Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Selain Imunisasi Wajib, Perlukah Imunisasi Tambahan untuk Anak Anda?

Selain Imunisasi Wajib, Perlukah Imunisasi Tambahan untuk Anak Anda?

Imunisasi wajib anak dilengkapi saat si Kecil berusia di bawah 1 tahun. Kalau sudah lengkap, seberapa perlu dirinya mendapat vaksinasi tambahan?

Sering kali, imunisasi dasar atau imunisasi wajib saja tak cukup untuk melindungi si Kecil dari berbagai penyakit. Supaya pertahanan daya tubuhnya lebih optimal, ada beberapa imunisasi tambahan untuk anak yang direkomendasikan.

1 dari 3 halaman

Pentingnya Imunisasi Dasar untuk Anak dan Jenisnya

Imunisasi adalah salah satu upaya pencegahan dan penghilangan (eradikasi) penyakit menular atau infeksi berbahaya.

Tujuan dari dilakukannya imunisasi adalah untuk menghilangkan dan melindungi seseorang atau sekelompok masyarakat terhadap penyakit menular berbahaya atau infeksi tertentu di dunia.

Sejak lahir, bayi wajib menerima imunisasi untuk mencegahnya tertular penyakit. Ini karena daya tahan tubuhnya belum berkembang sempurna. Jenis imunisasi dasar wajib pada bayi di antaranya adalah berikut ini.

  • Hepatitis B

Pemberian imunisasi hepatitis B dilakukan sedini mungkin, yaitu kurang dari 12 jam setelah bayi dilahirkan, dengan catatan kondisinya stabil.

Bila sang ibu menderita hepatitis B (HbsAg positif), maka selain vaksin hepatitis B, imunoglobulin hepatitis B (HBIg) juga diberikan.

Imunisasi hepatitis B akan diulang kembali dengan jarak interval satu bulan dari pemberian dosis pertama dan dua bulan dari dosis kedua.

  • BCG

BCG adalah vaksin yang berisi kuman Mycobacterium bovis yang telah dilemahkan. Tujuan pemberian vaksin ini adalah membentuk kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC atau TB).

Seperti yang sudah Anda tahu, Indonesia merupakan negara endemik TBC. Jadi, vaksin ini sangat penting untuk anak agar terhindar dari TBC dan segala komplikasinya yang berbahaya.

Artikel Lainnya: 6 Imunisasi Wajib untuk Anak

  • Campak

Imunisasi campak hanya diberikan satu kali, yaitu pada saat si Kecil berusia 9 bulan. Tujuannya adalah agar anak terhindar dari penyakit campak dan berbagai komplikasinya seperti gangguan pendengaran, subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), pneumonia, hingga kematian.

  • Polio

Polio atau poliomyelitis adalah penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Penyakit ini sangat mudah menular lewat feses penderita.

Imunisasi dasar polio diberikan sebanyak empat kali, dengan interval satu bulan dari setiap dosisnya.

  • DPT-HB-Hib

Vaksin kombinasi DTP-HB-HiB bekerja untuk melindungi anak dari penyakit difteri, tetanus, pertusis atau batuk rejan, hepatitis B, dan infeksi Haemophilus influenza type B secara bersamaan. Imunisasi ini diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada usia 2, 3 dan 4 bulan.

Imunisasi Tambahan untuk Anak, Seberapa Perlu?

Jawabannya, tentu saja perlu! Setiap anak disarankan untuk melakukan imunisasi tambahan guna meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.

Sekadar mengingatkan, imunisasi tambahan beda dengan imunisasi ulangan atau lanjutan.

Imunisasi lanjutan adalah tindakan lanjutan dari imunisasi dasar, dengan tujuan untuk memperpanjang masa perlindungan. Sedangkan, imunisasi tambahan diberikan untuk melindungi anak dari penyakit tertentu.

Memang, imunisasi tambahan sifatnya tak wajib, karena tidak semua daerah punya akses mudah terhadap beberapa jenis vaksin dan harganya yang relatif lebih mahal.

2 dari 3 halaman

Jenis Imunisasi Tambahan untuk Anak yang Dianjurkan

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan sembilan imunisasi tambahan yang perlu dilakukan, yaitu seperti berikut ini.

  • Pneumokokus (PCV)

Vaksin PCV disarankan karena dapat mencegah infeksi bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan meningitis, radang telinga, pneumonia, dan bakterimia.

Sebagai tambahan, vaksin PCV bisa mulai diberikan pada usia 2, 4, 6, dan antara usia 12-15 bulan.

  • Rotavirus

Penyebab diare tersering pada anak-anak adalah rotavirus. Inilah kenapa vaksin rotavirus dianjurkan, yang dapat diberikan mulai usia anak 2 bulan.

Artikel lainnya: Yuk, Ketahui Jarak dan Jadwal Imunisasi Anak

Termasuk penyakit yang paling sering menjangkiti masyarakat sepanjang tahun, anak yang mulai menginjak usia 6 bulan bisa mendapatkan vaksin influenza, dan perlu diulang setiap tahun.

  • MMR

Vaksin MMR (measles, mumps, rubella) diberikan untuk mencegah penyakit gondongan, campak, dan campak jerman atau rubela.

Vaksin ini bisa diberikan pada si Kecil yang berusia 15-18 bulan, dengan catatan adanya jarak satu bulan antara imunisasi lainnya, dan minimal enam bulan dengan imunisasi campak.

  • Varisela

Meski varisela atau cacar air bukanlah penyakit yang mengancam jiwa, tetapi penularannya sangat mudah dan cepat. Itu sebabnya, anak juga sangat direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin ini. Vaksin varisela bisa diberikan pada anak di atas usia 1 tahun.

  • Hepatitis A

Seperti namanya, virus ini menyebabkan hepatitis A, yang mana sebagian besar pengidapnya adalah anak-anak.

Meskipun hepatitis A bisa sembuh dengan sendirinya dan lebih ringan dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya, tetapi pada beberapa kasus hepatitis A dapat menyebabkan kekambuhan.

Pemberian vaksin hepatitis A pada anak sangat dianjurkan setidaknya ketika anak sudah menginjak usia 2 tahun. Ini diberikan dua kali dengan jarak tiap 6 bulan hingga 1 tahun sekali.

  • Tifoid

Tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhii dengan menunjukkan tanda dan gejala seperti demam, mual, muntah, gangguan BAB (konstipasi atau diare), tidak nafsu makan, badan lemas, dan kadang disertai dengan munculnya ruam.

Penyakit tifoid dapat menyebabkan komplikasi seperti perforasi usus, kejang, ensefalopati hingga syok.

Vaksin tifoid ditujukan untuk anak-anak usia sekolah, meski sebetulnya sudah bisa diberikan sejak usia anak 2 tahun dan diulang tiap 3 tahun.

  • HPV

Vaksin human papillomavirus (HPV) bertujuan untuk mencegah infeksi akibat HPV, seperti kutil kelamin dan mencegah kanker serviks.

Tak hanya anak perempuan, anak laki-laki juga bisa mendapatkan vaksin HPV mulai usia 10 tahun.

  • Japanese encephalitis (JE)

Japanese encephalitis dikenal juga sebagai radang otak akibat oleh virus, yang ditularkan lewat gigitan nyamuk. Virus penyebab penyakit tersebut termasuk dalam golongan flavivirus.

Penyakit ini menyebabkan peradangan pada otak yang menunjukkan gejala seperti demam tinggi, penurunan kesadaran, kejang, sakit kepala, gangguan bicara atau berjalan, muntah, dan diare. Imunisasi JE mulai diberikan pada anak usia 1 tahun dan perlu diulang 1-2 tahun berikutnya.

Meskipun tidak termasuk imunisasi dasar wajib untuk anak, tetapi sembilan imunisasi tambahan di atas perlu orang tua pertimbangkan. Tujuannya tentu  saja agar sistem kekebalan tubuh si Kecil akan semakin aktif, dan itu bisa mencegahnya terkena suatu penyakit berat berikut komplikasinya. Untuk lebih jelasnya, konsultasikan dengan dokter spesialis anak.

(RN/AYU)

1 Komentar