Sukses

Kelebihan Berat Badan pada Praremaja, Apa Solusinya?

Kelebihan berat badan dan obesitas mengancam para anak praremaja, ini adalah masalah global yang mengkhawatirkan. Apa solusi terbaiknya?

Pada usia jelang remaja atau praremaja, bisa terjadi kelebihan berat badan yang bila dibiarkan berakhir dengan obesitas. Ternyata, ini merupakan masalah global yang semakin mengkhawatirkan. Tentunya, masalah gangguan kesehatan ini harus segera diatasi.

1 dari 4 halaman

Gejolak Usia Praremaja

Rentang usia praremaja adalah 9-12 tahun. Umumnya, usia tersebut membuat seorang anak mulai menjauh dari ibu maupun ayahnya. Bahkan secara perlahan, anak usia tersebut cenderung tak mau berurusan dalam banyak hal dengan orang tuanya.

Secara fisik, kognitif, emosional, bahkan sosial, usia praremaja mengalami perubahan. Fase tersebut wajar, yaitu ketika anak mengalami perkembangan kemandirian dan ingin melihat seberapa jauh ia dapat mendorong batasan yang ditetapkan oleh orang tuanya.

Sayangnya, pada fase tersebut, anak kerap tidak menyadari seberapa besar ia justru butuh orang tuanya demi menyiapkan hubungan yang cukup stabil saat remaja kelak.

Melewati fase tersebut kadang tak mudah, karena Anda sebagai orang tua juga ingin atau butuh menghormati anak dengan memberikan otonomi yang lebih besar. Hal ini dilakukan dengan harapan terciptanya hubungan harmonis dengan anak yang mulai beranjak remaja.

Artikel Lainnya: 10 Cara Mudah Hindari Obesitas

2 dari 4 halaman

Perhatikan Berat Badan Anak

Dari berbagai macam masalah yang mulai timbul dalam kehidupan praremaja, kenaikan berat badan, bahkan obesitas, adalah salah satu di antaranya.

Sering kali, pertumbuhan pesat terjadi pada masa praremaja. Setiap bagian tubuh anak, akan mengalami perubahan dalam ukuran dan proporsi. Dengan adanya peningkatan nafsu dan porsi makan yang bertambah banyak, tak jarang berat badannya meningkat sebelum tinggi badannya bertambah.

Hal Ini mesti diperhatikan. Umumnya, penyebab kenaikan berat badan karena  waktu bermain gawai maupun penggunaan elektronik lain yang disertai dengan camilan, jarang atau kurang berolahraga, dan juga perubahan emosi.

Apalagi kondisi tersebut muncul tanpa disertai pengawasan orang tua. Tentunya,  itu semua bisa memicu peningkatan berat badan berlebih.

Cara orang tua menghadapi keadaan tersebut akan menjadi fondasi untuk anak bisa bisa menjalani pola hidup sehat. Namun, bila salah mengatasinya, bisa terjadi sebaliknya. Anak malah dapat mengalami gangguan makan.

Untuk tahu naiknya berat badan anak perlu dikhawatirkan atau tidak, pantau berat dan tinggi badan anak sesuai kurva pertumbuhan. Dengan bantuan tenaga medis, orang tua bisa segera tahu jika anak mengalami perubahan yang butuh perhatian khusus.

3 dari 4 halaman

Mencegah Kelebihan Berat Badan pada Usia Praremaja

Ketimbang fokus terhadap porsi makanan anak atau mengomentari penampilan fisiknya. Ubahlah hal-hal yang berkontribusi terhadap gaya hidup anak yang minim gerak dan pola makannya yang tidak sehat. Ikuti strategi ini.

  • Jadwalkan konsultasi tahunan dengan dokter anak. Ini dapat membantu mendiskusikan dan meninjau kembali kurva pertumbuhan anak.
  • Jika memungkinkan, bicara dengan dokter anak sebelum bertemu. Ini untuk menentukan topik yang perlu dibahas beserta langkah-langkah untuk mengatasi kondisi anak.

Artikel lainnya: Obesitas Bawaan Genetik, Mitos atau Fakta?

  • Ciptakan lingkungan yang positif di rumah. Sadar atau tidak, anak akan meniru apa yang akan dilakukan orang tuanya. Jadi, jadilah contoh untuk anak dengan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
  • Lakukan perubahan positif terhadap semua anggota keluarga, tak hanya spesifik untuk satu anak saja. Dengan begitu, seluruh anggota keluarga akan merasa dampak positif dari lingkungan yang lebih sehat.
  • Terapkan kedisiplinan dalam merancang pola makan untuk seluruh anggota keluarga. Ini karena yang menjadi tugas orang tua adalah: apa yang akan dikonsumsi, serta kapan dan di mana diberikan. Peran anak adalah menentukan apakah ia mau dan seberapa banyak mengonsumsinya.
  • Selalu sedia makanan dan minuman yang sehat dan enak. Misalnya, aneka buah dan sayur, biskut dan sereal gandum, dan masih banyak lagi.
  • Beri batasan seberapa banyak anak boleh ngemil dan waktu-waktu yang dibolehkan. Misalnya tidak boleh ngemil mendekati waktu makan besar, tidak makan di depan TV atau gawai, tidak boleh makan di dalam kamar tidur, dan lain-lain sesuai kesepakatan.
  • Jika mungkin, makan bersama-sama di ruang makan keluarga. Menurut penelitian, ada hubungan langsung antara makan bersama sebagai sebuah keluarga dengan penerapan kebiasaan gaya hidup yang sehat pada anak.

  • Ciptakan citra tubuh yang positif. Bagaimana perasaan Anda tentang tubuh sendiri akan memengaruhi bagaimana anak memandang tubuhnya. Hindari membicarakan hal-hal negatif seputar tubuh di depan anak, apalagi jika sampai melakukan body-shaming (mengomentari bentuk fisik seseorang).

Tak hanya remaja, usia praremaja juga butuh perhatian, salah satunya adalah masalah kelebihan berat badan. Sebagai orang tua, atur perubahan gaya hidup yang berfokus pada seluruh anggota keluarga di rumah. Bila anak berada dalam lingkungan yang sehat, itu akan lebih memotivasinya dan berdampak baik tak hanya pada penurunan berat badan, tetapi juga kesehatannya kelak.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar