Sukses

Berbagai Kelainan pada Vagina yang Harus Diwaspadai

Vagina bisa mengalami kelainan akibat satu dan lain hal. Kenali berbagai kelainan vagina dan segera atasi sebelum terlanjur bertambah parah.

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu organ tubuh yang rentan mengalami kelainan adalah vagina. Organ intim wanita ini memiliki struktur yang unik, sehingga bisa mengalami iritasi, alergi atau infeksi yang memicu terjadinya kelainan vagina.

Meski nyatanya demikian, tidak sedikit wanita yang masih belum sepenuhnya paham mengenai kelainan pada vagina. Anda salah satunya? Coba cek sejumlah informasi berikut ini.

Mengenal Kelainan di Vagina

Beberapa kelainan vagina wanita yang mesti Anda ketahui, di antaranya sebagai berikut ini.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

  1. Kista Bartholin

Kelenjar bartholin adalah kelenjar berukuran sebesar kacang, yang terdapat di ‘pintu masuk’ vagina. Dalam kondisi normal, kelenjar ini tidak akan teraba. Namun bila terjadi sumbatan, dapat timbul penumpukan cairan sehingga terbentuk benjolan di sekitar bibir vagina. Kondisi ini disebut kista bartholin.

Apabila tidak terinfeksi, kista bartholin tidak akan menimbulkan gejala apapun. Banyak wanita menemukan kista ini secara tidak sengaja saat mandi atau saat memeriksakan diri ke dokter. Dalam kasus ini, pengobatan tidak diperlukan.

Ketika kista bartholin terkena infeksi, gejala yang akan timbul adalah demam, nyeri, bengkak, kemerahan, dan keluar nanah berwarna kuning atau hijau di daerah benjolan. Kondisi ini disebut dengan abses bartholin.

Bila terjadi abses bartholin, Anda mesti segera berobat ke dokter. Dengan ini, dokter akan memberikan obat anti-nyeri dan melakukan prosedur memasukkan selang kateter (word catheter) ke dalam kista untuk mengeluarkan cairan di dalamnya.

Artikel Lainnya: Ini Ciri-ciri Vagina yang Sehat

  1. Kista Gartner

Struktur lain yang terdapat dalam vagina adalah duktus gartner, yaitu organ yang terbentuk pada perkembangan janin selama kehamilan dan mengalami degradasi setelah kelahiran.

Dalam beberapa kondisi, kelenjar tersebut menetap dan bisa mengalami penumpukan cairan yang membentuk kista. Kondisi ini dikenal dengan sebutan kista gartner.

Serupa dengan kista bartholin, kista gartner baru akan menimbulkan gejala bila ukurannya cukup besar. Gejalanya adalah nyeri saat buang air kecil, gatal dan sakit saat berhubungan seks. Untuk mengatasinya, cairan dalam kista harus dikeluarkan.

  1. Infeksi Jamur

Vagina dapat mengalami infeksi jamur. Penyebab paling sering adalah jamur Candida sp sehingga medis menyebutnya dengan istilah kandidiasis vaginalis.

Infeksi jamur di vagina dapat terjadi pada tiap wanita. Tetapi, kondisi ini lebih sering terjadi pada ibu hamil dan ibu dengan penyakit kencing manis (diabetes) atau HIV/AIDS.

Gejala kandidiasis vaginalis adalah keputihan berwarna putih seperti susu, bergumpal, tidak berbau, diikuti nyeri saat buang air kecil dan rasa gatal yang cukup hebat. Untuk mengatasinya, dokter akan memberikan antijamur di dalam vagina (intravagina) maupun oral (diminum).

Artikel Lainnya: 10 Fakta Menarik tentang Vagina

2 dari 3 halaman

Selanjutnya(2)

  1. Infeksi Bakteri

Wanita dapat mengalami gangguan vagina akibat infeksi bakteri. Jenis bakteri yang paling sering menjadi penyebabnya adalah Gardnerella vaginalis, dan penyakitnya disebut dengan vaginosis bakterialis.

Bakteri tersebut dapat tumbuh akibat penurunan kadar flora normal dalam vagina akibat tindakan douching maupun hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan.

Gejala umum dari bakterial vaginosis adalah keputihan dengan warna keabuan, berbau amis, dan nyeri saat melakukan hubungan seksual. Umumnya, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap cairan keputihan tersebut. Bila terbukti ada bakteri, pasien dianjurkan untuk mengonsumsi antibiotik.

  1. Infeksi Parasit

Kelainan pada vagina wanita juga bisa terjadi akibat infeksi parasit. Jenis parasit yang sering bersarang di vagina adalah Trichomonas vaginalis, sehingga penyakitnya disebut trikomoniasis. Parasit yang memiliki cambuk (flagel) ini ditularkan akibat hubungan seksual berisiko.

Gejala dari infeksi trikomoniasis adalah keputihan berwarna kuning atau kehijauan, berbusa, dan berbau tak sedap hingga bau busuk. Selain itu, vagina dan serviks (leher rahim) pasien juga akan tampak kemerahan menyerupai buah stroberi.

Medis menyebut kondisi ini dengan istilah strawberry cervix. Pasien akan mengalami nyeri saat melakukan hubungan seksual dan keluar darah setelahnya. Bila infeksi ini terjadi saat hamil, dapat menimbulkan berbagai komplikasi seperti ketuban pecah dini, kelahiran prematur, dan bayi berat lahir rendah (BBLR).

Kelainan vagina adalah suatu hal yang harus diwaspadai oleh setiap wanita. Kenali gejala maupun ciri-cirinya, dan jangan pernah sungkan untuk segera berobat ke dokter apabila mengalaminya. Semakin dini dideteksi dan diobati, kemungkinan sembuh akan semakin tinggi.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar