Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Benarkah Bayi Prematur Lebih Berisiko Terkena Diabetes Saat Dewasa?

Benarkah Bayi Prematur Lebih Berisiko Terkena Diabetes Saat Dewasa?

Menurut sebuah penelitian, bayi yang lahir terlalu dini atau prematur lebih berisiko mengalami diabetes pada masa kanak-kanak atau saat ia dewasa.

Bayi dikatakan prematur apabila ia lahir sebelum minggu ke-37 kehamilan. Nah, ada penelitian yang mengatakan bahwa bayi yang lahir terlalu dini lebih berisiko mengalami diabetes pada masa kanak-kanak dan dewasa. Mengapa demikian?

Pada dasarnya, semakin cepat bayi lahir sebelum waktunya, maka semakin banyak pula masalah kesehatan yang mengintai. Kondisi tersebut tergolong wajar, karena organ-organ dan fungsi fisiologis tubuhnya belum siap untuk menghadapi lingkungan di luar rahim ibunya.

Di dalam kandungan, janin akan mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi dari ibu, sehingga dapat bertahan hidup dan menjalani proses tumbuh kembang hingga tibalah saatnya ia lahir ke dunia.

Ciri-Ciri Bayi Prematur

Selain dari pembentukan dan fungsi organ yang belum matang sempurna, penampilan bayi prematur juga sedikit berbeda dengan bayi yang lahir cukup bulan. Umumnya, bayi yang lahir prematur memiliki ciri-ciri di bawah ini:

  • Ukuran tubuhnya kecil, tetapi kepalanya relatif besar.
  • Tampak rambut-rambut halus yang disebut dengan lanugo di tubuhnya.
  • Mudah terkena hipotermia (penurunan suhu tubuh) akibat cadangan lemak yang kurang.
  • Mudah mengalami sesak napas.
  • Belum memiliki kemampuan mengisap dan menelan dengan baik, sehingga rentan mengalami masalah dalam menyusu.

Artikel lainnya: Bisakah Kelahiran Prematur Dideteksi Sejak Dini?

1 dari 3 halaman

Faktor Risiko Penyebab Kelahiran Prematur

Ada beberapa faktor risiko yang bisa menyebabkan terjadinya kelahiran prematur, yakni:

  • Ibu memiliki riwayat melahirkan prematur sebelumnya.
  • Mengandung bayi kembar.
  • Memiliki masalah pada kandungan atau plasenta.
  • Ibu merokok dan mengonsumsi obat-obatan tertentu.
  • Mengalami infeksi saluran kemih atau keputihan.
  • Mengidap penyakit kronis seperti diabetes dan hipertens
  • Punya riwayat keguguran sebelumnya
  • Ibu mengalami trauma.

Fakta Risiko Diabetes terhadap Bayi Prematur

Ada beberapa komplikasi atau beberapa penyakit yang mengintai bayi prematur. Mulai dari masalah pernapasan karena organ paru-parunya belum sempurna, kebocoran jantung, risiko perdarahan otak, risiko penurunan suhu tubuh, saluran cerna belum matang, bayi kuning, gula darah rendah, dan kelemahan sistem kekebalan tubuh.

Bayi prematur juga dapat menghadapi tantangan jangka panjang seperti gangguan penglihatan, pendengaran, keterampilan kognitif, serta masalah sosial dan perilaku.

Selain komplikasi yang dapat langsung terjadi setelah bayi terlahir terlalu dini seperti yang disebutkan di atas, masih ada lagi penyakit bayi prematur yang mengintai, yaitu peningkatan risiko diabetes kelak. Hal ini disebabkan karena bayi prematur memiliki kadar insulin yang tinggi.

Semakin cepat bayi terlahir ke dunia, maka semakin tinggi kadar insulinnya. Ini dibuktikan lewat penelitian.

Dipimpin oleh Dr. Guoying Wang dari Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health, Amerika Serikat, melakukan penelitian terhadap lebih dari 1.300 anak yang lahir antara tahun 1998-2010. Kemudian, mereka diikuti selama tujuh tahun.

Artikel lainnya: Bolehkah Ibu dengan Diabetes Menyusui?

Tim peneliti memeriksa kadar insulin darah sebanyak dua kali, yakni ketika lahir (dari pembuluh darah tali pusat) dan saat anak-anak.

Dari situ, tim peneliti menemukan bahwa bayi yang terlahir prematur memiliki kadar insulin dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan.

Kadar insulin yang tinggi tersebut mengindikasikan adanya resistansi insulin (gangguan kerja insulin dalam mengatur kadar gula darah) yang merupakan cikal-bakal dari penyakit diabetes tipe 2—jenis diabetes yang umumnya baru muncul pada saat dewasa.

Dari temuan tersebut, para peneliti menduga bahwa kelahiran prematur adalah salah satu faktor risiko seseorang mengidap diabetes di kemudian hari.

Selain diabetes tipe 2, ternyata bayi prematur juga berisiko mengidap diabetes tipe 1. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan autoimun, yang umumnya muncul pada masa kanak-kanak atau dewasa.

Dari Universitas College Cork, Irlandia, Dr. Ali Khashan dan tim melakukan penelitian terhadap lebih dari 3 juta bayi yang lahir antara tahun 1973-2009 di Swedia. Tim peneliti menemukan bahwa bayi yang lahir prematur dengan berat lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe 1.

2 dari 3 halaman

Turunkan Risiko Diabetes dengan Mencegah Bayi Lahir Prematur

Untuk menurunkan risiko bayi prematur mengalami diabetes, yang bisa dilakukan adalah dengan mencegah agar bayi tidak tidak lahir lebih cepat dari waktunya. Langkah pencegahan yang bisa dilakukan oleh ibu hamil atau wanita yang berencana ingin hamil antara lain sebagai berikut ini.

  • Tidak merokok.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter.
  • Mengobati infeksi saluran kemih dan keputihan sebelum terlambat.
  • Rutin dan disiplin minum obat diabetes dan tekanan darah tinggi agar kadar gula darah dan tekanan darah terkendali.
  • Rutin kontrol dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk terus memantau kondisi kehamilan.
  • Memiliki berat badan ideal dan asupan nutrisi yang baik sejak sebelum hamil.

Selain itu, pada ibu hamil dengan risiko tinggi mengalami persalinan prematur, dokter umumnya akan melakukan usaha untuk mencegahnya terjadi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan termasuk berikut ini.

  • Pemberian hormon progesteron.
  • Pengikatan leher rahim (cervical cerclage atau cervical stitch).
  • Pemberian suplemen kalsium.
  • Pemberian aspirin dosis rendah.

Pada bayi yang terlanjur terlahir prematur, risiko terkena diabetes tetap bisa diminimalkan. Namun, khusus untuk diabetes tipe 2, peneliti menggarisbawahi bahwa bayi prematur perlu dirawat dan dipantau.

Tidak lupa untuk melakukan langkah-langkah untuk mencegah penyakit gula tersebut di kemudian hari. salah satunya adalah dengan menerapkan lingkungan hidup sehat di keluarga.

Misalnya dengan membiasakan gaya hidup sehat seperti menerapkan pola makan sehat bergizi seimbang, olahraga atau aktivitas teratur, serta mempertahankan berat badan normal.

Jadi, memang benar bahwa risiko bayi prematur terkena penyakit diabetes memang lebih tinggi. Namun, bukan berarti tidak bisa dicegah. Caranya adalah dengan menerapkan cara-cara di atas. Untuk pertanyaan seputar risiko diabetes dan bayi prematur, Anda bisa bertanya lebih lanjut ke tim dokter KlikDokter di fitur LiveChat yang ada di aplikasi selama 24 jam.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar