Sukses

Amankah Terapi Chiropractic Dilakukan pada Anak?

Terapi chiropractic akhir-akhir ini mulai populer di tengah masyarakat. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan terapi ini dan amankan diterapkan pada anak?

Dalam beberapa tahun terakhir, terapi chiropractic mulai dikenal di masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar. Metode pengobatan ini kerap dimanfaatkan untuk meredakan nyeri. Biasanya, yang menggunakan terapi chiropractic adalah orang dewasa. Tapi, bolehkah kalau anak-anak dan bayi ikut terapi tersebut?

1 dari 3 halaman

Apa Itu Chiropractic dan Kegunaannya?

Banyak orang yang berpikir bahwa chiropractic digunakan untuk mengatasi masalah otot dan tulang saja. Namun, sebenarnya terapi ini tidak hanya digunakan untuk mengatasi masalah pada dua bagian tubuh itu saja.

Terapi utama yang paling sering dilakukan pada chiropractic adalah manipulasi pada tulang belakang. Tidak hanya itu saja, latihan fisik, terapi pada jaringan lunak, serta konseling mengenai postural dan nutrisi juga dapat menjadi bagian dari chiropractic.

Selain sebagai terapi tambahan pada masalah tulang dan otot, chiropractic juga sering digunakan untuk membantu menangani masalah kesehatan lain.

Misalnya, chiropractic diterapkan pada anak di luar negeri sebagai terapi tambahan untuk keluhan sakit perut, mengompol, asma, nyeri kepala, kanker, dan infeksi telinga. Selain itu, terapi ini juga kerap dijadikan sebagai terapi pencegahan penyakit pada anak.

Artikel lainnya: Komplikasi Akibat Terapi Chiropractic

Orang yang melakukan terapi ini juga tidak boleh sembarangan! Ada pelatihan atau sekolah khusus bagi praktisi chiropractic, sehingga ia menerima sertifikat dan izin melakukan terapi. Sayangnya, di Indonesia masih belum banyak pusat pendidikan chiropractic.

Itulah mengapa, banyak terapis chiropractic di Indonesia yang berasal dari luar negeri. Contohnya Kanada, terapi ini sudah cukup berkembang di sana. Bahkan, beberapa negara di dunia memiliki pelatihan khusus terapi chiropractic pada anak.

2 dari 3 halaman

Jadi, Amankah Chiropractic untuk Anak?

Data dari berbagai laporan menunjukkan, memang ada komplikasi yang dapat terjadi pada orang dewasa setelah terapi chiropractic dilakukan. Komplikasi biasanya bersifat ringan seperti nyeri dan rasa tidak nyaman pada bagian yang diterapi, sakit kepala, atau kelelahan.

Tapi, komplikasi ini biasanya terjadi hanya sementara. Selain yang bersifat ringan, beberapa komplikasi ada yang serius seperti cedera pada bagian belakang otak (vertebrobasilar), terutama setelah manipulasi di bagian leher.

Kejadian ini cukup parah walaupun sangat jarang, yaitu empat kasus per satu juta terapi chiropractic pada leher. Komplikasi serius lain yang sangat jarang terjadi adalah stroke, sebab tercatat pada satu dari lima juta orang yang mendapat terapi chiropractic.

Artikel lainnya: Apakah Chiropractic Ampuh untuk Mengatasi Masalah Kesehatan Tulang?

Nah, mengenai komplikasi chiropractic pada anak, laporan terkaitnya terbilang sangat sedikit. Ada satu laporan mengenai cedera pada otak belakang yang terjadi pada anak usia tujuh tahun yang mendapatkan manipulasi leher pada terapi chiropractic.

Walaupun jarang, komplikasi ini sangat fatal. Untuk itu, baik orang tua maupun terapis, harus lebih waspada dalam melakukan manipulasi leher saat melakukan terapi chiropractic.

Hal lain yang patut menjadi perhatian mengenai terapi chiropractic pada anak adalah keadaan dimana orang tua terlambat membawa anak untuk mendapat penanganan medis. Padahal, sebenarnya terapi chiropractic merupakan terapi tambahan untuk terapi medis yang diberikan dokter, bukan satu-satunya terapi utama.

Terdapat sebuah laporan yang menyatakan bahwa sebagian orang tua hanya membawa anak ke terapis chiropractic untuk penanganan kondisi akut. Akhirnya, anak sering terlambat dalam mendapat penanganan penting dari dokter karena menganggap terapi chiropractic saja sudah cukup.

Kesalahan persepsi inilah yang harus diluruskan dan dihindari. Artinya, orang tua boleh-boleh saja membawa anak ke terapis chiropractic, namun perlu diingat bahwa ini hanyalah terapi pendamping.

Orang tua sebaiknya membawa anak yang sakit ke dokter terlebih dahulu untuk mendeteksi penyebab penyakitnya. Dari diagnosis yang ada, barulah penanganan bisa ditentukan.

Lalu, bolehkah melakukan terapi chiropractic pada bayi? Mengenai hal ini, belum ada penelitian yang menyatakan tentang keamanannya untuk bayi. Jadi, sangat disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum memberi metode chiropractic pada si Kecil.

Terapi chiropractic dapat mendukung pengobatan medis yang dilakukan. Akan tetapi, jangan lupakan penanganan dari dokter dan dianjurkan untuk berkonsultasi sebelum menerima terapi ini. Kini, konsultasi dengan dokter tidak sulit kok, pakai fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter!

(FR/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar