Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Hakim Jamaluddin Dibunuh Akibat Cemburu, Apakah Ini Masalah Mental?

Hakim Jamaluddin Dibunuh Akibat Cemburu, Apakah Ini Masalah Mental?

Kematian Hakim PN Medan, Jamaluddin, berhasil diungkap. Ternyatanya, dalangnya adalah sang istri, katanya akibat cemburu. Apakah ini menandakan masalah mental?

Akhirnya, setelah rangkaian penyelidikan, pembunuhan Jamaluddin, hakim Pengadilan Negeri (Medan) pada November silam terkuak. Pelakunya adalah istrinya sendiri, diduga akibat cemburu dan sakit hati. Apakah aksinya itu tanda dari adanya masalah mental?

Kematian Jamaluddin sempat bikin geger karena kondisinya yang cukup mengenaskan. Ia ditemukan tewas di mobil miliknya, di area kebun sawit Desa Suka Rame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, pada 29 November 2019  silam.

Setelah melewati proses penyidikan dan penyelidikan oleh polisi, akhirnya mereka mengungkap fakta mengejutkan. Istrinya merencanakan pembunuhan tersebut dengan bantuan dua eksekutor, yaitu Jefri Pratama (42) dan Reza Pahlevi (29).

Temuan tersebut tentu banyak membuat orang tak habis pikir. Mengingat Zuraida sempat terlihat menangisi kepergian suaminya dan sangat terpukul ketika jenazah Jamaluddin ditemukan.

Polisi menilai ada rasa cemburu berlebih dan sakit hati karena ia ingin diceraikan oleh mendiang suaminya. Keterangan ini didapat dari pengacara Jamaluddin, Maisarah.

Bahkan, Jamaluddin diketahui sempat menyampaikan keinginannya untuk cerai tersebut tiga hari sebelum ia ditemukan tak bernyawa.

Artikel Lainnya: Ciri-ciri Psikopat yang Bisa Anda Kenali

1 dari 3 halaman

Cemburu Berlebih Sampai Tega Membunuh, Apakah Didasari Masalah Mental?

Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin mengatakan, pembunuhan ini termasuk berencana, bukan kejahatan biasa. Mengenai motif pembunuhan, lanjut Martuani, adalah masalah rumah tangga.

Ia menyebut, antara korban dan istrinya pernah terjadi percekcokan yang tak bisa didamaikan, yang akhirnya membuat istri korban berinisiatif membunuh suaminya.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., psikolog dari KlikDokter, sulit sekali untuk memastikan bahwa kecemburuan menjadi masalah mental yang membuat seseorang sampai hati untuk menghabisi nyawa seseorang.

Ia juga mengatakan di luar dari rasa cemburu atau sakit hati, kemungkinan besar ada masalah lain yang terjadi dalam diri Zuraida. Berbagai aspek harus dicermati. Pasalnya, pemicu seseorang untuk membunuh itu banyak sekali dan harus dikorek satu per satu.

"Faktor lainnya, misalnya si istri punya masalah soal kontrol diri. Jadi, cemburu tidak bisa berdiri sendiri sebagai penyebab tunggal terkait kasus pembunuhan ini,” jelas Ikhsan.

Pasalnya, banyak juga orang yang merasa cemburu kepada pasangan, tetapi itu tak sampai membuat ia jadi mengekang, bahkan sampai tega membunuh.

"Faktor yang memengaruhi adalah kontrol diri, pemahaman, dan emosi juga. Soal kasus pembunuhan Jamaluddin ini, tidak jelas apa yang menjadi latar belakangnya,” sambungnya.

Kemungkinan bahwa sang istri punya masalah dalam mengendalikan diri itu ada. Misalnya, bila terjadi sesuatu yang tak sesuai dengan kehendaknya, ia akan langsung bereaksi, hingga akhirnya itu membuatnya menyusun rencana untuk membunuh suaminya.

"Memang, cemburu bisa saja membuat seseorang sampai tega membunuh. Namun, perlu diingat pasti ada faktor lain yang melatarbelakanginya, dan ini adalah sesuatu yang kompleks. Melibatkan ahli kejiwaan bisa mengungkap penyebabnya ini,” pungkas Ikhsan.

Faktor lainnya yang juga perlu diperhatikan dalam diri seseorang sampai akhirnya tega membunuh termasuk rasa tidak aman (insecure), merasa tidak dicintai, dikhianati, benci, atau  dendam.

Artikel lainnya: Tidak Bisa Mengontrol Emosi, Apakah Ada Gangguan Kepribadian?

Dampak Buruk Cemburu yang Berlebihan

Cemburu adalah salah satu emosi yang paling kuat, paling menyakitkan, serta tak jarang sulit untuk dikendalikan.

Menurut penelitian, rasa cemburu biasanya sering ditemui pada orang-orang yang: tingkat kepercayaan diri yang rendah, neurotisme, merasa insecure atau posesif, bergantung pada pasangan, merasa tidak cukup pantas untuk pasangan, cemas bahwa pasangan tak mencintai atau merasa akan meninggalkannya.

“Rasa camburu adalah campuran emosi yang kompleks antara rasa takut, stres, dan amarah,” kata Dr. Jane Flemming, seperti dikutip dari The Independent.

“Tiga emosi tersebut memicu respons fight-or-flight, umumnya dengan cara yang intens. Orang yang cemburu bisa mengalami tekanan darah tinggi, naiknya detak jantung dan kadar adrenalin, melemahnya daya tahan tubuh, kecemasan, dan mungkin insomnia,” lanjutnya.

Rasa cemburu juga dikatakan dapat membuat seseorang melakukan tindakan kriminal. Cemburu buta dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang akan disesalinya, karena diselimuti kecemburuan dapat membutakan nalar dan pikiran.

Tak hanya itu, hubungan dengan pasangan atau teman juga bisa hancur karena rasa cemas berlebihan, posesif, atau emosi negatif lainnya. Karier pun bisa terancam, karena rasa cemburu bisa membuat seseorang melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan orang lain yang dianggap saingannya.

Lama-lama, segala tindakan atau perlakuan yang berdasar pada rasa cemburu akan membuat orang tersebut dijauhi oleh rekan kerja, teman-temannya, atau orang lain di sekitarnya, hingga tinggal dirinya saja yang tersisa. Karena, pada dasarnya tak ada yang mau dekat-dekat dengan orang yang cemburuan, kan?

Kalau sudah begitu, kesendirian ini bisa merusak hidup, atau memicu gangguan mental seperti depresi, yang bisa tidak ditangani akan membuat penderitanya melakukan percobaan bunuh diri.

2 dari 3 halaman

Cara Mengatasi Cemburu

Dilansir dari laman PsychCentral, perilaku cemburu bisa sulit dikontrol, karena masalah yang mendasarinya tak bisa hilang dengan sendirinya.

Bila kecemburuan adalah pola perilaku berulang, misalnya dalam satu hubungan dengan hubungan lainnya, mungkin diperlukan intervensi terapis kejiwaan untuk mengendalikan perasaan dan mengatasi penyebab yang mendorongnya.

Dalam sebuah hubungan, membangun kepercayaan adalah kunci penting dalam mengusir rasa cemburu. Harus ada rasa saling percaya. Ini bisa sangat sulit bila salah satu pasangan insecure dan selalu penuh kecurigaan.

Jadi, kurang bijak untuk langsung menyimpulkan bahwa penyebab Zuraida membunuh suaminya sendiri adalah karena rasa cemburu berlebih, karena banyak faktor yang mesti diperhatikan. Bila Anda bermasalah dengan kecemburuan baik dalam pertemanan, pekerjaan, atau dengan pasangan, cobalah untuk mengatasinya. Jangan ragu untuk berbicara dengan psikolog agar bisa cepat-cepat terbebas dari belenggu perasaan toksik tersebut.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar