya mereka bertindak seperti itu,” sambungnya.

Perlukah Savior Complex Diobati?

Orang baik kok mesti diterapi? Mungkin itu yang sempat terbesit di pikiran Anda. Tapi, ingat, apapun yang berlebihan bukanlah hal yang baik untuk dipertahankan.

Sejatinya, perilaku savior complex dapat menjadi bumerang bagi pelakunya sendiri. Sebab, perilaku baik dari orang dengan savior complex ini cenderung tidak sehat.

Pada awalnya, dia ingin membantu karena tak tega melihat kerentanan pada orang lain. Tapi, ujung-ujungnya, bantuan berlebihan yang diberikan justru hanya untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, Ikhsan menyarankan, orang dengan savior complex perlu mendapat terapi dari psikolog. 

Terapi dapat membantu mereka dari trauma atau peristiwa masa lalu yang membuatnya berbuat seperti sekarang. Dengan bimbingan dan dukungan yang tepat, rasa tidak berguna akibat peristiwa masa lalu akan sirna dan perilaku savior complex lambat laun akan menghilang. 

Bila Anda masih penasaran tentang savior complex atau memiliki pertanyaan seputar kondisi mental maupun psikis, jangan sungkan untuk berkonsultasi langsung dengan tim dokter dari KlikDoker di sini.

(NB/RPA)

1 Komentar