Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Sering Kejang Saat Demam Bisa Berdampak Turunkan Kecerdasan Anak?

Sering Kejang Saat Demam Bisa Berdampak Turunkan Kecerdasan Anak?

Siapa tak panik melihat anak kejang-kejang saat demam? Kengerian Anda makin bertambah karena disebut-sebut bisa turunkan kecerdasan anak. Benarkah?

Saat anak demam pastinya, ibu dan ayah jadi sulit tidur. Apalagi, harus mengecek terus suhu tubuhnya setiap 30-60 menit sekali. Jangan sampai si Kecil mengalami kejang-kejang. Soalnya, kata orang tua zaman dulu, kondisi kesehatan ini bisa membuat anak jadi tidak pintar. Benarkah?

Kejang demam adalah gangguan kejang yang muncul saat suhu tubuh seseorang mengalami peningkatan. Biasanya, kondisi ini tidak berhubungan dengan penyebab lain di sistem saraf. Bahkan, risiko kemunculan kejang akan lebih tinggi bila orang tua punya riwayat serupa.

1 dari 4 halaman

Gejala Khas Demam Kejang

Step atau kejang demam pada anak memiliki gejala khas, yaitu demam akan mendahului kejang. Setelah kejang, anak pun akan sadar kembali.

Kejang umumnya berlangsung selama beberapa menit, yakni 10-15 menit. Biasanya, kondisi kejang demam ini akan berhenti saat si Kecil berusia 5-6 tahun.

Artikel Lainnya: Solusi untuk Anak yang Masih Suka Mentil Payudara Ibu

Sebagian besar, tipe kejang yang terjadi saat kejang demam adalah kejang umum. Anak akan mengalami demam (biasanya 380C), kehilangan kesadaran, mata tampak mendelik atau berkedip, kedua tangan dan kaki kaku, lalu kelojotan.

Pola ini disebut dengan kejang tonik klonik. Saat kejang berlangsung, anak tidak akan menyahut bila dipanggil atau diperintah. Kejang dapat berhenti sendiri dan setelahnya anak akan sadar kembali.Sementara itu, kejang demam dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut ini.

  • Kejang Demam Sederhana

Ini merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Kejang berlangsung selama beberapa detik hingga 15 menit, tidak berulang dalam 24 jam. Kejang ini juga tidak spesifik terjadi pada satu bagian tubuh tertentu.

  • Kejang Demam Kompleks

Dalam kondisi ini, kejang terjadi lebih dari 15 menit, berulang dalam 24 jam. Biasanya, terlihat satu bagian tubuh yang lebih dominan mengalami kejang. Misalnya, diawali dari tangan kemudian ke seluruh tubuh.

2 dari 4 halaman

Kejang Demam dan Perkembangan Otak

Step terjadi akibat adanya bangkitan listrik di otak. Pada kejang demam, bangkitan tersebut terjadi ketika anak mengalami demam.

Karena kejang identik dengan masalah pada sistem saraf, banyak orang tua khawatir hal itu akan mengganggu perkembangan dan menurunkan kecerdasan anak.

Namun, kabar baiknya, akibat kejang demam sederhana tidak terbukti menyebabkan masalah perilaku atau kognitif si Kecil. Dengan kata lain, kejang demam sederhana tidak menurunkan kecerdasan anak.

Artikel Lainnya: Berapa Lama Idealnya, Waktu Bermain untuk Anak dalam Sehari?

Para pakar telah sepakat mengenai hal ini dan telah didukung oleh berbagai hasil penelitian ilmiah.

Meski demikian, dalam beberapa kondisi, kejang demam dapat menyebabkan masalah pada perkembangan anak, termasuk kognitif atau kecerdasannya. Anak dengan riwayat kejang demam berulang berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, khususnya dalam hal bahasa.

Kejang demam yang terjadi berulang berhubungan dengan keterlambatan kemampuan bicara, terutama pada anak usia 2,5 tahun. Kejang demam yang terjadi dalam setahun pertama kehidupan juga berpengaruh terhadap perkembangan bicara anak.

Selain itu, kejang demam yang terjadi lebih dari 10 menit, seperti pada kejang demam kompleks, juga dapat memengaruhi perkembangan otak. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mencegah agar kejang demam tidak terjadi berulang kali.

3 dari 4 halaman

Pencegahan Kejang Demam

Kejang demam dapat dicegah dengan menurunkan suhu tubuh saat anak mengalami demam. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat penurun suhu tubuh dan melakukan kompres air hangat pada dahi, ketiak, dan lipatan siku.

Selain itu, berikan anak cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi (kekurangan cairan). Anda juga harus mengetahui tanda “alarm” yang perlu diwaspadai, yaitu berikut ini.

  • Anak tidak sadar kembali setelah mengalami kejang.
  • Kejang sudah terjadi pada suhu tubuh yang relatif rendah (misalnya di suhu tubuh <380C).
  • Kejang berlangsung lebih lama.
  • Anak masih mengalami kejang di usia lebih dari 5 tahun.

Apabila satu atau lebih dari hal tersebut terjadi pada anak Anda, segeralah periksakan ke dokter.

Kejang demam memang sering terjadi pada anak. Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir karena pada kasus yang sederhana, kejang demam tidak mengganggu perkembangan dan menurunkan kecerdasan. Anda masih punya pertanyaan seputar kejang demam si Kecil? Tanyakan pada dokter via Live Chat!

[HNS/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar