Sukses

Mengungkap Mitos dan Fakta Seputar Penyakit Kusta

Anda masih takut dan enggan berurusan dengan penderita kusta? Sebelum mendiskriminasi, baca dulu mitos dan fakta penyakit kusta berikut!

Mitos yang banyak berkembang tentang penyakit kusta kerap kali membuat kebingungan. Tak jarang, hal ini justru memicu stigma dan diskriminasi pada penderitanya. Upaya penanggulangan kusta pun menjadi tidak optimal. Supaya Anda tidak keliru lagi, mari simak fakta penyakit kusta di sini.

1 dari 3 halaman

Kusta, Masih Jadi Masalah Global

Pada 1873, seorang peneliti asal Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen, menemukan bakteri penyebab kusta, yakni Mycobacterium leprae. Karena itulah, penyakit kusta atau lepra juga disebut dengan Morbus Hansen atau Penyakit Hansen.

Penyakit ini antara lain menimbulkan beberapa gejala, yakni:

  • Bercak pada kulit, dapat berupa hipopigmentasi seperti panu atau kemerahan.
  • Bercak semakin lama semakin melebar.
  • Muncul mati rasa pada kulit yang mengalami bercak.
  • Selain mati rasa, kelenjar keringat pada daerah bercak tidak aktif.
  • Terdapat pelebaran saraf, terutama pada saraf ulnaris, medianus, auricularis magnus serta peroneus.
  • Alis rambut rontok.
  • Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa).
  • Deformitas pada anggota gerak.
  • Kelainan pada mata.

Selain itu, kusta juga tergolong penyakit menular. Angka penularannya pun tercatat cukup tinggi. Badan Kesehatan Dunia atau WHO bahkan menyebutnya sebagai penyakit menular yang terabaikan. Statistik menyebutkan bahwa di dunia ini, setiap dua menit, satu orang terdiagnosis kusta.

Artikel lainnya: Mengapa Kusta Bisa Bikin Anggota Badan Copot?

Dengan kata lain, sebenarnya, jumlah penderita kusta masih cukup banyak, meski angkanya tidak bombastis lagi seperti dulu. Di Indonesia sendiri, ada sekitar 15.000 penderita, menurut data yang dirilis pada akhir tahun 2017.

Akan tetapi, jumlah ini bisa jadi hanyalah “puncak gunung es”. Ini mengingat masih ada jutaan orang yang belum terdiagnosis setiap tahunnya. Ini salah satunya disebabkan oleh stigma negatif dan diskriminasi yang ada di masyarakat.

Ya, penyakit ini kerap dianggap sebagai penyakit mengerikan yang muncul akibat kutukan atau dosa penderitanya. Stigma ini membuat penderita kusta tidak segera mencari pertolongan saat keluhan muncul.

Padahal, walau menular, sebetulnya proses penularannya tak semudah seperti penyakit flu. Sayangnya, masyarakat sudah terlanjur percaya bahwa penyakit ini mudah menularkan banyak orang.

Mirisnya, penderita kusta kebanyakan dikucilkan, bahkan diasingkan! Pengobatan pun menjadi terlambat. Umumnya, penanganan medis baru dimulai kala sudah muncul komplikasi atau disabilitas.

2 dari 3 halaman

Mitos dan Fakta Penyakit Kusta

Stigma dan diskriminasi kerap muncul akibat adanya mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Mitos-mitos ini perlu diluruskan agar Anda tidak salah persepsi yang kemudian berdampak luas.

Berikut adalah sembilan mitos dan fakta penyakit kusta yang paling sering ditemukan di masyarakat.

  1. Kusta Sangat Mudah Menular

Tak ada yang menyangka bahwa pernyataan di atas hanyalah mitos belaka. Meski tergolong penyakit menular, penyakit kusta sulit didapat atau jarang sekali menular.

Faktanya, menurut penelitian penularan kusta dapat terjadi melalui lendir atau tetesan cairan hidung jika penderita batuk atau bersin, dan dihirup oleh orang lain. Masa inkubasinya sekitar 6 bulan hingga 20 tahun.

Lalu, fakta lainnya ditemukan sebanyak 95 persen orang dewasa jarang langsung tertular ketika berhadapan dengan penderita kusta. Ini karena sistem kekebalan tubuhnya dapat melawan bakteri penyebab kusta.

Artikel lainnya: Yuk, Kenali Bakteri Penyebab Kusta

  1. Kusta Tidak Dapat Disembuhkan

Hal di atas adalah mitos. Faktanya, kusta dapat disembuhkan melalui pengobatan dengan antibiotik.

Pengobatan ini dijalani selama 12-24 bulan melalui multidrug therapy, yakni terapi yang menggunakan dua sampai tiga obat sekaligus.

  1. Kusta Menyebabkan Jari-jari Tangan dan Kaki, serta Anggota Tubuh ‘Putus’

Lepra tidak membuat anggota tubuh terputus. Bakteri penyebabnya menyerang saraf-saraf jari tangan dan kaki sehingga mati rasa. Akibatnya, luka-luka pada area yang mati rasa bisa tidak disadari, yang kemudian dapat memicu infeksi dan kerusakan permanen.

Selanjutnya, bagian tubuh yang telah rusak ini dapat memendek. Biasanya, ini terjadi pada stadium lanjut penyakit kusta yang tidak diobati.

  1. Kusta Hanya Menyerang Orang yang Berusia Tua

Penyakit lepra dapat dialami siapa saja dari rentang usia berapa pun. Namun, masa inkubasinya yang lama membuat keluhan penyakit baru muncul di kemudian hari. Faktanya, 10 persen kasus kusta baru dialami oleh anak-anak.

  1. Kusta Muncul Akibat Dosa atau Kutukan

Hal di atas tentu tidak benar. Kusta disebabkan oleh bakteri yang tumbuh lambat, yakni Myobacterium leprae (M. lepra).

  1. Seseorang Akan Tertular Kusta Bila Duduk Bersebelahan dengan Penderitanya

Anda tidak akan terkena kusta melalui kontak biasa, seperti berjabat tangan, duduk bersebelahan, atau berbicara dengan penderita kusta.

  1. Penderita Kusta Tetap Menular Sampai Pengobatannya Selesai

Penderita kusta tak lagi menularkan penyakit dalam beberapa hari setelah memulai pengobatan dengan antibiotik. Namun demikian, pengobatannya harus diselesaikan sesuai dengan anjuran dokter agar infeksi tidak kembali menyerang.

  1. Penyakit Kusta yang Dimaksud dalam Kitab Suci Sama dengan yang Ada Saat Ini

Istilah ‘kusta’ yang ditemukan dalam teks-teks sejarah dan kitab suci secara umum merujuk kepada kulit yang tidak halus dan bersih. Mulai dari ruam kulit, gatal-gatal, infeksi jamur, hingga pembengkakan pada kulit.

Penyakit-penyakit ini dikatakan sangat menular, sedangkan kusta tidak demikian. Tanda-tanda khas penyakit kusta yang sebenarnya, seperti kerusakan anggota tubuh, kebutaan, dan mati rasa pun tidak disebutkan.

  1. Penderita Kusta Harus Diisolasi

Sekalinya penderita kusta memulai pengobatan, penyakitnya tak lagi menular dalam beberapa hari. Oleh sebab itu, penderita tidak perlu diisolasi.

Penderita kusta yang sedang dalam pengobatan dapat hidup normal di antara keluarga dan teman-teman mereka. Mereka juga tetap bisa bekerja atau bersekolah.

Itulah beberapa mitos dan fakta penyakit kusta yang harus Anda ketahui. Anda perlu memerangi mitos ini agar stigma negatif dan diskriminasi pada penderita dan mantan penderita kusta bisa hilang. Masih punya pertanyaan seputar penyakit kusta? Tanyakan pada dokter via Live Chat!

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar