Sukses

Hobi Berbohong? Ketahui Dua Tipe Pembohong Ini!

Ada dua tipe pembohong yang harus ingat-ingat, yaitu pembohong patologis dan pembohong kompulsif. Kenali perbedaannya, jangan sampai Anda jadi korban!

Rasanya, semua orang pernah berbohong semasa hidupnya. Namun, bila kebohongan terus bersambung dengan kebohongan lainnya, apalagi tak bisa membedakan mana yang kenyataan dan yang bukan, itu tak wajar. Ada dua tipe pembohong yang perlu Anda tahu.

Manusia Punya Kencederungan untuk Berbohong

Ada banyak alasan mengapa orang berbohong. Akan tetapi, percaya atau tidak, manusia secara alamiah punya kecenderungan untuk melakukannya.

Menurut studi yang dilakukan pada tahun 2002, sebanyak 60 persen orang berbohong setidaknya sekali selama percakapan 10 menit. Dalam rentang waktu tersebut, disebutkan bahwa manusia rata-rata mengatakan 2-3 kebohongan.

Soal alasannya, dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDOkter menjelaskan, banyak hal yang membuat seseorang berbohong.

“Alasan yang paling umum adalah untuk menutupi kesalahan dan kekurangan diri. Ini dilakukan semata agar orang tersebut diterima oleh orang lain atau lingkungan di sekitarnya,” jelas dr. Dyah.

Kebohongan sendiri bisa mencakup hal-hal sepele untuk membuat orang lain merasa lebih baik. Misalnya, saat suami bilang sebuah makanan enak, padahal tidak, agar sang istri tak sakit hati. Bilang sudah “on the way” ke teman saat janjian, tetapi sebetulnya baru bangun tidur.

Artikel lainnya: 3 Tipe Gangguan Kepribadian Narsistik yang Perlu Anda Tahu

1 dari 3 halaman

Mengenal Dua Tipe Pembohong

Sesekali, bohong memang tidak dilarang. Namun, bila sampai tak terkendali, itu bisa merusak kehidupan pribadi dan profesional, yang berpotensi merusak hubungan dan karier.

Jangan sampai terjerumus atau jadi korban, mari kenali dua tipe pembohong.

1. Pembohong Patologis

Kebohongan patologis, atau juga dikenal sebagai mythomania dan pseudologia fantastica, adalah perilaku kronis dari kebohongan kompulsif.

Tidak seperti seseorang yang berbohong agar tidak melukai perasaan orang lain atau kena masalah, pembohong patologis tak memiliki alasan apa pun ketika berbohong.

Meski kebohongan patologis telah dikenal selama lebih dari satu abad, tetapi belum adalah definisi universal tentang kondisi ini.

Beberapa kasus mungkin merupakan akibat dari kondisi mental tertentu, seperti gangguan kepribadian seperti gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder, narsistik, dan antisosial. Sementara itu, sebagian kasus lainnya tak memiliki alasan medis yang mendasarinya.

Selain itu, penyebab lainnya juga bisa akibat sindrom Munchausen, yaitu ketika seseorang pura-pura sakit atau sengaja menyakiti demi demi mendapatkan perhatian dan simpati orang lain.

Artikel lainnya: Gangguan Kepribadian Ganda, Fakta atau Fiksi?

Selain itu, ada studi kasus dalam Journal of Neurology tahun 2011 yang meneliti seseorang dengan kebohongan kompulsif, menemukan bahwa perilakunya mirip dengan orang-orang yang mengalami demensia frontotemporal.

Demensia frontotemporal adalah bentuk demensia yang memengaruhi daerah otak frontal dan temporal, yang menyebabkan perubahan perilaku dan bahasa.

Ciri-ciri pembohong patologis antara lain seperti berikut ini.

  • Kebohongannya tak memiliki alasan yang jelas.
  • Kebohongan yang diceritakan biasanya dramatis, rumit, dan terperinci.
  • Mereka biasanya menggambarkan dirinya entah sebagai pahlawan atau korban.
  • Kadang mereka mempercayai kebohongan yang mereka sebarkan.

2. Pembohong Kompulsif

Tipe ini bisa dibilang memandang berbohong sebagai sebuah kebiasaan. Kebohongan bisa dilakukan tentang apa pun dan dalam situasi apa pun.

Biasanya, mereka berbohong untuk “membumbui” atau melebih-lebihkan, atau mengatakan cerita yang ia pikir ingin didengar oleh orang-orang yang ia ajak bicara. Sederhananya, mereka ingin terlihat baik di mata orang lain.

Selain itu, pembohong tipe ini biasanya ingin bersembunyi dari kebenaran, karena ia merasa tak nyaman bila berkata jujur.

Pembohong kompulsif biasanya sulit berhenti berbohong karena sudah jadi kebiasaan.

2 dari 3 halaman

Perbedaan antara Keduanya

Baik pembohong patologis atau pembohong kompulsif, keduanya sama-sama berbohong terus-terusan. Bedanya, kalau pembohong kompulsif melakukannya lebih frontal. Mereka lebih nyaman berbohong daripada mengatakan hal yang sebenarnya. Mereka pun cenderung berbohong berulang kali tentang hal-hal yang tidak penting.

Pembohong patologis mungkin lebih “berani”. Mereka bisa terus berbohong meski kebohongannya sudah ketahuan.

Bahkan, menurut Paul Ekman, PhD, profesor emeritus psikologi dari Universitas California, Amerika Serikat, serta penulis buku “Telling Liars” kedua tipe pembohong ini cukup mirip.

“Bahkan, seseorang bisa menjadi pembohong patologis yang kompulsif,” kata Prof. Elkman. Nah, lo!

Sederhananya, pembohong patologis memang dari awal sudah niat berbohong dan akan terus melakukannya meski aksi ngibulnya ini sudah terbongkar atau sudah dianggap orang-orang di sekitarnya sebagai pembohong.

Sementara itu, pembohong kompulsif awalnya mungkin tak bermaksud untuk berbohong. Namun, ia terpaksa harus melakukannya demi reputasi, atau saat merasa terancam—situasi yang membuatnya terus-terusan berbohong.

Itulah dua tipe pembohong, yang sama-sama “hobi” bohong terus-terusan. Bila Anda menyadari diri sering berbohong, bahkan ada kecenderungan menjadi pembohong patologis atau kompulsif, sebaiknya minta bantuan ahli kejiwaan. Jangan sampai itu merusak kehidupan Anda—merusak hubungan dengan pasangan dan keluarga, karier profesional, atau sampai terjadi tindak kriminal.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar