Sukses

Yuk, Lampiaskan Amarah dengan Cara Ini

Sedang emosi tingkat dewa bukan berarti Anda bisa sesuka hati memarahi orang lain. Ingat, tetap lampiaskan amarah dengan cara yang benar.

Kesal dan amarah memuncak hingga ke ubun-ubun adalah emosi yang dapat dirasakan oleh semua orang. Cara melampiaskan amarah pun bisa berbeda pada setiap orang dan tidak ada yang salah dengan itu. Hanya caranya yang harus diperhatikan.

Amarah, Saat Sesuatu Tak sesuai Ekspektasi

Amarah adalah perasaan negatif yang dihubungkan dengan pikiran akan kekerasan, rangsangan psikis, dan ketidakmampuan beradaptasi dalam kondisi tertentu. Ini adalah respons dari sebuah kondisi yang tidak diinginkan atau tidak sesuai dengan ekspektasi.

Tak jarang, amarah disebabkan oleh sikap atau perbuatan orang lain yang dipersepsikan diri sebagai sesuatu yang merendahkan, menyakiti, atau bahkan mengancam.

Secara fisik, munculnya rasa amarah kerap disertai dengan berbagai perubahan pada tubuh, seperti otot yang menegang, frekuensi napas dan denyut nadi yang meningkat, hingga sakit kepala.

Dalam konteks keseimbangan kondisi tubuh, ini merupakan respons normal tubuh sebagai persiapan mekanisme mempertahankan diri saat tubuh merasa terancam. Namun, tak jarang, rasa marah dilampiaskan dengan tidak tepat sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Artikel lainnya: Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Anda Marah

1 dari 2 halaman

Lampiaskan dengan Sehat!

Merasa marah atas suatu kondisi merupakan hal yang normal selama Anda masih memiliki kendali atas emosi tersebut. Justru, menimbun rasa dongkol akibat marah dan kesal dapat berdampak negatif bagi kesehatan, baik fisik maupun psikis.

Makanya, penting untuk bisa mengenali diri dan melampiaskan segala emosi melalui cara yang sehat dan tak merugikan. Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan.

  • Tenangkan Diri dan Bernapas

Saat merasakan arus amarah yang mulai datang, cobalah duduk jika Anda sedang berdiri, atau berbaring saat Anda sedang duduk. Selanjutnya, pejamkanlah mata.

Temukan posisi yang membuat Anda tenang dan nyaman. Beri waktu sejenak untuk berpikir respons apa yang sebaiknya diberikan terhadap kondisi emosional itu.

Tariklah napas panjang untuk membantu menurunkan frekuensi napas yang kerap meningkat seiring dengan munculnya rasa marah. Tarik napas panjang dari hidung dan keluarkan perlahan dari mulut.

Lakukan ini selama 5-10 menit sampai Anda merasa napas kembali tenang. Anda dapat melatih pernapasan ini hingga 3 kali dalam sehari untuk membantu merilekskan pikiran.

  • Auto-sugesti

Mengucapkan kalimat bernada positif kepada diri sendiri saat dilanda gelombang amarah dapat berdampak baik. Anda dapat mengatakan kepada diri sendiri kalimat-kalimat seperti “tenang, ini hanya sementara”, atau “sabar, saya bisa melewatinya”. Ulangi kalimat itu.

Cara ini disebut juga dengan hipnosis diri, yaitu sebuah usaha untuk menyisipkan pemikiran positif ke alam bawah sadar. Harapannya, tubuh akan menerima dan memberikan respons sesuai sugesti positif yang diberikan.

Cara ini juga merupakan awal yang sehat untuk mengekspresikan perasaan Anda. Yakni, meski marah, Anda bisa melihat sisi positif dari kejadian yang dialami. Anda dapat mencatat sugesti-sugesti positif untuk mempermudah mengingatnya saat rasa marah melanda.

Artikel lainnya: 4 Alasan Mengapa Marah juga Kadang Perlu

  • Ekspresikan Perasaan

Mengendalikan rasa marah bukan berarti memendam sepenuhnya. Mengekpresikan perasaan merupakan cara untuk menjaga kesehatan mental, asal dilakukan dengan baik.

Jadi, tak ada salahnya mengungkapkan rasa kesal dan marah ke orang terdekat yang telah mengenal Anda dengan baik. Anda bisa menyampaikan rasa tidak suka kepada orang yang memicu rasa amarah Anda.

Dengan catatan, gunakan bahasa yang baik. Fokuslah pada masalah dan mencari jalan keluar sehingga tidak melebar ke hal yang lainnya.

Penelitian terkait amarah pernah dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology.  Menurut studi, kelompok yang diberikan kesempatan memukul samsak tinju untuk melampiaskan kemarahan, justru menunjukkan agresi lebih tinggi setelah situasi berakhir, dibandingkan kelompok yang tidak.

Hal ini menunjukkan, melampiaskan amarah dengan kekerasan, baik ke benda mati ataupun benda hidup, tidak meredakan amarah. Itu sebabnya, ingatlah bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar atas masalah apa pun.

Lampiaskan amarah dengan benar akan bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus orang lain. Karena itu, terapkan beberapa cara di atas agar semuanya tetap “dalam kendali”. Anda ingin tips lain mengendalikan emosi? Tanya saja dokter via Live Chat!

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar