Sukses

Tanda-tanda Perilaku Gaslighting yang Perlu Anda Tahu

Pernah meragukan diri usai berdebat dengan seseorang, bahkan merasa bersalah terhadap hal-hal yang tidak dilakukan? Awas, itu tanda Anda korban gaslighting.

Pernah meragukan diri sendiri setelah berdebat dengan seseorang, bahkan sampai merasa bersalah untuk hal-hal yang tidak Anda lakukan? Jika pernah, mungkin Anda korban perilaku gaslighting. Jangan sampai jadi target, kenali ciri-ciri gaslighting.

Asal Muasal Istilah “Gaslighting

Gaslighting adalah salah satu perilaku manipulasi psikologis. Istilah ini mulai dikenal pada tahun 1940, kala sutradara Inggris, Thorold Dickinson, merilis film berjudul “Gaslight”.

Pada tahun 1944, sutradara George Cukor asal Amerika Serikat membuat ulang film tersebut dengan judul yang sama dan berhasil melampaui kesuksesan pendahulunya.

Film bergenre psikologi thriller ini mengisahkan seorang wanita yang menjadi korban manipulasi psikologis suaminya. Sang suami memanipulasi sang istri, dicuci otaknya sehingga perlahan ia mulai meragukan dirinya sendiri dan meyakini dirinya jadi gila.

Artikel lainnya: Mengenal Fenomema Gaslighting, Perilaku Manipulasi Psikologi

1 dari 3 halaman

Arti Sebenarnya dari Gaslighting

Gaslighting adalah teknik manipulasi psikologis agar pelaku tampak berkuasa dan mampu mengontrol korbannya. Caranya adalah dengan membuat korban tak yakin dengan penilaiannya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, perasaan ragu dan tak percaya diri ini akan melemahkan kondisi kejiwaan, sehingga korban tak mampu lagi membedakan kebenaran dan kebohongan. Alhasil, korban jadi tergantung pada pelaku, baik dalam hal pemikiran maupun perasaan.

Perilaku seperti ini bisa terjadi dalam hubungan asmara, profesional, pertemanan, antara orang tua dan anak, hingga relasi figur publik dengan orang biasa. Artinya, pelaku gaslighting bisa siapa saja—keluarga, teman, pasangan, atasan, figur publik, maupun orang yang tidak dikenal di media sosial.

Pelaku gaslighting (disebut sebagai gaslighter) adalah pribadi yang cenderung narsistik, arogan, sosiopat, dan psikopat. Selain pintar berbohong dan manipulatif, gaslighter juga bisa tampak menawan dan tak berdosa.

2 dari 3 halaman

Jangan Mau Jadi Korban, Ini Ciri-Ciri Gaslighting

Perilaku gaslighting umumnya dipicu oleh sikap tak mau disalahkan atau demi menyembunyikan hal-hal yang tak ingin diketahui orang lain. Misalnya, untuk menutupi tindak kriminal, perselingkungan, dan lainnya.

Sebagai konsekuensi, akan muncul perilaku di bawah ini:

1. Kebohongannya Tampak Jujur

Gaslighter lihai berbohong. Kebohongan yang keluar dari mulutnya disampaikan dengan cerdas, sebab pelaku pandai berkelit.

Meski Anda tahu gaslighter tengah berbohong, tetapi karena ekspresinya innocent plus adanya sentuhan manipulasi, Anda jadi ragu. Padahal ini adalah taktik awalnya.

Ketika pelaku berbohong tentang hal-hal yang lebih besar, Anda menjadi tak yakin apakah yang dikatakannya benar atau bohong belaka.

Artikel lainnya: Cara Jitu Menghadapi Orang Manipulatif

2. Terus Membantah Meski Terbukti Bersalah

Korban yakin 100 persen bahwa gaslighter pernah mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak benar, bahkan ada buktinya. Ketika dikonfrontasi, ia akan membantahnya mati-matian sampai akhirnya korban mulai ragu, “jangan-jangan saya yang salah paham atau salah lihat,” pikirnya.

3. Sikap dan Perbuatan Tidak Sesuai dengan Perkataan

Singkatnya, munafik. Gaslighter banyak bicara, tapi perbuatannya tak selaras dengan perkataannya. Oleh sebab itu, ketika berhadapan dengan gaslighter, yang terpenting adalah apa yang dilakukannya, bukan yang dikatakannya.

4. Pintar Memanfaatkan Kebaikan Orang Lain

Gaslighter selalu sedia taktik yang mulus dan rapi, sehingga korbannya menjadi tak sadar kalau dirinya tengah dimanfaatkan untuk kepentingannya.

5. Anda Dibuat Bingung dengan Sisi Positifnya

Anda mungkin telah menyadari perasaan mengganjal yang dirasakan terhadap gaslighter, tetapi itu sulit untuk dijelaskan.

Kenyataannya, memang seorang gaslighter cenderung bisa membingungkan para korbannya dengan menunjukkan sisi positif dirinya. Ini dapat membuat korbannya berpikir ulang bahwa orang tersebut tak sepenuhnya buruk.

6. Menyebut Semua Orang Berbohong

Gaslighter akan berusaha meyakinkan semua orang di sekitar korbannya adalah pembohong, termasuk keluarga, sahabat, dan orang-orang tepercaya.

Korban pun menjadi gamang pada kenyataan yang sebenarnya, sampai-sampai tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya. Pada akhirnya, korban akan termanipulasi dan hanya percaya si pelaku gaslighting.

7. Memosisikan Diri sebagai Korban

Seorang gaslighter akan jarang mengakui kekurangannya. Saat disalahkan, justru ia merancang kebohongan dan memosisikan diri sebagai korban (playing victim) untuk menutupi kelemahannya. Akhirnya, korban jadi memandang rendah dirinya.

8. Menggunakan Hal-Hal Berharga Korban sebagai Senjata

Keluarga, sahabat, hobi, atau karier bisa dijadikan senjata saat gaslighter melakukan konfrontasi. Ia akan menyerang kepercayaan dan harga diri korban, lalu mengatakan bahwa korbannya tak pantas memiliki hal-hal berharga tersebut karena kekurangan yang dimiliki.

Ujung-ujungnya, hal tersebut dapat merusak karier dan hubungan interpersonal korban.

9. Mengajak Orang Lain untuk Menyerang Korban

Karena jago memanipulasi, pelaku gaslighting bisa dengan mudahnya menemukan orang-orang yang akan membelanya mati-matian, lalu memanfaatkannya untuk menyerang korbannya.

Ini banyak dilakukan oleh figur publik atau influencer yang punya banyak penggemar fanatik.

10. Menimpakan Kesalahan pada Diri Korban

Gaslighter adalah pembohong, penipu, perundung (tukang bully), tetapi ia bisa berbalik menuduh korbannya seperti itu. Korban akan dibuat merasa bersalah sampai mulai membela diri, dan akhirnya teralihkan dari kesalahan pelaku.

11. Menyebarkan Cerita Bahwa Korban Tak Bisa Dipercaya

Ini adalah taktik paling efektif dari gaslighting karena sifatnya merendahkan. Pelaku akan membuat orang lain mempertanyakan kewarasan korban.

Sehingga mereka tak akan percaya kala ketika korban mengatakan perilaku gaslighter yang sebenarnya, yakni kejam (abusive) dan manipulatif.

12 .Seolah-olah Bersahabat

Di balik semua perilaku yang sudah disebutkan tadi, gaslighter bisa berpura-pura menjadi orang baik, yang seakan-akan berpihak kepada korban. Tujuan sebenarnya adalah supaya pelaku bisa mencari tahu kelemahan korban.

Jika sudah tercapai, kesalahan dan kelemahan korban akan terus diingat dan disebut-sebut. Pada akhirnya, korban akan dibuat merasa serba salah tanpa member solusi.

Manipulasi psikologis melalui gaslighting pada awalnya tampak sebagai masalah kecil. Namun, jika terjadi terus-menerus, perilaku tersebut dapat menyebabkan stres psikologis dan trauma emosional pada korban.

Coba renungkan kembali apakah di lingkungan rumah, tempat kerja, atau pertemanan Anda pernah jadi korban, dengan cara mencocokkan dengan tanda-tanda gaslighting di atas. Jangan biarkan perilaku gaslighting menggerogoti kehidupan Anda.

(RN/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar