Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mengelola Emosi dengan Anger Management, Ini yang Perlu Anda Tahu

Mengelola Emosi dengan Anger Management, Ini yang Perlu Anda Tahu

Jangan sampai frustasi dan ledakan emosi mengambil alih diri Anda. Sebelum terlambat, cobalah mengelola emosi bisa dengan anger management. Tertarik?

Apakah Anda termasuk orang yang gampang marah atau punya emosi yang meledak-ledak? Sebelum amarah tersebut mengendalikan diri Anda, cobalah anger management untuk mengelola ledakan emosi yang kerap dirasakan, sebelum itu menimbulkan banyak masalah dalam hidup Anda.

Rasa marah adalah emosi yang normal dirasakan banyak orang. Umumnya, emosi ini muncul sebagai respons jika merasa terancam. Selain itu, tanpa disadari, rasa sedih, kesepian, atau takut juga dapat memicu amarah.

Meski marah adalah emosi normal, tetapi jika ledakan amarah tidak terkontrol dengan baik, maka buncahan emosi tersebut malah dapat merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Supaya mampu mengendalikan amarah dengan baik, sebaiknya kenali tanda-tanda marah terlebih dulu. Dari segi fisik, seseorang bisa merasa berdebar-debar, bernapas cepat, tubuh terasa tegang dan kaku, merasa panas dan berkeringat, dan sebagainya. Dari segi psikis, seseorang yang merasa marah dapat merasa tegang, tidak bisa relaks, mudah kesal, atau merasa dipermalukan.

Bila muncul tanda-tanda tersebut, waspadalah dan siapkan diri untuk mengelola gejolak amarah tersebut.

Artikel lainnya: Tidak Bisa Mengontrol Emosi, Apakah Ada Gangguan Kepribadian?

1 dari 2 halaman

Mengelola Emosi dengan Benar

Agar tidak langsung meledak, usahakan untuk “mundur” sementara dari sumber amarah. Misalnya, cobalah untuk berpikir sebelum merespons (misalnya berhitung dari 1 sampai 10 sebelum bereaksi terhadap sesuatu) saat sedang berdebat, atau berjalan sejenak untuk mendinginkan pikiran.

Jika belum berhasil, mungkin Anda perlu meluapkan dulu amarah. Misalnya dengan merobek kertas, meninju bantal, berolahraga, atau pengalihan lain seperti menuliskan perasaan, menggambar, melihat memes lucu, dan sebagainya. Dengan demikian, Anda dapat membatasi respons yang meledak-ledak, sementara itu membantu Anda untuk mengenali apa yang memicu rasa marah serta apa yang tidak Anda suka dari pemicu tersebut.

Sebagai contoh, Anda kesal dengan suami yang terlambat pulang padahal sudah janji akan makan malam bersama. Bisa jadi Anda merasa kurang dihargai, padahal sudah mengerahkan upaya untuk menyiapkan menu makanan favorit suami. Dengan “mundur” sejenak, Anda terbantu untuk mengenali pokok masalahnya.

Setelahnya, Anda dapat menenangkan diri terlebih dulu untuk meredam emosi. Bisa dengan cara menarik napas dan mengembuskannya perlahan, membayangkan hal-hal yang menyenangkan, berendam air hangat, dan apa pun yang dapat meredakan emosi yang dirasakan. Setelah merasa lebih tenang, Anda akan lebih siap untuk menghadapi sumber amarah.

Bila sumber kemarahan diakibatkan oleh ulah orang lain, salah satu cara menghadapinya adalah dengan berkomunikasi dengan kepala dingin. Usahakan untuk menyampaikan apa penyebab Anda marah secara jelas tanpa menyalahkan pihak lain. Misalnya dengan mengatakan, “Saya sudah berusaha keras untuk memasak dan mempersiapkan segalanya, dan itu membuat merasa tidak dihargai.”

Selain itu, penting juga untuk mendengarkan penjelasan lawan bicara. Selama berbicara, sangat mungkin suasana akan memanas, sehingga amarah kembali muncul. Bila ini terjadi, gunakan teknik berhitung 10 detik sebelum merespons. Ini dapat membantu menghindari pertengkaran.

Artikel lainnya: 5 Cara Mengendalikan Emosi di Kantor

Jaga intonasi tetap netral. Ingat, tujuan utama Anda adalah menyampaikan apa yang membuat Anda marah, serta memahami tanggapan dari lawan bicara Anda.

Apabila sumber kemarahannya bukan orang lain, mungkin Anda perlu mencari alternatif jalan keluar. Misalnya Anda marah karena terjebak macet parah padahal ada jadwal meeting, siasati dengan berangkat lebih awal, menggunakan kendaraan umum, atau mendengarkan musik atau podcast selama perjalanan.

Umumnya, teknik di atas cukup efektif untuk menyelesaikan masalah yang memicu amarah. Namun, mungkin perlu waktu untuk membiasakan diri dengan teknik tersebut.

Salah satu hal yang penting diperhatikan bukanlah bagaimana solusi dari masalah, tetapi bagaimana Anda dapat menghadapi masalah yang anda dengan baik, tanpa hilang kendali akibat ledakan amarah.

Jika Anda tidak mengatasi rasa marah yang menyelimuti diri, kondisi tersebut dapat berujung pada kecemasan dan depresi, serta merusak hubungan dengan orang-orang sekitar dan meningkatkan risiko penyakit.

Kesulitan dalam mengendalikan amarah dalam jangka panjang telah dihubungkan dengan masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi atau hipertensi, gangguan jantung, sakit kepala, gangguan kulit, dan masalah pencernaan. Tak hanya itu, kemarahan yang tak terkendali juga berhubungan dengan tindak kejahatan, pelecehan, dan perilaku kekerasan lainnya.

Tak hanya itu, terkadang pola kemarahan yang tidak benar juga dapat menjadi tanda gangguan mood, gangguan kepribadian, penyalahgunaan zat, atau masalah kesehatan mental lainnya.

Oleh karena itu, cobalah untuk sebaik mungkin mengelola emosi dan ledakan amarah dengan tips anger management di atas, apalagi bila perlahan itu memengaruhi hidup Anda. Jangan ragu untuk minta bantuan profesional seperti ahli kejiwaan untuk mengambil alih kendali diri, sehingga dapat mencegah kerusakan yang lebih jauh, baik secara fisik, mental, dan sosial.

(RN/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar