Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Tindakan Operasi Keperawanan Akan Dilarang, Apa Alasannya?

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Tindakan Operasi Keperawanan Akan Dilarang, Apa Alasannya?

Dunia medis punya tindakan khusus untuk mengembalikan keperawanan. Namun, dengar-dengar, operasi keperawanan akan dilarang. Kenapa, ya?

Pernah dengar operasi hymenoplasty? Menurut dr. Alvin Nursalim, Sp.PD. dari KlikDokterhymenoplasty adalah prosedur memperbaiki hymen atau selaput dara wanita. 

Hymen yang robek akan dijahit halus agar kembali seperti semula. Meski ini adalah tindakan medis yang sudah cukup lama, ada yang mengusulkan bahwa operasi keperawanan ini sebaiknya dilarang.

Mengapa Mendapatkan Kontra?

Ya, dilansir dari laman BBC, para aktivis mendesak pemerintah Inggris untuk melarang tindakan operasi tersebut. Ini karena ada risiko bahwa wanita melakukannya atas dasar paksaan orang lain dan dilakukan di tempat yang tidak semestinya demi mengincar biaya yang lebih murah.

Misalnya, tidak dilakukan oleh dokter tepercaya dan tidak dengan fasilitas kesehatan yang memadai. 

Wanita berisiko dikucilkan apabila diketahui telah berhubungan seks sebelum menikah. Padahal, sobeknya selaput dara bukan cuma disebabkan oleh hubungan seks, melainkan cedera saat beraktivitas fisik maupun kecelakaan lain.

Namun karena ada salah kaprah soal keperawanan, pria suka menyangka bahwa si wanita sudah berhubungan seks sebelumnya.

Artikel Lainnya: Selaput Dara Robek Dikatakan Tidak Perawan, Ini Faktanya!

1 dari 3 halaman

Dianggap Tidak Punya Manfaat Medis

Tak cuma itu, operasi keperawanan ini juga dianggap oleh sebagian orang tidak memiliki manfaat medis. Berbeda dengan operasi organ dalam lain yang bisa meningkatkan kualitas hidup seseorang, hymenoplasty dianggap tidak berkontribusi pada kesehatan seseorang, apalagi keselamatan.

Operasi hymenoplasty juga dikatakan tak lepas dari bahaya. Adapun bahaya operasi perawan, ialah perdarahan, pembengkakan, dan rasa nyeri. Kendati demikian, hampir semua operasi memiliki risiko seperti itu. Jika tindakan dan perawatannya benar, beberapa minggu pasca operasi, efek samping akan menghilang.

Dokter Naomi Crouch, Ketua British Society for Pediatric and Adolescent Gynecology pun menanggapi soal larangan tersebut. Dia memahami ada wanita dewasa dan anak perempuan yang hendak dipaksa melakukan prosedur operasi untuk mengembalikan keperawanan.

Namun begitu, menurut dia, masyarakat juga mesti memahami bahwa segala yang dilakukan dokter pada dasarnya tidak akan pernah merugikan pasien, apalagi dengan sengaja. Mereka sudah terikat sumpah untuk tidak membahayakan pasiennya.

Di sisi lain, Coli Melville, Direktur Medis, Pendidikan, dan Standar dari General Medical Council mengungkapkan, meski dokter tidak akan memberi tindakan yang berbahaya pada pasien, sebaiknya dokter juga mempertimbangkan kerentanan dan kebutuhan psikologis pasien mereka. 

Jika mereka sebenarnya tidak nyaman dengan operasi keperawanan itu dan mendapatkan tekanan (bukan atas kemauan sendiri), tindakan operasi tidak mesti dilakukan.

Artikel Lainnya: Inilah Ciri-ciri Wanita yang Masih Perawan

2 dari 3 halaman

Bagaimana Operasi untuk Mengembalikan Keperawanan Itu?

Terlepas dari pro dan kontra pelarangan hymenoplasty, sebaiknya Anda ketahui juga soal prosedur untuk kembali perawan itu. Operasi mengembalikan keperawanan ini terbagi atas dua jenis, yaitu simple hymenoplasty dan alloplant.

Untuk simple hymenoplasty, selaput dara yang tersisa akan dijahit. Selaput dara pun akan kembali ke bentuk semula.

Adapun prosedur alloplant dilakukan saat tidak ada sisa selaput dara sama sekali, sehingga dilakukan pemasangan selaput dara buatan. Setelah tindakan “jahit-menjahit” selesai, dokter akan membersihkan selaput dara dengan air hangat dan pada garis jahitan, akan diberikan salep antibiotik.

Kedua metode di atas memiliki risiko komplikasi jika tidak dilakukan oleh orang yang kompeten. Komplikasi yang dimaksud antara lain muncul jaringan parut, nyeri saat berhubungan seks, hingga infeksi perlekatan jaringan akibat bekas operasi.

Sebagai informasi tambahan, salah besar jika pria menyuruh seorang wanita kembali perawan dengan operasi ini untuk meningkatkan kepuasan seksual. Sebab, hymenoplasty tidak bisa meningkatkan kepuasan seksual, terutama pada wanita.

Jika yang diharapkan adalah kepuasan seksual, seharusnya yang dilakukan adalah vaginoplasty atau labiaplastyVaginoplasty adalah operasi yang bertujuan mengembalikan vagina menjadi kencang kembali.

Kondisi otot yang kendur umumnya dialami para wanita yang telah melahirkan secara normal. Melahirkan secara normal memang dapat mengurangi elastisitas dan menurunkan kekencangan otot-otot, khususnya otot dasar panggul yang mengelilingi vagina.

Sementara labiaplasty adalah operasi vagina yang dirancang untuk memperbaiki bibir vagina (labia). Wanita yang tidak puas dengan bentuk bibir vaginanya, (biasanya karena terlalu besar atau terlalu panjang) dapat melakukan operasi ini untuk mengurangi ukurannya sedikit.

Sama seperti vaginoplasty, operasi vagina labiaplasty dapat meningkatkan kepuasan seksual. Adapun efek samping yang bisa terjadi pasca melakukan labiaplasty, antara lain kerusakan rahim atau kandung kemih hingga sulit menahan kencing saat batuk.

Belum diketahui tanggapan pemerintah terhadap anjuran larangan operasi keperawanan. Apa pun jenis tindakan yang dilakukan, mesti didasarkan atas kemauan pasien, bukan paksaan orang lain. Bila Anda punya pertanyaan seputar operasi vagina dan kesehatan organ intim, silakan konsultasikan melalui fitur Live Chat.

[HNS/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar