Sukses

Bisakah Polusi Udara Meningkatkan Risiko Glaukoma?

Apakah Anda tinggal di lingkungan yang tinggi dengan polusi udara? Berhati-hatilah! Ternyata polusi udara mungkin dapat meningkatkan risiko glaukoma.

Orang-orang yang tinggal di kawasan industri tentu tidak asing lagi dengan keberadaan polusi udara. Ya, pencemaran udara ini memang bisa menimbulkan beragam gangguan. Salah satu yang paling umum adalah gangguan pernapasan dan paru-paru. Namun, tak hanya itu, menurut sebuah penelitian, polusi udara juga dapat meningkatkan risiko glaukoma. Bagaimana bisa?

1 dari 3 halaman

Polusi Udara dan Risiko Glaukoma

Glaukoma sendiri adalah gangguan pada mata ketika tekanan dalam bola mata meningkat di atas normal. Peningkatan tekanan ini menyebabkan penekanan dan kerusakan pada saraf optik mata yang terletak di belakang mata. Bagian ini membawa sinyal ke otak.

Gejala yang umum dialami penderita, antara lain penglihatan kabur, mendadak terasa nyeri hebat pada mata dan kepala, mual dan muntah, melihat pelangi di sekitar objek, dan tekanan bola mata meninggi. Penderita juga dapat merasakan mata merah serta kornea suram atau keruh.

Glaukoma dalam tahap lanjut dan tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada kebutaan. Kebutaan ini disebabkan oleh penekanan saraf penglihatan karena tekanan bola mata yang terlalu tinggi. Yang lebih berbahaya, kebutaan yang diakibatkan oleh kerusakan saraf penglihatan tak dapat diperbaiki lagi, meski dengan cara operasi sekalipun.

Artikel lainnya: Sering Mengobati Mata Sendiri, Hati-hati Glaukoma

Pada umumnya, penyakit glaukoma ini diturunkan. Akan tetapi, faktor risiko lainnya juga bisa berkontribusi seseorang terkena gangguan penglihatan ini, seperti meningkatnya usia dan berasal dari Asia, Afrika, atau Karibia.

Akan tetapi, bukan hanya faktor-faktor tersebut. Polusi udara rupanya dapat meningkatkan risiko glaukoma. Hal tersebut terungkap dalam sebuah penelitian di Inggris yang meneliti hubungan antara paparan polusi udara dengan glaukoma.

Penelitian yang dilakukan oleh ahli dari Moorfields Eye Hospital, University College London, Cardiff University, dan University of Bristol itu merekrut lebih dari 100.000 orang. Para responden tersebut diminta untuk menyelesaikan kuesioner dan menjalani pemeriksaan mata untuk mengecek apakah ada penyakit glaukoma.

Para peneliti menghubungkan data ini dengan kondisi polusi udara di rumah mereka pada tahun yang sama. Selain itu, data lainnya seperti usia, etnis, nilai deprivasi, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, dan kualitas penglihatan juga turut dicatat.

Artikel lainnya: Awas, Polusi Udara Jakarta Tinggi Bikin Orang Lebih Mudah Stres!

2 dari 3 halaman

Terdapat Peningkatan Risiko

Dari hasil penelitian, didapatkan sekitar 2% subjek didiagnosis mengidap glaukoma dan peneliti menemukan peningkatan risiko sebesar 6% di area yang lebih terpolusi. Peneliti juga menemukan polusi yang lebih tinggi berhubungan dengan ketebalan serat saraf pada daerah belakang mata yang merupakan tanda lainnya dari glaukoma.

Sementara itu,  hubungan polusi udara dengan tekanan pada bola mata belum dapat ditemukan hubungan yang jelas.

Peneliti menyimpulkan bahwa semakin besar pajanan polusi udara yang diterima berhubungan dengan glaukoma yang dilaporkan oleh responden penelitian. Namun begitu, hal tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut dalam area yang lebih besar, dengan mempertimbangkan faktor lainnya.

Meski peneliti belum bisa menjelaskan hubungan yang jelas antara polusi udara dan peningkatan risiko glaukoma, tak ada salahnya Anda mencegah kondisi tersebut. Salah satunya adalah melalui deteksi dini agar dapat segera diobati.

Anda disarankan untuk memeriksa mata secara berkala setiap empat tahun sekali setelah berusia 40 tahun. Adapun bagi lansia di atas 65 tahun, Anda disarankan mengecek mata setiap dua tahun sekali.

Penelitian lebih lanjut memang masih dibutuhkan untuk mengetahui hubungan antara polusi udara dengan peningkatan risiko glaukoma. Walaupun demikian, tidak ada salahnya Anda untuk selalu menjaga kesehatan mata. Pasalnya, semakin cepat glaukoma ditangani, akan semakin baik hasilnya. Hindari juga lokasi-lokasi di mana polusi udara mencapai puncaknya.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar