Sukses

Rutin Minum Air Hangat Cegah Penyakit Akalasia?

Rutin minum air hangat disebut-sebut dapat mencegah penyakit akalasia. Bagaimanakah kebenarannya? Yuk, simak melalui artikel di bawah ini.

Anda yang tinggal di cuaca panas seperti Indonesia mungkin tak banyak yang punya kebiasaan minum air hangat. Lebih banyak yang suka minum air dingin untuk menyejukkan tubuh. Akan tetapi, minum air hangat rupanya punya banyak manfaat. Salah satunya mencegah penyakit akalasia. Tidak percaya? Cek Faktanya di sini.

1 dari 3 halaman

Akalasia, Apa Itu?

Akalasia adalah salah satu penyakit langka yang memengaruhi esofagus (kerongkongan). Penyakit ini mengganggu kemampuan Anda untuk mendorong makanan menuju lambung. 

Perlu Anda ketahui, di dalam kerongkongan ada yang namanya sfingter esofagus bagian bawah. Ini adalah otot berbentuk cincin yang memisahkan kerongkongan dan lambung. Pada orang normal, sfingter ini akan membuka saat makanan akan masuk ke lambung, tapi pada penderita akalasia, sfingter ini akan gagal membuka.

Kondisi ini akan bahaya jika dibiarkan dalam waktu lama. Alasannya, lambat laun, penderita akalasia akan mengalami peningkatan kesulitan makan dan minum. Hal ini tentunya menyebabkan penurunan berat badan hingga mengalami gizi buruk.

Artikel Lainnya: Kenali Tanda-tanda Masalah Pencernaan Akalasia

Penderita penyakit ini juga dapat mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru lebih mudah. Selain itu, risiko kanker esofagus juga meningkat hingga dapat menyebabkan kematian.

Tanda dan gejala akalasia muncul secara bertahap. Sebagian besar orang dengan penyakit ini mengalami ketidakmampuan dalam menelan sebagai gejala paling umum dan awal. Terkadang, nyeri dada ringan dapat hilang timbul, tapi sebagian individu dapat merasakan nyeri yang lebih intens.

Penyakit yang jarang ditemukan ini sering mengenai orang dewasa usia 25-60 tahun, meski anak-anak juga mungkin mengalami ini. Tidak memandang gender, akalasia terdapat pada pria maupun wanita dalam rasio yang sama, terkecuali pada kasus genetika. Pria diketahui berisiko hingga dua kali lipat dibandingkan wanita.

Biasanya, ada dua cara menangani akalasia, yakni dengan operasi dan nonoperasi. Terapi non-operasi dapat menggunakan suntikan botoks berkali-kali pada katup esofagus, untuk membuatnya relaksasi. Ada pula obat pelemas otot yang dapat dikonsumsi.

Meskipun dapat diatasi secara medis, rutinitas sehari-hari, seperti minum air hangat, rupanya dapat membantu mengurangi dan mencegah akalasia.

Artikel Lainnya: Kenali Akalasia, Gangguan Pencernaan yang Bikin Sering Muntah

2 dari 3 halaman

Rutinkan Minum Air Hangat

Hal tersebut termuat dalam jurnal Neurogastroenterology and Motility pada tahun 2012. Dalam jurnal tersebut, dijelaskan menelan air hangat dapat melegakan gejala pada kerongkongan pasien yang mengidap akalasia. Hal ini sudah pernah dilakukan uji coba pada tahun 1998.

Kala itu, penelitian dilakukan pada 48 pria dan wanita yang alami kesulitan menelan benda padat maupun cairan, nyeri dada, atau kembali naik makanan yang tertelan ke rongga mulut. Mereka diberikan air minum hangat secara rutin. 

Peneliti ingin melihat efek menelan air hangat terhadap gejala yang ditimbulkan di kerongkongan mereka. Dengan sebuah alat, 58% sukarelawan diketahui mengalami perbaikan gejala setelah rutin mengonsumsi air hangat. 

Selanjutnya, pada penelitian terbaru pada 2012, dilakukan uji coba pada 36 sukarelawan dengan akalasia. Setelah meminum air hangat, 88% dari sukarelawan merasakan nyeri dada mereda. 

Ternyata, menelan air hangat dapat menurunkan tekanan pada katup esofagus saat menelan sehingga mengurangi durasi kontraksinya. Penemuan ini menyimpulkan bahwa modifikasi gaya hidup dengan rutin minum air hangat berkontribusi positif untuk mengurangi gejala pada pengidap akalasia.

Hingga saat ini, belum ada yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akalasia.  Namun, pengidapnya dapat rutin mengonsumsi air hangat untuk mencegah derajat keparahan gejala akalasia pada kerongkongan. Jika Anda mengalami kesulitan menelan, terutama disertai dengan nyeri dada, segera konsultasikan kepada dokter.

[HNS/AYU]

1 Komentar

  • Rifan Ayahe-Rayya

    Terus terang, akalasia mulai akrab ditelingaku sejak 5 tahun terakhir....karena anakku dua2nya pengidap akalasia....tapi alhamdulillah sekarang sudah sembuh...