Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Benarkah Bekerja dari Rumah Lebih Baik dibanding di Kantor?

Benarkah Bekerja dari Rumah Lebih Baik dibanding di Kantor?

Karena suasana yang cenderung kaku, banyak orang yang senang kerja dari rumah daripada di kantor karena lebih fleksibel. Benarkah? Mari bahas untung ruginya.

Ketimbang kerja di kantor yang suasananya cenderung terlampau formal atau kaku, banyak yang memutuskan untuk kerja freelance, merintis usaha sendiri, atau memilih pekerjaan dengan konsep kerja dari rumah (work from home) atau secara remote (jarak jauh). Bila Anda juga tertarik, kenali dulu untung ruginya.

Sekilas, bekerja dari rumah terdengar menggiurkan, ya? Tak perlu bangun jam 4 pagi untuk siap-siap ke kantor, berdesakan di kereta, harus terjebak dengan rekan kerja atau atasan yang toksik, harus patuh dengan berbagai aturan, dan sebagainya. apalagi dengan adanya konsep New Normal di tengah pandemi global ini.

Ya, menurut salah satu penyedia layanan Virtual Office dan Ruang kantor disewakan di Indonesia mengatakan, fleksibilitas dan kebebasan dalam manajemen diri adalah dua dari daya tarik terbesar konsep bekerja dari rumah. Tak heran, perusahaan yang menerapkan konsep work from home ini perlahan makin banyak.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, sebanyak 21 persen warganya sudah menerapkan tren kerja dari rumah. Berikut ini adalah beberapa alasannya:

Terhindar dari Lingkungan Kerja yang Toksik

Salah satu alasan kerja di rumah jauh lebih disukai adalah karena bisa terhindar dari “drama” perkantoran. Tak dimungkiri, banyak hal yang membuat suasana kantor menjadi toksik. Mulai dari jarak rumah ke kantor yang sangat jauh sehingga sampai kantor sudah dalam kondisi stres. Atau, punya rekan kerja yang manipulatif, atasan yang ternyata tukang bully sampai punya perilaku layaknya diktator, terus-terusan disuruh lembur, dan masih banyak lagi.

Artikel lainnya: Dampak Lingkungan Kerja yang Beracun bagi Kesehatan Mental

Itu semua bisa membuat seseorang menjadi stres, membuat produktivitas menurun, bahkan bisa berujung pada depresi.

Dikatakan oleh dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, di lingkungan kerja yang toksik, umumnya karyawannya merasa kurang sejahtera.

“Mereka merasa kelelahan, stres, dan jenuh dengan beban tugas yang diberikan. Saking banyaknya beban tugas, karyawan sering harus bekerja lembur. Karyawan juga tampak kurang bahagia, kurang tampak komunikasi, interaksi,  dan keeratan antar karyawan,” kata dr. Karin sedikit menggambarkan.

Ia melanjutkan, lingkungan kerja yang terlalu sarat dengan gosip juga dapat “meracuni” kesehatan mental karyawan. Selain itu, atasan yang memimpin dengan kurang bijaksana juga dapat membuat lingkungan kerja menjadi tidak sehat, seperti memaksakan kehendak, bersifat otoriter, dan kurang mengayomi anak buah.

“Akibat semua hal yang disebutkan di atas, pada umumnya turn over karyawan akan relatif tinggi. Karena merasa kurang nyaman di lingkungan kerja yang demikian, karyawan akan sulit merasa betah, hingga akhirnya memutuskan untuk keluar,” jelas dr. Karin.

Lebih Banyak Waktu untuk Diri Sendiri

Dengan tak harus bekerja di kantor, seseorang jadi lebih punya banyak waktu untuk mengurus diri. Misalnya olahraga atau me-time lainnya, atau tak melewatkan waktu bersama orang-orang tercinta.

Bila bekerja di rumah (atau di coffee shop favorit), Anda akan lebih leluasa dalam mengatur waktu bekerja, istirahat, serta bekerja dalam situasi yang nyaman tanpa terbentur berbagai aturan mengikat seperti di kantor. Hasil pekerjaan pun biasanya akan lebih maksimal.

Bisa Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Mental

Karena Anda yang memegang kendali atas waktu, maka Anda bisa lebih banyak melakukan kegiatan positif lainnya selain bekerja. Pada beberapa orang, kebebasan yang seperti ini dapat membantu meningkatkan kesehatan mental.

Meski begitu, ada pula yang merasa sebaliknya. Menurut sebuah laporan dari Buffer, banyak pekerja remote melakukan survei tentang keseimbangan hidup dan kerja, fleksibilitas jadwal, dan performa kerja pada kehidupan mereka. Meski demikian, perjuangan terbesarnya adalah terkait dengan kesehatan. Spesifiknya, 22 persen tidak bisa berhenti bekerja, 19 persen merasa kesepian, dan sebanyak 8 persen tidak merasa termotivasi.

Artikel lainnya: Loyo di Tempat Kerja? Bisa Jadi Akibat AC Terlalu Dingin!

Mengurangi Pengeluaran

Ada banyak pengeluaran yang bisa Anda hemat, apalagi pengeluaran yang umumnya tidak ditanggung kebanyakan perusahaan seperti transportasi, makan siang, bahan bakar kendaraan pribadi, uang parkir gedung, dan masih banyak lagi. Dengan mengurangi pengeluaran tersebut, Anda jadi mampu berhemat.

Lebih Dekat dengan Keluarga

Dengan tersitanya waktu bersama keluarga karena harus berangkat pagi pulang larut akibat kerja kantoran, kerja di rumah bisa menjadi “kesempatan kedua” untuk mendekatkan diri dengan keluarga. Apalagi bagi Anda yang baru saja memiliki anak atau usia anak masih kecil, maka kerja di rumah bisa membuat Anda punya lebih banyak waktu untuk memantau dan terlibat dan tumbuh kembang anak.

Dengan lebih banyaknya waktu dengan keluarga, waktu quality time jadi lebih banyak. Inilah yang umumnya tidak dimiliki pekerja kantoran.

Tetap Perhatikan Risikonya

Manfaat bekerja dari rumah di atas mungkin menggiurkan, ya? Namun, Anda juga perlu waspada karena bekerja dari rumah juga bisa menjadi bumerang. Pasalnya, profesionalisme bisa memudar, dan terkadang itu membuat Anda menjadi terlalu “terlena” dan menjadi tidak produktif.

Ketika di kantor, karena ada yang mengawasi, umumnya pegawai lebih bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat karena lebih fokus. Kalau di rumah, mungkin saja ada banyak gangguan, misalnya serial televisi yang sedang tayang, anak rewel dan menangis, atau hal lainnya yang dapat mengalihkan perhatian dari tugas yang mestinya dituntaskan. Produktivitas dan kualitas kerja pun bisa terganggu.

Kalau dari segi kesehatan, dr. Alvin Nursalim, SpPD, dari KlikDokter mengatakan bekerja di rumah dapat menimbulkan insomnia atau gangguan tidur lainnya. Kenapa? Rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat atau relaksasi kini beralih fungsi menjadi tempat kerja. Ujung-ujungnya, tubuh bisa kesulitan beradaptasi dan mulai menunjukkan tanda stres.

“Bekerja di rumah memungkinkan seseorang untuk bekerja hingga larut malam, bahkan terus begadang hingga pagi. Akibatnya, orang tersebut tidak memiliki batasan waktu yang jelas untuk beristirahat. Bila ini terjadi terus-menerus, tentu saja dapat mengancam kesehatan tubuh, baik fisik maupun psikis,” ungkap dr. Alvin.

Jadi, kerja dari rumah maupun di kantor sebetulnya memiliki keunggulan dan kerugiannya masing-masing, begitu pula preferensi seseorang. Hal terpenting adalah bagaimana mengatur performa dan profesionalitas dalam bekerja dan menyelesaikan tugas. Mana pun yang Anda pilih, pikirkan benar-benar untung ruginya, serta prioritaskan yang lebih menguntungkan kesehatan fisik dan mental Anda.

(RN/RPA)

2 Komentar

  • Dinda Tresna Mutiara

    nebhrvvufithcivtohbrovxgpopwkbrthbtotivj oh vogrirhihhuvfjrhhtgihivfjbiiehhokjiiiiuihihuoueohjigjiitjrj jv f jb t ih trbdbrbdjbbnn

  • bekerja dri rmh atau dri luar rmh .. manajemen komitmen nya ada pada diri pelaku nya semata, hrus tetap di bagi waktu nya : brp jam OR, brp.jam kerja, brp jam istirahat, brp jam ibadah, brp jam meal, dll ..hal terpenting adlaah pencapaian hasil dri proses yg di lalui... bila bisa di manaje keberhasilan akan mnjdi maksimal