Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Anak Suka Mengurung Diri di Kamar, Waspada Kena Hikikomori!

Anak Suka Mengurung Diri di Kamar, Waspada Kena Hikikomori!

Pernahkah Anda dengar istilah hikikomori? Yuk, Kenali lebih lanjut supaya Anda bisa mengantisipasinya saat anak mengalami kondisi ini.

Mungkin tak banyak dari Anda yang pernah mendengar istilah hikikomori. Wajar saja, istilah ini lebih dikenal di Jepang. Walau bukan suatu diagnosis medis secara resmi, hikikomori secara umum digunakan masyarakat Jepang untuk menggambarkan seseorang yang mengisolasi dirinya sendiri.

1 dari 3 halaman

Hikikomori dan Gejalanya

Secara ringkas, hikikomori adalah seseorang yang sangat menghindari kontak sosial (misalnya melalui pendidikan, pekerjaan, atau persahabatan). Mereka akan mengisolasi dan menarik diri dari lingkungan ke dalam tempat tinggalnya selama setidaknya 6 bulan sebagai akibat dari beberapa faktor.

Istilah ini sudah mulai populer sejak tahun 1990-an. Namun, pada tahun 2003, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang membuat kriteria hikikomori, yaitu berikut ini.

  • Seseorang dengan gaya hidup yang berpusat di rumahnya.
  • Tidak memiliki ketertarikan ataupun kemauan untuk pergi ke sekolah atau bekerja.
  • Gejala sudah berlangsung setidaknya selama enam bulan berturut-turut.
  • Tidak memiliki penyakit mental seperti skizofrenia, retardasi mental, ataupun masalah kejiwaan lainnya.
  • Tidak memiliki relasi dengan orang lain, misalnya pertemanan.

Artikel lainnya: Tips Melatih Kedisiplinan pada Anak Depresi

Banyak hikikomori memilih untuk mengurung diri dalam kamarnya, terkadang bahkan menolak berinteraksi dengan anggota keluarga yang tinggal serumah. Mereka menghabiskan waktu hanya dengan membaca, menonton, atau tidur.

Sering kali, mereka mengubah jam tidur (tidur di siang hari dan bangun di malam hari) untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Beberapa hikikomori menyatakan dapat tetap berinteraksi jika berhadapan dengan orang asing yang tidak mereka kenal.

Mereka umumnya mampu keluar rumah, misalnya untuk membeli barang keperluan hidup, meski biasanya dilakukan pada malam hari. Sering kali, mereka bergantung secara finansial pada orang tuanya untuk bertahan hidup.

Di sisi lain, penyebab pasti munculnya fenomena hikikomori masih dipelajari dan dikaji lebih lanjut.

2 dari 3 halaman

Dapat Muncul di Usia Remaja

Perlu mendapat perhatian dari para orang tua, gejala hikikomori dapat mulai muncul di masa remaja. Itu sebabnya, saat Anda mulai melihat gelagat sang anak sesuai dengan gejala di atas, jangan dibiarkan.

Artikel lainnya: 6 Cara Bangun Waktu Berkualitas dengan Anak

Itu karena gejala tersebut dapat berkembang dengan tindakan mengisolasi diri yang umumnya pertama kali dilakukan pada usia 20-an. Kondisi ini dapat terus berlangsung hingga berusia paruh baya.

Pada tahun 2015, Jepang mengadakan survei. Hasilnya, diperkirakan seorang hikikomori mencapai 541.000 orang pada rentang usia 15-39 tahun.

Survei kembali dilakukan pada akhir 2018 pada kelompok usia lebih tua (40-64 tahun). Hasilnya, ditemukan jumlah yang bahkan lebih banyak, yakni sekitar 613.000 orang.

Berdasarkan survei terkini, kebanyakan hikikomori malah ditemukan pada kelompok umur berusia lebih lanjut. Kurang lebih 76,6% merupakan mereka yang berusia antara 40-64 tahun. Kondisi ini juga lebih umum ditemukan pada laki-laki.

Beberapa ahli menganggap hikikomori sebagai sindrom yang erat kaitannya dengan kultur. Hal ini disimpulkan mengingat kebanyakan kasus dilaporkan di negara Jepang. 

Akan tetapi, ahli kejiwaan dari seluruh dunia melaporkan pernah mendapatkan kasus penarikan diri dari kehidupan sosial yang serupa. Walau demikian, kasus di masing-masing negara tersebut tampaknya tidak sebanyak kasus yang ditemukan di Jepang.

Bantuan Medis untuk Penderita Hikikomori

Saat mengetahui sang anak atau orang di sekitar adalah hikikomori, Anda tak boleh pasif saja.  Hikikomori memerlukan bantuan khusus agar dapat kembali ke kehidupan sosial. 

Anda dapat membawanya berkonsultasi dengan dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi. Pada beberapa kasus yang lebih berat, dapat diperlukan terapi hingga bertahun-tahun hingga si anak dapat keluar dari “cangkangnya”.

Jika anak Anda mulai menunjukkan gejala hikikomori, jangan dibiarkan saja. Segera diskusikan bersama ahlinya, seperti dokter, psikolog, atau psikiater untuk penanganan yang tepat. Ingin tanya soal masalah kejiwaan? Tanyakan saja pada psikolog via Live Chat!

[HNS/AYU]

1 Komentar