Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mengenal Terapi Stem Cell dan Potensinya untuk Menyembuhkan Penyakit Berat

Mengenal Terapi Stem Cell dan Potensinya untuk Menyembuhkan Penyakit Berat

Terapi stem cell atau sel punca adalah salah satu pengobatan menjanjikan, yang dapat membantu memulihkan sel-sel tubuh yang rusak akibat penyakit berat.

Terapi stem cell menjadi sebuah harapan baru di dunia kedokteran dalam menyembuhkan berbagai penyakit berat yang sulit disembuhkan. Mari membahas lebih jauh tentang terapi ini dan apa yang membuatnya menjadi pengobatan yang sangat menjanjikan.

Stem cell atau sel punca adalah sel induk yang mempunyai kemampuan untuk memperbanyak diri dan berubah menjadi berbagai jenis sel. Sel ini merupakan satu-satunya sel dalam darah yang mampu meregenerasi tipe sel baru. Hal ini menjadi suatu terobosan yang berpotensi dalam menyembuhkan berbagai penyakit berat seperti penyakit kronis, penyakit degeneratif, dan penyakit autoimun.

1 dari 4 halaman

Dari Mana Asal Sel Punca?

Berdasarkan sumber asal sel, stem cell dikategorikan dalam beberapa jenis:

  • Stem cell embrionik

Sel punca ini diambil dari embrio yang berusia 3-5 hari. Sel-sel ini bersifat pluripoten, yang berarti mampu memperbanyak diri atau berkembang menjadi jenis sel apa pun dalam tubuh. Hal ini memungkinkan stem cell embrionik berguna untuk memperbaiki jaringan atau organ tubuh yang rusak.

Embrio adalah suatu sel yang terbentuk saat sel telur wanita dibuahi oleh sperma pria. Karena sel ini diekstrak langsung dari embrio manusia yang dikembangkan di bawah mikroskop, hal ini masih dianggap tidak etis. Karenanya, hanya boleh dilakukan bila embrio tersebut merupakan donasi dari pendonor.

Artikel lainnya: 7 Jenis Terapi yang Penting untuk Kesehatan Mental

  • Stem cell dewasa

Jenis stem cell ini ditemukan dalam jaringan tubuh orang dewasa, seperti sumsum tulang. Dibandingkan dengan stem cell embrionik, stem cell dewasa memiliki kemampuan yang lebih terbatas dalam hal perkembangannya menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh.

Para peneliti menemukan bahwa stem cell dewasa hanya bisa dikembangkan menjadi jenis sel yang sama sesuai asalnya. Sebagai contoh, sel punca yang diambil dari sumsum tulang hanya bisa memproduksi sel darah saja. Namun, beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa sel punca dari sumsum tulang juga dapat membantu membentuk sel tulang atau sel otot jantung. Meski demikian, hal tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut.

  • Sel dewasa biasa yang dimodifikasi menjadi stem cell embrionik (induced pluripotent stem cell atau IPS)

Para peneliti telah berhasil mengubah sel dewasa biasa menjadi sebuah stem cell melalui teknologi genetic reprogramming. Sel dewasa tersebut diprogram ulang agar memiliki sifat yang sama seperti sel punca embrionik.

Teknik baru tersebut memungkinkan penggunaan sel punca dari tubuh sendiri dibandingkan dari embrio lain, sehingga mencegah terjadinya reaksi penolakan imun. Namun, efek samping dari metode ini masih belum jelas.

  • Stem cell perinatal

Para peneliti menemukan bahwa sel punca yang terkandung dalam cairan ketuban dan tali pusat juga memiliki kemampuan untuk berkembang jadi berbagai tipe sel.

2 dari 4 halaman

Kegunaan Terapi Stem Cell dalam Dunia Kedokteran

Beberapa penyakit yang dapat diatasi dengan terapi sel punca meliputi: kelumpuhan saraf tulang belakang, diabetes, Parkinson, amyotrophic lateral sclerosis (atau juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig’s, Alzheimer, gagal jantung, stroke, kebutaan, patah tulang yang tidak tersambung, luka bakar luas, kanker, pengapuran sendi tulang, dan penyakit autoimun.

Penelitian terapi stem cell masih terus dikembangkan dalam berbagai penyakit kronis dan degeneratif yang tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan biasa.

Bagaimana Cara Transplantasi Stem Cell?

Cara transplantasi stem cell yang dapat dilakukan antara lain:

  • Autologous: Sumber stem cell berasal dari diri sendiri
  • Alogenik: Sumber stem cell berasal dari orang lain

Artikel lainnya: Manfaat Terapi Kesehatan Mental yang Dilakukan secara Berkelompok

Stem cell yang berasal dari darah tali pusat dianggap yang paling aman. Sel tersebut diambil ketika bayi baru saja dilahirkan. Pengambilannya dibantu oleh dokter kandungan, selanjutnya proses pengolahannya dilakukan oleh bank dari tali pusat.

Sebelum ditransfusikan untuk perbaikan jaringan yang sakit atau terluka, stem cell akan dipanen terlebih dulu di laboratorium. Kemudian sesegera mungkin ditanamkan ke jaringan yang rusak agar stem cell tidak mati. Sebagai contoh, pada pasien dengan penyakit jantung, sel punca akan ditanamkan ke otot jantung untuk memperbaiki otot yang rusak.

3 dari 4 halaman

Perkembangan Terapi Stem cell di Indonesia

Saat ini, rumah sakit yang tercatat memiliki layanan terapi stem cell adalah Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya.

Kasus yang paling banyak ditangani adalah diabetes melitus, nyeri sendi lutut, stroke, jantung, dan sisanya adalah penyakit hati, saraf, serta penyakit darah berbahaya lainnya.

Selain dua rumah sakit di atas, juga tercatat ada dua laboratorium yang sudah mengantongi izin dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengembangkan terapi sel punca darah tali pusat, yaitu ReGeniC milik PT Bifarma Adiluhung (Kalbe Group), Jakarta, dan Laboratorium Dermama milik PT Dermama Bioteknologi, Solo.

Untuk bank penyimpanan sel punca darah tali pusat sendiri didukung ProSTEM atau Prodia StemCell Indonesia, Jakarta.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) No. 32 Tahun 2018, untuk stem cell yang berbahan baku dari embrio, hewan, dan tumbuhan tidak diperbolehkan. Alasannya karena sel punca dari sumber tersebut berisiko menjadi kanker jenis teratoma sebesar 20 persen, potensi penolakan tubuh juga besar, serta dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai etik.

Oleh karena itu, sel punca yang kini digunakan berasal dari stem cell dewasa atau jaringan tubuh dari pasien itu sendiri, seperti sumsum tulang belakang.

Adakah Efek Samping dari Terapi Stem Cell?

Stem cell embrionik dapat memicu respons imun yang menyerang tubuh sendiri, akibat reaksi penolakan terhadap sel tersebut yang dianggap sebagai benda asing oleh tubuh.

Maka itu, stem cell yang berasal dari diri sendiri lebih aman dalam meminimalkan reaksi penolakan tersebut. Terapi stem cell juga bisa gagal berfungsi secara normal tanpa sebab yang jelas. Peneliti masih terus mengembangkan penelitian untuk mencegah komplikasi pada terapi stem cell.

Terus berkembangnya ilmu kedokteran dan teknologi dalam aplikasi terapi stem cell menjadi sebuah harapan untuk penyembuhan berbagai penyakit degeneratif, penyakit kronis, dan penyakit autoimun yang sulit disembuhkan. Diharapkan, satu hingga dua dekade ke depan, terapi sel punca dapat disempurnakan dan menjadi solusi bagi pengobatan berbagai penyakit berbahaya.

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar