Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Gigi Tidak Tumbuh meski Sudah Besar? Kenali Kondisi Hypodontia

Gigi Tidak Tumbuh meski Sudah Besar? Kenali Kondisi Hypodontia

Gigi yang tidak tumbuh sesuai tahapan usia anak tentu bisa bikin ia malu dan tak percaya diri. Disebut sebagai hypodontia, gangguan pertumbuhan gigi apa ini?

Bayi sudah menginjak usia 13 bulan tapi tak belum tumbuh gigi, atau anak sudah berusia 10 tahun gigi permanen anak tidak juga tumbuh, orang tua perlu mewaspadai kondisi hypodontia.

Hypodontia dan Displasia Ektodermal, Penyebab Gigi Anak Tak Tumbuh

Normalnya, seorang anak memiliki gigi susu yang lengkap sejak berusia tiga tahun. Gigi susu akan tergantikan oleh gigi geraham “full set” saat ia beranjak remaja (12-14 tahun).

Pada penderita hypodontia, kondisi seperti itu tidak terjadi. Pertumbuhan hanya terhenti di gigi susu (dan saat gigi susu copot, gigi geraham tidak tumbuh) dan sering bersamaan dengan bibir sumbing.

Hypodontia disebabkan oleh kelainan genetik dan ada lebih dari 10 gen yang berperan terhadap gangguan pertumbuhan gigi tersebut. Namun, dari sekian banyak gen, gen WNT10A-lah yang menjadi faktor utamanya. Gen tersebut lantas membawa kelainan genetik displasia ektodermal.

Nah, salah satu bentuk dari kelainan genetik displasia ektodermal ini adalah hypodontia. Bila Anda pernah serial televisi “Stranger Things”, salah satu karakternya, Dustin, yang diperankan oleh Gaten Matarazzo, mengalami kelainan genetik yang memengaruhi pertumbuhan gigi, yakni cleidocranial dysplasia.

Artikel lainnya: Gigi Anak Tumbuh Renggang, Perlukah Khawatir?

Meski dua kondisi yang berbeda, tetapi baik displasia ektodermal maupun cleidocranial dysplasia sama-sama memengaruhi pertumbuhan gigi anak.

Ketika teman-temannya sudah memiliki gigi tetap, Dustin hanya memiliki gigi susu yang bahkan tidak lengkap (ompong). Karena itulah, gaya bicara Dustin agak berbeda ketimbang temannya. Sebab, selain masalah gigi, kelainan bentuk lidah, rahang, dan mulut biasanya juga dialami.

1 dari 2 halaman

Bisakah Hypodontia Dicegah?

Sayangnya, karena gangguan pertumbuhan gigi adalah kelainan genetik, hypodontia tidak bisa dicegah. Hanya saja, kegagalan pertumbuhan gigi ini bisa dideteksi sejak dini. Jadi, ketika usia anak sudah agak besar, penampilannya tetap bisa dipertahankan, begitu juga dengan kemampuan mengunyah dan bicaranya jadi tak terlalu terganggu.

Dokter biasanya akan memeriksa kondisi gigi anak menggunakan sinar X, dengan memperhatikan hal-hal seperti: apakah ada jarak renggang antar gigi? Apakah ukuran gigi terlalu kecil dan lancip? Apakah ada bentuk gigi geraham yang aneh?

Jika memang hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa si anak berpotensi mengalami hypodontia, maka ada tiga upaya yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Pakai Kawat Gigi

Ini adalah bentuk usaha agar anak tidak perlu memakai gigi palsu. Kawat gigi yang terpasang akan membantu mengembalikan posisi gigi yang renggang. Ini membuat lama-kelamaan jarak antar gigi menyempit.

Artikel lainnya: 8 Tips Merawat Gigi Anak yang Baru Tumbuh

  • Memperbaiki Bentuk Gigi

Selain berusaha merapatkan jarak antar gigi, langkah selanjutnya adalah memperbaiki bentuk gigi yang terlalu kecil dan punya ujung runcing. Gigi tersebut akan diisi dengan bahan khusus agar bentuknya menyerupai gigi geraham.

  • Pakai Gigi Palsu

Jika metode pertama dan kedua dirasa terlalu repot, anak juga bisa langsung diberikan gigi palsu. Gigi palsu memang sering digunakan untuk mengatasi hypodontia dan memiliki tiga metode pemasangan, yaitu:

  • Denture: Pemasangan gigi palsu yang bisa dilepas pasang.
  • Dental bridge: Pemasangan gigi palsu di antara gigi alami. Gigi-gigi ini direkatkan menggunakan lem khusus.
  • Dental implant: Pemasangan implan gigi langsung ke tulang rahang.

Sementara itu, di luar dua kondisi yang telah disebutkan di atas, drg. Callista Argentina dari KlikDokter mengatakan, kegagalan pertumbuhan gigi juga bisa disebabkan oleh penyakit sistemik lain, misalnya saja:

  • Hemifacial hypertrophy dan odontomaxillary dysplasia.
  • Sindrom Down.
  • Achondroplastic dwarfism.
  • Tricho-dento-osseous syndrome (TDO).
  • Pycno disostosis pituitary gigantism.

“Adanya gangguan endokrin, misalnya keadaan di mana terdapat kondisi hipotiroidisme, hipoparatiroid dan hipopituitarisme, dan gangguan nutrisi akibat kekurangan protein, vitamin D, kalsium, dan fosfor juga bisa menyebabkan keterlambatan erupsi gigi permanen,” kata drg. Callista.

Santai terhadap pertumbuhan gigi anak sah saja, toh, tiap anak punya fase perkembangannya sendiri. Namun, waspadalah jika gigi anak tidak tumbuh pada waktu yang semestinya, segera konsultasikan dengan dokter. Bila masih ragu, segera unggah aplikasi KlikDokter dan tanya langsung dengan tim medis kami yang siap sedia selama 24 jam.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar