Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Hati-Hati, 3 Kebiasaan Balita Ini Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental

Hati-Hati, 3 Kebiasaan Balita Ini Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental

Ada banyak kebiasaan ‘ajaib’ balita yang seringkali mereka tunjukkan. Tapi hati-hati, bisa jadi beberapa perilakunya merupakan tanda gangguan mental.

Masalah gangguan mental menjadi perhatian serius bagi banyak orang beberapa tahun belakangan. Sayangnya, belum ada yang menyadari tanda gangguan mental yang bisa terjadi pada balita. Hati-hati, ada beberapa kebiasaan balita yang menjadi tanda gangguan mental.

Balita dengan segala tingkah lakunya tak jarang suka membuat orang tua menjadi repot. Entah itu saat mereka menangis, rewel, atau ngambek. Pada dasarnya, itu terjadi karena mereka memang tidak bisa mengutarakan apa yang menjadi keresahan mereka.

Perilaku balita memang kerap tidak terduga. Orang tua pun kadang sampai kewalahan menghadapinya. Namun, Anda tetap harus jeli memerhatikan berbagai tanda bahwa mungkin mereka sebenarnya mengalami masalah serius dalam dirinya.

Tanda Gangguan Mental pada Balita

Nah, ini yang sering luput dari perhatian para orang tua. Nyatanya, tanda gangguan mental bisa muncul sejak masih balita. Dilansir dari Healthline, berikut beberapa tanda yang dimaksud.

Artikel Lainnya: Tantrum Frustasi atau Tantrum Manipulatif, Apa Bedanya?

  1. Tantrum

"Tantrum adalah reaksi khas pada balita. Mereka dapat menjadi sangat kewalahan dengan emosi besar sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan,” jelas Jennifer Daffon, seorang konselor kesehatan mental berlisensi yang memiliki Layanan Konseling Anak dan Keluarga di Everett, Washington, Amerika Serikat

Ia mengatakan, anak-anak kecil belum belajar bagaimana mengatur emosi mereka. Lalu, mereka sering tidak memiliki kosakata untuk mengekspresikan emosi-emosi itu. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk menunjukkannya lewat tindakan.

"Bendera peringatan lainnya adalah saat Anda memerhatikan anak mengalami banyak kemarahan sepanjang hari yang berlangsung beberapa menit. Ini bisa menjadi indikator untuk gangguan suasana hati yang mengganggu," kata Daffon.

  1. Pemilih Makanan atau Picky Eater

Menurut Melanie Potock, seorang ahli patologi bahasa anak dan spesialis makanan, anak pada usia tertentu pasti pernah mengalami fase pilih-pilih makanan.

“Dari usia 6-18 bulan, kebanyakan anak terbuka untuk mencoba makanan baru, selama orang tua terus menawarkan berbagai rasa dan tekstur. Ketika seorang anak mendekati usia dua tahun, wajar bagi mereka bila menjadi agak pilih-pilih," kata Melanie.

Di luar itu, picky eater tetap bisa menandakan adanya masalah mental. Namun, menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, perlu ditekankan bahwa tidak semua anak yang picky eater akan memiliki gangguan mental. Hanya saja, kemungkinan untuk mengalami gangguan mental lebih besar terjadi pada anak picky eater dibanding anak dengan pola makan normal.

Sebuah penelitian menemukan bahwa anak yang memiliki kebiasaan picky-eating akan lebih mudah mengalami gangguan mental. Contohnya depresi, kecemasan, dan kelainan psikiatri lainnya.

Penelitian tersebut juga menemukan, anak picky eater tingkat berat memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami depresi dibanding anak dengan pola makan normal.

Artikel Lainnya: Anak Picky Eater Rentan Alami Gangguan Mental

Anak-anak picky eater tingkat berat juga berisiko mengalami kecemasan 2,7 kali lebih tinggi. Namun, anak picky eater tingkat sedang juga lebih sering mengalami gejala depresi dan kecemasan, walaupun lebih jarang dibanding anak picky eater tingkat berat.

Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa anak picky eater tipe sedang memiliki risiko mengidap gangguan kelainan hiperaktif (ADHD).

  1. Masalah Tidur Malam Hari

Pertempuran dengan waktu tidur adalah hal yang biasa pada balita. Mencoba mencari kombinasi sempurna antara tidur siang dan tidur malam bisa menjadi tindakan penyeimbang yang selalu ingin Anda terapkan.

"Anak-anak mengalami sedikit rasa FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan hal menyenangkan ketika waktu tidur tiba. Dan hal itu normal," jelas Daffon.

Satu hal yang dapat membantu menurut Daffon adalah menyiapkan rutinitas tidur yang konsisten —yang mudah diterapkan dan tidak melibatkan terlalu banyak aturan. Namun, ada saatnya ketika masalah atau ‘pertempuran’ menjelang tidur mungkin merupakan tanda sesuatu yang lebih serius.

"Jika seorang anak menunjukkan kecemasan yang signifikan atau kekhawatiran tentang tidur, Anda sebaiknya perlu cari tahu lebih lanjut penyebabnya," kata Daffon.

Ia menyarankan agar tidak menghilangkan rasa takut yang mungkin dialami anak. Bagi mereka, ketakutan itu sangat nyata. Mencoba menyingkirkan rasa takut hanya dapat memperburuk rasa takut yang dirasakan anak. Akhirnya, anak-anak berpikir orang dewasa tidak mau membantu, mendengarkan, atau peduli soal ini.

Itulah tiga kebiasaan pada balita yang bisa menunjukkan tanda serius gangguan mental. Mulai sekarang, jangan sepelekan tanda-tanda di atas. Sebaiknya segera konsultasi dengan dokter jika tanda-tanda di atas sudah dalam tahap membahayakan.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar