Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Susah Paham Informasi via Suara, Kenali Auditory Processing Disorder

Susah Paham Informasi via Suara, Kenali Auditory Processing Disorder

Beberapa orang ada yang tak mudeng jika diberikan penjelasan via suara. Ya, kondisi seperti itu dinamakan auditory processing disorder. Lantas, perlukah terapi?

Belajar melalui informasi yang disampaikan via suara bagi sebagian orang itu lebih menyenangkan ketimbang baca buku. Tapi, hal itu ternyata tak berlaku bagi orang dengan auditory processing disorder. Pasalnya, mereka malah kelimpungan jika mendengar suara!

Proses Menerima Informasi dari Suara Hingga ke Otak

Sebenarnya, proses mendengar itu sendiri adalah proses yang terbilang kompleks. Gelombang suara dari lingkungan kita mengalir ke telinga. Lalu, diubah menjadi sebuah getaran di telinga tengah.

Ketika getaran mencapai telinga bagian dalam, berbagai sel sensorik menciptakan sinyal listrik yang bergerak melalui saraf pendengaran ke otak. Di otak, sinyal akan dianalisis dan diproses untuk diubah menjadi suara yang bisa dikenali.

Sayangnya, orang dengan auditory processing disorder (APD) kesulitan dengan tahap ini dan tak bisa merespons suara di lingkungan mereka.

APD dikategorikan sebagai gangguan pendengaran dan bukan gangguan pemahaman atau perhatian seperti spektrum autisme (ASD) atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Artikel Lainnya: Gaya Belajar Anak: Visual, Auditori, atau Kinestetik?

1 dari 4 halaman

Gaya Belajar Anak: Visual, Auditori, atau Kinestetik?

Sebenarnya, penyebab pasti dari gangguan ini belum diketahui secara pasti. Namun, dilansir dari Healthline ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risikonya, yaitu sebagai berikut ini.

  • Faktor genetika. Jika orang tua punya masalah ini, kemungkinan besar anaknya juga akan mengalami hal yang sama.
  • Adanya keterlambatan atau masalah dengan perkembangan area otak dalam memproses suara.
  • Perubahan neurologis yang berkaitan dengan penuaan.
  • Kerusakan neurologis yang terjadi karena multiple sclerosis, infeksi meningitis, atau cedera kepala.
  • Pernah mengalami infeksi telinga berulang.
  • Ada masalah saat lahir, misalnya berat lahir rendah, kena penyakit kuning, hingga kurangnya oksigen ke otak.
2 dari 4 halaman

Apa Gejala Auditory Processing Disorder?

Tentu saja APD dapat dikenali, adapun beberapa gejala yang bisa mengindikasikan bahwa orang tersebut mengalami APD, antara lain:

  • Sulit memahami pembicaraan, terutama di tempat bising. Menurut Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, pada dasarnya Anda akan tetap dapat berbicara dengan orang lain meskipun di tengah bising. Ini karena telinga dan otak memiliki kemampuan untuk fokus terhadap satu jenis suara di antara berbagai suara yang ada.
  • Jika seseorang sulit mendengar dengan fokus di tengah kerumunan atau hanya bicara dalam ruangan yang sepi, kemungkinan dia mengalami gangguan pendengaran.
  • Sering salah paham terhadap apa yang dikatakan orang lain. Bahkan, dia membutuhkan waktu respons yang lebih lama selama melakukan percakapan.
  • Kesulitan berkonsentrasi atau memperhatikan dan memahami ucapan yang cepat atau arahan yang kompleks.
  • Sulit menentukan dari mana suara berasal .
  • Dan kurang bisa memahami lirik lagu
  • Karena mereka memiliki masalah dalam memproses dan memahami suara, orang dengan APD sering mengalami kesulitan dengan kegiatan pembelajaran di sekolah, terutama yang disajikan secara verbal.

Artikel Lainnya: Pakai Komputer Bisa Cegah Gangguan Kognitif Ringan?

3 dari 4 halaman

Lalu, Perlukah Diterapi?

Tuli berbeda dengan auditory processing disorder. Tuli berarti dia sulit mendengar suara sehingga tidak bisa merespons. Sedangkan APD, dia bisa mendengar suara, tapi dia tidak bisa fokus dan memahami isi dari suara tersebut.

Mereka yang mengalaminya sejak kecil pasti kesulitan belajar di sekolah karena hampir semua proses belajar disampaikan secara verbal.

Oleh sebab itu, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog dari KlikDokter menyarankan orang dengan APD untuk mendapatkan treatment atau pelatihan yang sesuai agar proses pembelajarannya tidak terhambat, terutama pada anak-anak. Beberapa contoh pelatihan, antara lain seperti bertkut ini.

  • Latihan mencari sumber suara dan latihan fokus untuk memahami informasi dari suatu suara meski di lingkungan yang bising. “Intinya, indera pendengaran harus dibiasakan menerima informasi via suara,” Ikhsan menegaskan.
  • Bekerja samalah dengan pihak sekolah. Anak dengan APD diberikan bantuan berupa informasi gambar dan tulisan saat proses pembelajaran verbal berlangsung.
  • Namun, informasi gambar dan tulisan itu hanya boleh dilihat saat dia mengalami kesulitan memahami informasi saja. Cobalah tetap mencatat segala informasi verbal semampunya. Jika ada yang “hilang”, lihatlah dari bahan tulisan atau gambar.
  • Menurut Ikhsan, jika APD ini dialami sejak kecil, biasanya si anak juga akan mengalami gangguan berbicara. Entah itu jadi speech delay atau dia bisa berbicara, tetapi susunan kata atau kalimatnya berantakan. Jadi, imbangi juga dengan terapi wicara.
  • Sedangkan untuk masalah medis yang melatarbelakangi APD, seperti gangguan saraf, cedera kepala, infeksi telinga, dan meningitis, dokter spesialis harus mengobati masalah tersebut lebih dulu sebelum penderitanya melakukan terapi pendengaran dan wicara.
  • Selama penderita APD melakukan pengobatan dan terapi, orang-orang yang berada di sekitarnya harus mengerti bahwa metode tersebut tak langsung serta merta membuahkan hasil.

Semuanya butuh proses. Jadi, tetaplah berbicara dengan suara yang agak lantang (tidak perlu teriak) dan tempo yang agak lambat (mesti bersabar).

 

Jangan buru-buru beri alat bantu dengar jika anak atau orang di sekitar susah memahami informasi via suara alias auditory processing disorder. Sebab, terapi yang dibutuhkan lebih dari sekadar itu. Jika masih punya pertanyaan seputar masalah pendengaran ataupun pemahaman, silakan konsultasi melalui fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter ataupun KlikDokter.

[RPA/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar